Minggu, 29 Januari 2017

Janji di Langit Senja Part III

Janji di Langit senja

By: IsyaRayLe

Support Puisi by: Lara Aprilia wina

Pagi itu paman Rafi datang, Saudara jauh dari Abah yang telah berperan besar dalam membantu Nia mendapat S2.
“Jadi, kamu sudah memantapkan jawabanmu?”
“InsyaAllah,Paman”
“Sudah baca kontraknya?”
Nia terdiam sejenak. “Sudah,Paman”
“Baiklah, kalau begitu besok kita berangkat ke Jakarta, mengurus segala keperluanmu ke Turki”
“Baik, Paman”
Abah tiba-tiba penasaran dengan ekpresi wajah anak gadisnya yang sudah berumur 23 Tahun itu.
“Memangnya isi kontraknya apa?”
“Banyak, Bang” jawab Paman Rafi “salah satunya Nia tidak boleh menikah sampai study-nya selesai”
Abah tertegun mendengar hal itu dan menoleh ke wajah anaknya.
Nia tersenyum simpul. Senyum mengartikan bahwa ia akan baik-baik saja.
Melihat senyum itu Abahnya menghela nafas panjang.
“Selama di sana ku titip anak gadisku satu-satunya ya Rafi, tolong bombing dia”
“InsyaAllah bang, Tenang saja, abang bisa mempercayaiku”.

Sorenya ketika Paman Rafi pamit, Nia bergegas mem-packing barang-barang yang diperlukan, semua benda-benda kesanyangannya, boneka imut Pikachunya juga tidak mau ketinggalan. Semua keperluannya seperti, koper, baju, keperluan pribadi sudah ia siapkan jauh-jauh hari, dan sore ini hanya melengkapi mana saja yang kurang. Ketika tengah sibuk dengan aktivitasnya, ia mendengar sayup-sayup suara tamu yang datang ke rumahnya. Suara beberapa laki-laki dan Ibu Nia terdengar menyambut hangat mereka.
“Salim? Akhirnya kamu datang lagi, kemarin ibu sempat nanya kamu sudah ketemu dengan Nia apa belum?”
Demi mendengar percakapan yang terdengar sayup-sayup itu Nia mengehentikan kegiatannya dan mengarahkan kupinya ke pintu kamarnya.
Tiba-tiba saja ibu membuka pintu kamar saat Nia sedang asyik berdiri dalam posisi orang yang menguping.
“Nia?” lihat ibu heran.
“Eh..ibu” Nia hanya senyum cengengesan.
“Salim datang tuh, kamu sambut sana, ibu siapkan the buat mereka, kamu yang antar ya?”
Rasanya jantung Nia belum siap bertemu Salim. Ia langsung sibuk dengan kegiatan barunya, memikirkan bagaimana cara memulai untuk menyapanya setelah 5 tahun bersih tidak pernah bertemu dan kontak dengannya.
“Jangan bengong, ayo cepat ke dapur sama Ibu”
“Ibu sendiri aja deh, Nia masih ada kerjaan”
“Kamu barusan nolak nih?”
Nia akhirnya menyerah.
 Ia sudah bersiap membawa nampan yang berisi tiga cangkir dan sepiring berisi cemilan khas kampungnya. Ia berjalan perlahan dan sudah sampai di ruang tamu. Sejenak pembicaraan mereka sempat terhenti ketika Nia berlutut meletakkan nampan diatas meja dan menghidangkan teh masing-masing untuk tamu dan Abahnya.
“Nah ini Nia,kamu masih ingat?” Kata Abah ketika Nia sudah hampir siap menghidangkan dan ingin berdiri secepat mungkin kembali ke dapur.
“Tentu saja ingat, Pak. Dia masih belum berubah, masih saja tetap mungil”
Nia yang masih belum berani menoleh terlihat kesal sekali dibilang mungil walau kenyataannya begitu.
Salim masih belum berubah sepertinya, pikir Nia. Ia masih ingat bagaiamana Salim dulu, dekil dengan rambut ikalnya yang lebat dengn alis matanya yang banyak dipuja wanita di SMA dulu, walau itu hanya terlihat biasa bagi Nia.
Nia pun mulai berdiri dan memberi salam.
“Assalamu’alaikum, Salim, sudah lama tidak bertemu, apa kabar? Kamu masih jail seperti dulu ya, dan juga-“ hampir saja Nia mengatakan dekil ketika ia meihat dengan sangat jelas, bahwa Salim yang dulu dan sekarang jauh berbeda, ia sangat putih dengan rambut poninya dan gaya kemeja biru toscanya menambah kontras antara warna baju dan kulitnya. Nia hampir-hampir tidak percaya, ia lalu melihat orang disebelahnya mungkin saja dia salah seorang, ia lalu memperhatikan orang itu sungguh jauh berbeda, ia botak dan berbadan besar.
Seorang itu pun menyadari Nia yang mungkin mengira dia adalah Salim, temannya. Ia pun buru-buru menunjuk-nunjuk sambil mengatakan ‘ini salim’.
“dan juga?” buru Laki-laki berkulit putih itu.
“Dan juga berubah”
Nia salah tingkah. Ia pun permisi kembali ke dapur sambil membawa lari nampan.
Sesampai di dapur ia mengambil nafas panjang, sepertinya ia dari tadi berhenti bernafas.
“Kamu sesak begitu, ini minum air putih dulu” ibu menyodorkan Nia segelas air “pelan-pelan saja jangan buru-buru”
“Ibu lihat perbedaan Salim dulu dengan Salim yang sekarang tidak?”
“Iya, ibu melihatnya dengan jelas”
“Dia itu dulu dekil, rambut ikal dengan alisnya beriring. Sekarang, dia beda banget,buuuu..”
“Astaghfirullah,Nia, jangan ngehina begitu”
“Bukan menghina ibu, Nia cuman bicara fakta. Atau jangan-jangan di bukan Salim yang asli”
“Bagaimana bisa? Sekalipun ia sekarang sudah jadi cowker-“
“Cowker?” Nia mengerinyitkan dahinya.
“Cowok keren, kayak yang di tv itu. dia juga masih tetap sama seperti Salim yang dulu”
“Iya, jailnya yang selalu mengejekku”
Ibu cuman menahan ketawa.
“Nia” tiba-tiba Ayah sudah berada didapur dan mendekati putrinya.
“Ya, Ayah”
“Salim ingin mengajakmu keluar sebentar sambil gowes sepeda”
“gowes sepeda? Tapi ini kan sudah sore, Yah”
“Justru itu dia ingin mengajakmu keluar, ditemani juga sama Bang ipul, jadi kalian bertiga”
Nia menoleh ke Ibu, ibu mengangguk setuju.
Tidak banyak kata-kata yang keluar dari mereka berdua. Salim yang tadinya sudah mulai jail mengejek Nia mungil, saat itu lebih banyak diam.
Bang ipul yang ikut mengayuh sepeda memperhatikan mereka berdua dari belakang yang hanya diam saja. Ia pun berpikir sejenak dan setelah itu mengayuh sepedanya kencang dan berusaha sejajar dengan Salim.
“Salim, Abang pulang duluan ya, kalian bicara saja berdua, pasti ada yang kamu sampaikan, kan? Ada abang buat kamu jadi segan”
“Gak kok bang,santai aja”
“Abang puluan saja, maimunah nanti cemas nungguin, oke” Bang ipul pun mengayuh sepeda dengan kencang meningglkan Salim dan Nia di perjalanan itu.
Jarak mereka cukup jauh. Nia sengaja memperlambat kayuh sepedanya.
Tiba-tiba saja Salim berhenti dan menatap takjub langit senja waktu itu. Nia mengetahui hal itu saat ia juga ikut berhenti dan menoleh ke arah Salim memandang.
Benar-benar lukisan alam yang indah, sungguh Maha Besar Allah menghadirkan pesona nan ngarai ini.
“Begitu indah lukisan alam yang terhampar diujung senja, pancaran keemasan yang menambah pesona ngarai, terkagum-kagum mata memandang, terasa kelu lidah merangkai puji, tak tertanding walau lautan menjadi tinta dan pepohanan menjadi pena untuk melukiskan rasa syukur pesona jingga mega-mega”
Nia terdiam mendengar kata-kata yang diucapnya. Kata-kata itu selalu ia ucapkan jika memandang langit senja diwaktu-waktu itu. puisi pendek itu juga pernah ia bacakan dihadapan puluhan teman satu kelasnya, namun mereka menertawakan puisinya yang tidak begitu menarik, terlalu sederhana dan biasa. Namun tidak bagi, Salim. Walau terlihat tidak peduli dengan puisi itu Salim ternyata masih hafal dengan kalimat itu yang mungkin Nia sendiri malah tidak begitu ingat.
Matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Salim masih mengingatnya.
“Aku masih saja ingat puisi aneh itu tiap memandang senja”
Hati nia terasa hancur berkeping-keping. Seketika matanya yang berkaca-kaca menjadi kering.
“Aku sering bertanya-tanya kenapa aku masih saja ingat, setelah lima tahun tidak pernah bertemu denganmu lagi dan tidak kontak sama sekali, tapi aku masih ingat tentangmu dan tentunya puisi aneh itu”
Nia sudah benar-benar kesal, dan ia semakin yakin walau laki-laki itu sudah banyak berubah dari segi penampilah, namun dari tingkah laku dan perangai sangat sulit untuk diubah.
“Sama, kamu masih saja meledek puisiku”
“Aku tidak meledek puisimu, aku hanya mengatakan aneh, kamu saja yang tidak peduli bahwa ternyata aku juga suka dengan puisi”
Nia menatap tidak percaya.
“Aku dengar kamu akan ke Turki”
“Ya, insyaAllah, besok aku akan berangkat ke Jakarta mengurus semua keperluan di Turki nanti. Oh ya, aku dengar sudah sebulan kamu disini, kenapa..kamu..-“ Nia sedikit ragu untuk menanyakan kenapa Salim baru menemuinya sekarang.
“Aku ada banyak urusan, dan juga aku akan pergi besok”
“Benarkah? Kemana?”
“Ketempat yang jauh”
“Jawabannya tidak spesifik”
“Kamu masih ingat?” Tiba-tiba Salim mengganti topik pembicaraan “Jika melihat pemandangan sore ini ingat akan langit senja waktu itu?”
Nia tertegun.
Salim menatapnya dengan senyum jail dan kembali memandang langit yang mulai semakin menjingga.
“Aku masih mengingatnya dan menyimpannya disini” Salim menunjuk hatinya.
“Aku-aku ingat, tapi itu sudah lama sekali”
“Ya jelas , tapi aku masih merasa itu belum lama sekali, aku benar-benar kesal, apa karena kejadian itu kamu bahkan tidak menghubungiku dan tidak mau bertemu denganku-“
“Siapa yang tidak mau bertemu denganmu?”
“Setelah lulus dri SMA, tiap tahun aku selalu kesini, tapi tidak pernah sekalipun bertemu denganmu, aku juga menghubungimu tapi tidak pernah kamu angkat, apa kamu begitu membenciku?”
“A-aku tidak membencimu sama sekali, aku memang sudah jarang pulang kampung, dan masalah telpon aku tidak begitu memperhatikan, aku juga tidak tahu kalau itu nomor kamu, setidaknya kamu memberitahuku dengan sms atau hal lainnya-“
“Sudahlah, tidak perlu diributkan” jawab Salim dengan tenang.
Nia benar-benar kesal dan tidak habis pikir, siapa yang duluan meributkan tentang telpon dengan tenangnya mengatakan tidak perlu diributkan.
“Semoga kamu sukses dengan S2 mu“
“Semoga kamu juga sukses, walau aku tidak tahu dimana ‘tempat yang jauh’ kamu maksudkan itu”
Salim tertawa lepas mendengar perkataan Nia.
“aku ingin pulang sudah semakin sore”
“Tunggu dulu, masih ada hal yang ingin kukatakan, ini pertemuan kita terakhir dan tidak tahu kapan akan bertemu lagi”
“Apakah sepenting itu? sampai harus mengatakannya sekarang”
“Penting, dengarkan baik-baik. Jika setelah ini kita bertemu lagi dibawah langit senja seperti ini,” Salim terdiam cukup lama untuk melanjutkan kalimat berikutnya”Aku akan melamarmu” sambil tersenyum memandang Nia.
Nia tertegun mendengar kalimat Salim barusan. Gadis berjilbab biru itu terdiam. ia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
“Tentu saja jika kamu masih belum menikah dan sedang tidak dikhitbah” Kata Salim dengan tenang.
“Kamu,kamu serius? Kamu bercanda kan”
“Untuk apa aku bercanda mengatakannya, sekalipun itu terdengar canda hal itu tentu perkara serius”
Nia hanya terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa.
“Sebaiknya kita harus segera pulang, senja semakin dipenghujung” Salim memutar pedal sepeda dan mengayuhnya perlahan, ia masih ingin merasakan udara sejuk sore itu.

Bersambung...
Part IV

Minggu, 22 Januari 2017

Janji di langit Senja Part II


Janji di Langit senja

By: IsyaRayLe

Support Puisi by: Lara Aprilia wina

“Kamu sudah ketemu Salim belum?” tanya ibu Nia saat makan malam bersama.
Nia yang sedang asyik makan tiba-tiba terbatuk mendengar nama itu keluar dari mulut ibunya.
“Kenapa ibu tiba-tiba nanya gitu?”
Ibu Nia sangat terkejut mendengar respon dari Nia yang sepertinya tidak tahu apa-apa.
“Jadi kamu belum ketemu dengan dia? Padahal sudah hampir sebulan lho dia disini, terakhir dia ke rumah kita dua hari yang lalu”
“Jam berapa?”
“kalao gak salah sore”
Nia ingat sore itu dia ada urusan di panti dekat rumah balai desa, sebagai narasumber untuk memotivasi anak-anak disana.
“kok, ibu gak kasih tahu Nia?”
“Astaghfirullah ibu lupa Ni, makanya ibu tanya kamu ada ketemua dia apa belum?”
“Belum ada sih buk,”
Nia berpikir sejenak. Kenapa ia tadi tiba-tiba teringat si “Neighbor” ketika melihat senja dan sekarang ibu membahas tentang Salim.
Neighbor dan Salim adalah orang yang sama. Neighbor ada julukan yang diberikan oleh si gadis bertubuh mungil itu pada Salim. Neighbor seperti yang sudah diketahui adalah bahasa inggris yang artinya “Tetangga”. Hubungan Nia dan Salim yang sangat akrab terkadang disalah artikan bahwa mereka berpacaran, padahal mereka hanya berteman dan hal itu didukung karena mereka berdua bertetangga, maka dari itu jika ada yang menanyakan siapa Salim bagi Nia, maka gadis itu akan menjawab dia adalah  “My Neighbor”. Julukan itu tidak selalu dia sebut, hanya sesekali jika dia sedang kesal dengan Salim si teman jailnya itu. Begitu juga dengan Salim ia hanya menganggap Nia sebagai temannya, itu yang sering dia katakana jika teman-temannya mulai meledek antara dia dan Nia.
“Kamu sudah bertemu dengan Salim?” tanya seorang ibu paruh baya yang menjadi langganan Nia di pasar jika berbelanja bumbu-bumbu masakan pada keesokan harinya.
“Salim?” Nia benar-benar terkejut mendengar nama itu disebut lagi. Kali ini ada apa gerangan, apa ibu ini juga bertemu dengan salim.
“Iya salim, kemarin Guntur cerita dia bertemu dengan Salim dibalai desa, dan dia ada rencana ingin bertemu denganmu tapi masih belum ada waktu”
Apa begitu susahnya bertemu denganku? Padahal rumahku tetap seperti yang dulu, tidak berpindah tempat. Batin Nia.
“Apa kamu sudah bertemu dengannya?” tanya ibu paruh baya itu sekali lagi sambil menyerahkan barang belanjaannya.
“Belum. Berapa semua bu?”
“tiga puluh ribu” Nia menyerahkan duit lima puluh ribu.
“Apa Guntur ada cerita lagi tentang Salim,bu?”
“Hanya itu saja ceritanya, kembaliannya dua puluh ribu”
“Makasih bu,”
“Sama-sama, semoga kamu bisa bertemu dengan Salim lagi”
Nia hanya tersenyum kaku dan pamit pulang.
Malamnya ia mulai lanjut menyelesaikan tulisan rubriknya yang dua hari lagi deadline. Ditengah-tengah keheningan suara malam itu, tiba-tiba saja ibu mengetuk pintu kamarnya.
“Masuk bu, gak dikunci” jawab Nia sambil terus mengetik.
“Apa ibu menganggu?” Tanya ibu yang sudah duduk dibibir tempat tidur anak gadisnya. Nia seketika menghentikan tulisannya sambil melepas kacamatanya dan meletakkannya dimeja. Ia memutar kursi hingga badannya menghadap ibunya.
“enggak kok, ada apa ibu?”
“mengenai S2 mu, apa kamu sudah memberi jawaban?”
“Nia akan memberi jawabannya besok kalau paman sudah ada disini”
“Tapi kamu sendiri sudah punya jawabannya,kan?”
Nia mengangguk pelan.
“sudah bu, sebenarnya Nia memang sangat ingin mendapatkan S2, dan ini juga bukan proses yang mudah dan sebentar, setelah mengikuti berbagai tes dan ujian,  Nia gak mungkin melepasnya begitu saja, dan juga paman berperan besar dalam hal ini, kalau bukan karena paman mungkin saja orang lain yang dapat, tapi jika ibu ingin Nia te-“
“Tidak, ibu tidak apa-apa, Abahmu juga sudah menyerahkan keputusan sepenuhnya padamu, ibu datang  kesini hanya ingin memastikan bahwa kamu mengambil S2-nya, jangan jadikan beban Ibu atau Abahmu dalam menghalangi karirmu”
“Tapi, Nia baru saja beberapa bulan bersama dengan Ibu dan Abah lagi, untuk berpisah lebih lama lagi dan bahkan sangat jauh dari Indonesia membuat Nia harus matang-matang memikirkannya,”
“Teruslah, raih impianmu” ibu membelai rambut hitam lebat anak gadis satu-satunya itu. Nia membalas dengan pelukan hangatnya.
“Nia selalu merindukan bau harum ibu”
“Ih, ibu bau tau…tadi abis ngupas bawang”
“Gak apa-apa, bau bawang harum”

Bersambung...
Part III

Janji di Langit Senja Part I

Bismillah.
Janji di Langit senja

By: IsyaRayLe

Support Puisi by: Lara Aprilia wina

Nia merapikan meja kerjanya setelah sekian jam ia berkutik dengan laptop dan beberapa berkas penting. Ia menggeliat merasakan pegal badan setelah lama duduk. Ia pun beranjak dari kursi panasnya dan berjalan ke arah jendela kamar, merasakan bau basah karena hujan seharian. Sore itu hujan sudah berhenti, ia bisa melihat langit lebih terang. Dengan warna keemasan dan jingga langit itu, Nia tersenyum takjub. Ia sangat suka melihat panorama langit senja. Jika berbicara tentang langit senja ada banyak hal yang teringat olehnya, salah satunya tentang si “Neighbor” 5 tahun lalu.
Saat itu Nia sedang dalam perjalanan pulang sekolah. Ia mengayuh sepedanya dengan kencang, tidak ingin keduluan oleh teman jailnya itu. akan tetapi, ia tiba-tiba saja menghentikan kayuh sepedanya, ia menurunkan kedua kakinya.
“Kenapa berhenti” tanya teman jailnya yang sudah ngos-ngosan mengejar Nia.
“Lihat, indah bukan?”
“Owh..iya indah”
“Begitu indah lukisan alam yang terhampar diujung senja, pancaran keemasan yang menambah pesona ngarai, ter-“
“Yaahh…puisi lagi”
“memang kenapa?” Nia mendadak kesal dengan komentar teman jailnya itu “iyaalah yang gak suka puisi-“
“Siapa bilang? Aku suka kok?”
“Trus? Kenapa komentarnya begitu?”
“ini sudah senja Nia, itu artinya kita sudah harus segera pulang, nanti keburu malam lagian kamu bakalan diomelin sama Abah kamu, kalau kamu berpuisi dulu makin lama kamu pulang, udah ah…aku duluan ya… sayonara” laki-laki itu pun sudah mengayuh sepedanya dengan cepat, meninggalkan Nia yang mulai panik.
“Tunggu aku neighbor” teriak Nia yang sudah mulai mengayuh sepeda.

“Aku bukan neighbooorr” teriak laki-laki itu sambil melambaikan tangannya pada gadis berjilbab putih berseragam putih abu-abu itu.

Bersambung

Part II

Senin, 14 November 2016

Hiatus Cerpen Bersambung "Marsha"

Assalamu'alaikum wrwb.
Para pembaca Karya isyarayle (kriikk..kriikk..kriik..kok sepi?) Sebelumnya sebagai Author "Marsha" mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan kelanjutan Part VIII -nya, dikarenakan (alasan lagi..alasan lagi) beberapa minggu lalu baru saja selesai UAS. Saat ini masih sibuk dengan kegiatan molor (engga juga sih..bercanda, tapi ini fakta juga) kerja dan sedang menikmati detektif favorite saya berlaga (siapa hayooo
..) di novel dan di film (walau telat heboh nontonnya). Nah, sekarang sedang mencoba menumbuhkan mood dan mencari inspirasi untuk segera menyelesaikannya.
Mohon doa dari pembaca semua.
Terimakasih atas perhatiannya (formal banget..)
Sampai jumpa di Part selanjutnya.
bye..bye.
Wasalam.

Author~Isyarayle

Rabu, 26 Oktober 2016

Dibalik Nama "RayLe"

RayLe. Bukanlah nama ala kebarat-baratan. Ini asli timur -Indonesia. Nama dari keturunan ranah minang,Tiku, Pariaman, Sumatra Barat.

Beberapa tahun lalu ketika aku memulai nama itu menjadi nama tambahan dibelakang "Melisa". Memang kelihatan tidak bersyukur (ini salah satu penyakitnya). Pada sebuah akun media sosial, jika membuat nama profil harus terdiri dari dua kata. Nah nama ane cuman satu kata - 6 huruf. Awalnya pakai tambahan "Melisa duank", cuman bertahan beberapa bulan saja, kurang keren, ganti dengan "Melisa Ajja". Cuman bertahan beberapa bulan juga, kurang mantap dan sedikit pasaran untuk "Ajja"-nya. Oke , ingin diganti tapi bingung harus dengan nama apa. Sesuatu yang unik, bagus, melekat dan bisa diketahui orang langsung kalau itu pasti akun ane. Secara yang namanya Melisa buaannnyyaaak(Ya itu jelas). Jadi mulai berfikir keras.
Ane lalu mensurvei beberapa nama orangnya yang nama belakangnya beragam. Dan ane mulai tertarik pada nama yang menggunakan nama belakang adalah nama dari Ayahnya atau gabungan dari kedua nama orang tuanya (sudah bisa ketebak dong ya oleh kamu, sang pembaca). Yup, dari situ ane mulai mendapat ide, Nama gabungan dari kedua orangtua.
nama Bapak ane ****** dan nama mamak ane ****, jadilah RayLe. Awalnya terdengar asing, tapi saat itu saya belum merubah nama profil ane di akun tersebut. Ane ceritakan niat ane mau merubah nama profil (nama profil lho, bukan nama akte lahir -,-). Dan alhasil, kaka ane yang jahil membajak akun ane dan mengubahnya. Walau agak kesal karena tidak bilang dulu, tapi ya sudah.
Jadilah nama akun ane hingga saat ini selalu ada "RayLe" nya hingga orang-orang manggil RayLe padahal itu nama Bokap nyokap (ce i le gaya), dan jika orang melihat naama itu, mereka langsung tahu kalau itu ane.

Terimakasih.
Sudah menyempatkan baca(Walau tidak begitu penasaran dengan judul artikelnya)
Buat yang penasaran semoga terjawab dan tak menghantui -Hihihihihi (-,- serem)
Sanpai jumpa di artikel berikutnya.
Kalau kau suka. Comment.
Tinggalkan pesan mu ^,^
Wasalam.
Jazakumullah.
Bye.

Minggu, 02 Oktober 2016

Marsha - Part VII

Marsha sudah berhasil keluar dari ruangan itu, tinggal satu pintu lagi dan ia bisa mendorong lelaki bringas itu dan mengurungnya dari luar.
            Mata marsha tak lepas dari fokus mencari titik lengah Pak Chandra.
            “Marsha” langakah kakinya berhenti.
            “i-i-iya pak”
            “Apa kamu yakin akan ke rumah saya? Kau tidak berbohongkan?”
            Marsha terdiam. Ia tidak bisa menunggu. Gadis itu pun mendorong kuat lelaki bringas itu dan berlari menuju pintu luar yang menjadi jalan satu-satunya.
            Tapi Marsha kurang cepat. Lelaki itu memegang kakinya dan ia pun terjatuh. Lelaki itu menggenggam erat kaki Marsha dan menariknya. Dan melepas jilbab biru tua Marsha. Perlahan ia sudah akan merobek baju Marsha. Kebuasannya semakin menjadi. Marsha hanya bisa menangis. Suaranya sudah serak. Dunia terasa gelap. Ia sudah kehabisan tenaga.
            Brruukkkk!!!. Pintu ruangan itu terhempas kuat dan terlempar hingga mengenai lelaki itu. lagi-lagi Marsha selamat. Tapi rambutnya terurai.
            “Marshaaaa….”
            Dengan keadaan lemah, Marsha berusaha menoleh.
            “Far-han” ia tersenyum dalam hati ia membatin ‘Farhan kau terlambat’.
            Farhan dengan sigap membawa Marsha keluar ruangan dan membuka jaket dan memakaikannya ke kepala Marsha untuk menutupi rambutnya.
            Tanpa ampun Farhan menghajar habis-habisan lelaki bringas itu. Dunia perlahan-lahan terasa gelap bagi Marsha.
            “Farhan, lagi-lagi dia datang seperti superhero, keren sekali tadi” Batin Marsha dan ia pun jatuh terkulai.
***
            “Farhan baik-baik aja kok, cuman kakinya masih sakit belum bisa diajak jalan dulu, jadi main-mainnya setelah Farhan sembuh ya Marsha” Marsha kecil dengan wajah sedih harus menerima asalan Mama Farhan.
            “Kalau begitu salam buat Farhan, dan ini buat dia semoga lekas sembuh”
            “Waah, ini syal, Marsha yang buat?” Marsha mengangguk “makasih ya”
Farhan mengintip dari balik jendela, kesedihan juga tergambar dari wajahnya.
“Kalau mau ketemu sama Marsha, kenapa menolak begitu” Papa menangkap basah Farhan.
“Si-siapa juga yang mau ketemu dia, si cengeng” Farhan jadi salah tingkah.
“Marsha mencemaskanmu, tapi kamu malah dingin dengannya, kamu marah ya? Gara-gara nolongin dia dan sok jagoan gitu malah buat kamu jadi sakit begitu”
“Farhan gak marah kok Pa!”
“Terus? Kenapa dong?”
“Farhan malu Pa, gak punya kekuatan seperti super hero, Farhan malu sama Marsha, seharusnya Farhan punya ilmu agar bisa membuat mereka lebih merasakan sakit, tapi Farhan cuman gantikan posisi Marsha yang dipukulin, itu sama sekali gak bisa nolongin Marsha”
“Siapa bilang, kamu sudah superhero, keberanian kamu yang luar biasa itu adalah kekuatanmu.”
“Papa bilang gitu untuk nyenangin hati doang”
“Ya jelas dong, masa nyakitin. Gini aja, kamu yakin mau punya ilmu? Biar jadi superheronya Papa,Mama,Marsha dan teman-temanmu lainnya?
“Mau pa”Farhan mengangguk semangat.
“Bagus, kalau begitu kamu harus cepat sembuh..okey”
“ngomong soal sembuh, ini untuk kamu dari Marsha” Mama baru saja masuk ke rumah setelah Marsha pamitan pulang “Kamu harus temui dia, dia khawatir banget”
Farhan membuka kotak merah itu. sebuah syal biru-rajutan tangan sendiri. Ia langsung menggunakan syal itu dan melihat keluar jendela. Masih ada Marsha disana yang melangkah pergi.
“Terimakasih Marsha, setelah ini aku pasti akan lebih kuat lagi”.
Kejadian yang dialami Farhan 3 hari setelah kejadian segerombolan anak badung yang menghadang jalan Farhan dan Marsha yang sedang asyik bermain sepeda. Tak menerima atas hal itu beberapa dari mereka menganggu Marsha yang baru saja pulang sekolah. Kebetulan hari itu Marsha dan Farhan tidak pulang bersama karena Farhan ada latihan sepakbola. Tapi, ada hal yang mengganjil dihati Farhan ia pun berlari mengejar Marsha dan betapa terkejutnya melihat anak-anak badung itu menjambak-jambak rambut Marsha dan tertawa senang. Alhasil dengan penuh emosi Farhan berlari dan berusaha menyelamatkan Marsha. Dengan badan kecil dan kekuatan anak kecil tak menolong sama sekali , malah ia yang terluka. Setidaknya Marsha tidak diganggu lagi.
Marsha masih merasa bersalah pada Farhan. Ditambah lagi Temannya itu tak ingin bertemu dengannya. Selama seminggu Farhan libur sekolah. Dan selama itu Marsha masih belum punya kesempatan untuk bicara dengan Farhan. Farhan seperti menghindar darinya. Marsha hanya bisa diam. Ia berharap Farhan agar kembali berteman dengannya. Namun kesempatan itu tidak ada. Hitungan hari, minggu berganti menjadi bulan. Marsha lebih banyak menghabiskan waktu bermainnya di rumah. Ia jarang main diluar. Ayah dan Mama juga melarang karena khawatir anak-anak badung itu akan muncul lagi dan menyerang.
Beberapa kali kesempatan Marsha sempat melihat Farhan belajar bela diri ditaman bersama dengan Ayahnya. Marsha ingin sekali menyapa, tapi lagi-lagi ia mengurungkan niat itu.
Hingga suatu hari.
“Undangan?”
“Iya, Keluarga Farhan mengajak kita sekeluarga hadir disana?”
“Farhan ikut lomba Taekwondo, kamu mau ikutkan Marsha?”
Marsha tampak ragu.
“Tadi, Farhan sendiri yang langsung bilang, jangan lupa ajak kamu juga”
Marsha hanya diam.
“Ayah sama Marsha saja yang pergi, Nadine masi rewel-rewelnya”
“Ya,udah”
Tibalah hari perlombaan. Babak final. Marsha, Ayah, Mama dan Papa Farhan duduk berdekatan menyaksikan Farhan tanding.
Perlombaan berlangsung alot. Saingan Farhan tidak bisa diremehkan. Beberapa kali Farhan hampir menerima pukulan mati. Marsha yang menyaksikan ikut tegang dan berharap Farhan menang.
“Ya Allah, berikanlah kemenangan buat Farhan” Batin Marsha.
Setelah melalui pertandingan yang sengit. Akhirnya Farhan menjadi juara 1 tingkat kota. Teman-teman satu sekolah juga hadir dan berlari mengucapkan selamat untuk Farhan, merekapun mengangkat badan Farhan, ia tersenyum lepas. Marsha yang duduk dibangku penonton ikut terharu melihat kemenangan Farhan. Farhan melihat Marsha yang terenyum bahagia. Marsha mengacungkan dua jempol pada Farhan saat mata mereka bertemu. Farhan tersnyum bahagia.
Semenjak hari itu mereka berdua kembali bermain bersama. Dan tidak beberapa lama kemudian Farhan harus pindah.
***

Bersambung Part VIII ~ Terbit Senin/Kamis

Kamis, 29 September 2016

Marsha- Part VI

            Jari-jemari yang menari diatas keyboard, mata belok dengan bulu mata yang panjang terus memindahkan pandangannya dari kertas-kertas yang tertumpuk ke monitor.
            “Pak Chandra masih nyuruh kamu lembur? Kerjaan setumpuk ini bakalan diselesaikan hari ini? gila “ komentar Siti rekan kerja sekaligus teman rempongnya Marsha. Dari tadi ia terus memperhatikan teman satunya itu bekerja keras.
            “Laporan ini harus segera diselesaikan, ini untuk proyek lusa Beliau”
            “Ha? Beliau? Aku gak salah dengar?” Marsha hanya geleng-geleng tersenyum mendengar teriakan geli teman rempongnya itu. “Cuman kamu yang sopan banget sama Pak Chan itu sampai panggil Be-be-be..”
            “Beliau”
            “Iya itu, biasa aja lagi manggilnya. Sekarang aku jadi ngerti kenapa kamu selalu yang disuruh ngerjain tugas sebanyak ini, karena kamu terlalu baik sama dia, semua karyawan rata-rata gak suka dengan Pak Chan itu”
            “He-em”
            Siti yang ingin melanjutkan silat lidahnya tiba-tiba diam terpaku, yang diomongin datang.
            “Bapak”
            “mm..Marsha, saya cuman ingatkan tugas ini harus diselesaikan hari ini dan langsung diantar ke ruangan saya, mengerti?” Pak Chandra bicara dengan Marsha tapi matanya melirik tak senang ke arah siti yang tiba-tiba jadi sibuk sendiri dengan computer. “Kamu jangan kebanyakan gossip nanti tugasmu terbengkalai, ya sudah kalau begitu saya pergi dulu”
            “Ya pak”
            Siti tetap pura-pura sibuk dan  Pak Chandra terus menatap siti tak senang.
Sudah pukul 5 lewat 30 menit. Marsha masih terus sibuk dengan tumpukan kertas dan monitornya.
            “Kamu yakin baik-baik aja?”
            “Iya aku baik-baik aja, kamu duluan aja”
            Siti menarik napas panjang. Ia tidak tega melihat temannya itu.
            “Aku tem-“
            “Pulanglah”
            Kali ini Siti mengalah.
***
            Mobil sport merah yang melaju dijalan dengan kecepatan sedang. Pengendaranya tidak sabar berada di tempat tujuannya “Restoran Pak Broto”.
            Mobil yang sudah lama-lama ia nantikan akhirnya datang juga, namun sayang minggu depan ia akan meninggalkan mobilnya yang baru datang dari Australia itu.
            “Kak Farhan, sudah lama gak main kesini” Nadine menyambut ceria.
            “Kakak ada banyak urusan dan sepertinya ini bakalan jadi kunjungan terakhir”
            “lho kenapa? Ada proyek lagi? Kakak ke luar negeri lagi?”
            Farhan mengangguk membenarkan.
            “Dimana Kak Marsha?”
            “belum pulang” jawab Nadine ketus.
            Farhan hanya tersenyum mendengar jawaban adik bungsu Marsha itu yang berubah dingin.
            Marsha pulang lama lagi? Lembur? Ini sudah jam 8 lewat.
            Ia meraih ponselnya. Dan mengetuk kontak “Marsha-ku”.
            “Assalamu’alaikum”
            “Wa’alaikumsalam, Marsha”
            “Farhan? Ini nomor kamu?”
            “Iya, kamu dimana sekarang?”
            “Aku masih dikantor, ada laporan yang harus diselesaikan hari ini”
            “Tapi se-“
            “Maaf Farhan, aku tutup telponnya, aku harus ke ruangan Pak Chandra dulu,bye”
            “owh baiklah” Tapi sebelum Farhan menjawab telponnya sudah putus.
            Marsha merapikan berkasnya sebelum mengetuk pintunya, ia juga merapikan pakaiannya. Saat sudah mantap akan mengetuk, tiba-tiba ada rasa keraguan muncul begitu saja tanpa sebab. Bukan karena khawatir tugas yang kerjakan salah, atau masih ada file yang belum lengkap tapi.
            “Marsha? Kenapa diluar saja ayo masuk” Tiba-tiba pintu sudah terbuka Pak Chandra sudah ada didepannya. “Ayo masuk” sekali lagi Pak Chandra memintanya masuk.
            Dengan perasaan ragu dan khawatir gadis berjilbab biru itu masuk.
            “Saya sudah menunggu dari tadi, kenapa lama sekali?” Pak Chandra mempersilahkan Marsha duduk.
            “Maafkan saya pak, tapi saya sudah berusaha untuk menyelesaikannya sesegera mungkin.”
            “Ya saya sangat menghargai kerja kerasmu” Pak Chandra mulai berdiri dan membelakangi Marsha.
            Marsha mulai merasa gelisah, ada perasaan tidak mengenakkan.
            “Maaf Pak, apa saya sudah boleh pulang sekarang? Keluarga saya sudah menelpon dan saya tidak mau mereka khawatir”
            “Boleh saja asalkan laporan ini sudah benar”
            Marsha yang sudah setengah berdiri terheran-heran dengan kalimat tersebut.
            “Tapi, Laporan itu sudah benar saya kerjakan”
            “Itu menurutmu, aah..ini tidak adil” Pak Chandra mulai mengelilingi ruangan tersebut. “saya sudah menunggu hingga sampai semalam ini dan kamu pulang begitu saja tanpa tahu apakah semua ini benar atau tidak” Pak Chandra menghamburkan kertas yang sudah seharian Marsha kerjakan.
            Raut wajah kecewa Marsha tak bisa disembunyikan.
            “Maaf Pak, apa maksud Pak Chandra melakukan hal itu-“
            “Kamu ingin pulang kan? Silahkan keluar!”
            Dengan perasaan kecewa yang tak bisa dijelaskan, mungkinkah ini perasaan ganjilnya dari tadi?. Marsha melangkah mendekati pintu ruangan, saat akan membukanya pintu itu terasa sulit dibuka.
            “Pak Chandra pin-“
            “Apa kamu kira bisa keluar dengan mudahnya di ruangan saya ?” suara Lelaki berbadan besar itu terasa sangat dekat ditelinga Marsha. Ia bahkan tak sanggup menoleh. Tangannya beku, tetap mengenggam pintu.
            “Ini sudah hampir jam 9, kenapa ia belum pulang juga, apa dia sudah menelpon tante?”
            “Belum nak, terakhir tadi habis maghrib dia bilang masih mengerjakan laporannya jadi pulang terlambat”
            Tiba-tiba Farhan merasakan hal yang ganjil.
            “Tante, Farhan jemput Marsha dulu,”
            “Mohon bantuannya nak Farhan”
            Mama Marsha kembali disibukkan melayani pelanggan yang datang, malam adalah waktu yang sangat ramai, banyak pengunjung yang datang.
            Sementara itu Marsha tengah berjuang untuk bisa keluar dari penjara itu. Ia berkali-kali berhasil menghindar dari lelaki yang ternyata bringas itu. Marsha sudah dua kali terhempas di kursi panjang itu dan lelaki itu sudah mau menirkamnya, dengan kekuatan yang tersisa dan minim ilmu bela diri gadis berjilbab biru itu berusaha mengirim pukulan dengan kaki panjangnya. Ia berusaha mencari kunci ruangan itu. terus megedor-gedor pintu dan berteriak-teriak minta tolong. Ingin sekali ia menelpon, tapi Pak Chandra yang sudah berubah menjadi buas itu menyita tasnya.
            “Kamu kira kamu bisa begitu mudahnya menjauhi saya, saya sudah lama menanti hal ini, saya sudah lama ingin bersama denganmu” lelaki bringas itu memeras erat tangan Marsha. Marsha berusaha melawan. Dengan kekuatan yang masih ada, ia mendorong binatang buas itu. lelaki itu tampak lemah, ia seperti sedang mabok. Melihat ia terjatuh dilantai dan lemah. Marsha berlari mengambil tasnya dan segera memencet tombol dial, panggilan terakhir.
            “Assalamu’alaikum Marsha, kenapa kamu baru mengangkat telponku, kamu dimana sekarang?”
            “Farhaaann….tolong aku..Farhaaaann..” hanya kata itu yang bisa ia ucapkan, dengan nafas tersengal-sengal, tangan yang menginggil “aaarrgghh…” teriakan Marsha membuat Farhan bertambah khawatir. Ia menambahkan kecepatan. Mobil sport merah melaju kencang.
            “Marshaaa…..”
            Telpon masih tetap tersambung. Sayup-sayup terdengar suara laki-laki buas itu.
            “Apa kamu kira kamu bisa menjauhi saya, hah?”
            Farhan terus berpikir keras.
            “Maaf Farhan, aku tutup telponnya, aku harus ke ruangan Pak Chandra dulu,bye”
Pak Chandra.
            “Lepaskan saya pak, Saya mohoonn……” Marsha terus menangis.
            Lelaki bringas itu terdiam. Ia melepaskan genggamannya. Ia memandang gadis berjilbab biru-yang sudah tak karuan bentuk jilbabnya, ia tiba-tiba ikut menangis.
            “Maafkan saya Marsha, saya sebenarnya tidak ingin menyakitimu, tapi saya tidak tahu harus bagaimana lagi agar kamu bisa melihat saya, saya sudah berusaha berbagai macam cara agar dekat denganmu, agar bisa bersamamu, sudah sekian tahun saya menunggu, saat saya sudah mendapatkan jabatan ini, saya pikir ini kesempatan saya, maafkan saya Marsha” ia memukul-mukul kepalanya seperti merasa bersalah “Maafkan saya Marsha, apa kau terluka, hah?”
            Marsha terdiam, ia menahan isak tangisnya. Ia menunggu waktu yang tepat untuk lari.
            “Sepertinya aku sudah berlebihan, kita bicara baik-baik, ayo berdirilah, saya akan mengajakmu ke rumah agar lebih nyaman, ayo”
            Lelaki gila. Marsha mengira ia mulai sadar, ternyata bertambah tak warasnya dia.
            “Ka-ka lau begitu, biarkan saya keluar dulu dan merapikan pakaian saya, ba-baru setelah itu kita pergi”
            “Benarkah? Kalau begitu kenapa tidak dari tadi saja begini, seharusnya saya bisa membujukmu lebih lembut, silahkan rapikan dirimu di kamar mandi”
            “Peralatan saya masih tertinggal dari ruang kerja saya , izinkan saya keluar dari sini..”
            “TIDAK!! Tidak, kamu pastikan akan kabur”
            “Kenapa kamu tidak ikut juga sekalian, kalau khawatir saya kabur”
            Lelaki bringas itu terdiam sejenak. Lalu mengangguk setuju.
            Marsha langsung bergegas merapikan tasnya. Telponnya ternyata sudah putus.
            Mereka berdua pun keluar dari ruangan yang sudah tak karuan itu.
Farhan melesat memasuki gedung itu. mobilnya ia parkir tepat didepan pintu lobby. ia meraih jaket dan keluar dari mobil.Farhan sudah berlari.
            “Maaf pak, Anda siapa?” salah seorang security menahan Farhan.
            “Saya Farhan, Marsha ada dialam dan ia sedang dalam bahaya”
        “Maaf Pak, tapi semua karyawan sudah tidak ada lagi didalam dan sudah pulang, yang ada palingan cleaning service”
            “Apa kau yakin? Kau sudah melihatnya?”
        “Mengen-“ Plak! Farhan mengelurakan jurusnya. Security itu pingsan. Farhan tidak punya banyak waktu.
            Ia terus berlari masuk ke dalam. Ia bertemu dengan cleaning service.

            “Dimana ruangan Pak Chandra?” Tanya Farhan dengan penuh emosi.

***

Bersambung Part VII ~ Terbit Senin/Kamis