Minggu, 02 Oktober 2016

Marsha - Part VII

Marsha sudah berhasil keluar dari ruangan itu, tinggal satu pintu lagi dan ia bisa mendorong lelaki bringas itu dan mengurungnya dari luar.
            Mata marsha tak lepas dari fokus mencari titik lengah Pak Chandra.
            “Marsha” langakah kakinya berhenti.
            “i-i-iya pak”
            “Apa kamu yakin akan ke rumah saya? Kau tidak berbohongkan?”
            Marsha terdiam. Ia tidak bisa menunggu. Gadis itu pun mendorong kuat lelaki bringas itu dan berlari menuju pintu luar yang menjadi jalan satu-satunya.
            Tapi Marsha kurang cepat. Lelaki itu memegang kakinya dan ia pun terjatuh. Lelaki itu menggenggam erat kaki Marsha dan menariknya. Dan melepas jilbab biru tua Marsha. Perlahan ia sudah akan merobek baju Marsha. Kebuasannya semakin menjadi. Marsha hanya bisa menangis. Suaranya sudah serak. Dunia terasa gelap. Ia sudah kehabisan tenaga.
            Brruukkkk!!!. Pintu ruangan itu terhempas kuat dan terlempar hingga mengenai lelaki itu. lagi-lagi Marsha selamat. Tapi rambutnya terurai.
            “Marshaaaa….”
            Dengan keadaan lemah, Marsha berusaha menoleh.
            “Far-han” ia tersenyum dalam hati ia membatin ‘Farhan kau terlambat’.
            Farhan dengan sigap membawa Marsha keluar ruangan dan membuka jaket dan memakaikannya ke kepala Marsha untuk menutupi rambutnya.
            Tanpa ampun Farhan menghajar habis-habisan lelaki bringas itu. Dunia perlahan-lahan terasa gelap bagi Marsha.
            “Farhan, lagi-lagi dia datang seperti superhero, keren sekali tadi” Batin Marsha dan ia pun jatuh terkulai.
***
            “Farhan baik-baik aja kok, cuman kakinya masih sakit belum bisa diajak jalan dulu, jadi main-mainnya setelah Farhan sembuh ya Marsha” Marsha kecil dengan wajah sedih harus menerima asalan Mama Farhan.
            “Kalau begitu salam buat Farhan, dan ini buat dia semoga lekas sembuh”
            “Waah, ini syal, Marsha yang buat?” Marsha mengangguk “makasih ya”
Farhan mengintip dari balik jendela, kesedihan juga tergambar dari wajahnya.
“Kalau mau ketemu sama Marsha, kenapa menolak begitu” Papa menangkap basah Farhan.
“Si-siapa juga yang mau ketemu dia, si cengeng” Farhan jadi salah tingkah.
“Marsha mencemaskanmu, tapi kamu malah dingin dengannya, kamu marah ya? Gara-gara nolongin dia dan sok jagoan gitu malah buat kamu jadi sakit begitu”
“Farhan gak marah kok Pa!”
“Terus? Kenapa dong?”
“Farhan malu Pa, gak punya kekuatan seperti super hero, Farhan malu sama Marsha, seharusnya Farhan punya ilmu agar bisa membuat mereka lebih merasakan sakit, tapi Farhan cuman gantikan posisi Marsha yang dipukulin, itu sama sekali gak bisa nolongin Marsha”
“Siapa bilang, kamu sudah superhero, keberanian kamu yang luar biasa itu adalah kekuatanmu.”
“Papa bilang gitu untuk nyenangin hati doang”
“Ya jelas dong, masa nyakitin. Gini aja, kamu yakin mau punya ilmu? Biar jadi superheronya Papa,Mama,Marsha dan teman-temanmu lainnya?
“Mau pa”Farhan mengangguk semangat.
“Bagus, kalau begitu kamu harus cepat sembuh..okey”
“ngomong soal sembuh, ini untuk kamu dari Marsha” Mama baru saja masuk ke rumah setelah Marsha pamitan pulang “Kamu harus temui dia, dia khawatir banget”
Farhan membuka kotak merah itu. sebuah syal biru-rajutan tangan sendiri. Ia langsung menggunakan syal itu dan melihat keluar jendela. Masih ada Marsha disana yang melangkah pergi.
“Terimakasih Marsha, setelah ini aku pasti akan lebih kuat lagi”.
Kejadian yang dialami Farhan 3 hari setelah kejadian segerombolan anak badung yang menghadang jalan Farhan dan Marsha yang sedang asyik bermain sepeda. Tak menerima atas hal itu beberapa dari mereka menganggu Marsha yang baru saja pulang sekolah. Kebetulan hari itu Marsha dan Farhan tidak pulang bersama karena Farhan ada latihan sepakbola. Tapi, ada hal yang mengganjil dihati Farhan ia pun berlari mengejar Marsha dan betapa terkejutnya melihat anak-anak badung itu menjambak-jambak rambut Marsha dan tertawa senang. Alhasil dengan penuh emosi Farhan berlari dan berusaha menyelamatkan Marsha. Dengan badan kecil dan kekuatan anak kecil tak menolong sama sekali , malah ia yang terluka. Setidaknya Marsha tidak diganggu lagi.
Marsha masih merasa bersalah pada Farhan. Ditambah lagi Temannya itu tak ingin bertemu dengannya. Selama seminggu Farhan libur sekolah. Dan selama itu Marsha masih belum punya kesempatan untuk bicara dengan Farhan. Farhan seperti menghindar darinya. Marsha hanya bisa diam. Ia berharap Farhan agar kembali berteman dengannya. Namun kesempatan itu tidak ada. Hitungan hari, minggu berganti menjadi bulan. Marsha lebih banyak menghabiskan waktu bermainnya di rumah. Ia jarang main diluar. Ayah dan Mama juga melarang karena khawatir anak-anak badung itu akan muncul lagi dan menyerang.
Beberapa kali kesempatan Marsha sempat melihat Farhan belajar bela diri ditaman bersama dengan Ayahnya. Marsha ingin sekali menyapa, tapi lagi-lagi ia mengurungkan niat itu.
Hingga suatu hari.
“Undangan?”
“Iya, Keluarga Farhan mengajak kita sekeluarga hadir disana?”
“Farhan ikut lomba Taekwondo, kamu mau ikutkan Marsha?”
Marsha tampak ragu.
“Tadi, Farhan sendiri yang langsung bilang, jangan lupa ajak kamu juga”
Marsha hanya diam.
“Ayah sama Marsha saja yang pergi, Nadine masi rewel-rewelnya”
“Ya,udah”
Tibalah hari perlombaan. Babak final. Marsha, Ayah, Mama dan Papa Farhan duduk berdekatan menyaksikan Farhan tanding.
Perlombaan berlangsung alot. Saingan Farhan tidak bisa diremehkan. Beberapa kali Farhan hampir menerima pukulan mati. Marsha yang menyaksikan ikut tegang dan berharap Farhan menang.
“Ya Allah, berikanlah kemenangan buat Farhan” Batin Marsha.
Setelah melalui pertandingan yang sengit. Akhirnya Farhan menjadi juara 1 tingkat kota. Teman-teman satu sekolah juga hadir dan berlari mengucapkan selamat untuk Farhan, merekapun mengangkat badan Farhan, ia tersenyum lepas. Marsha yang duduk dibangku penonton ikut terharu melihat kemenangan Farhan. Farhan melihat Marsha yang terenyum bahagia. Marsha mengacungkan dua jempol pada Farhan saat mata mereka bertemu. Farhan tersnyum bahagia.
Semenjak hari itu mereka berdua kembali bermain bersama. Dan tidak beberapa lama kemudian Farhan harus pindah.
***

Bersambung Part VIII ~ Terbit Senin/Kamis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar