Rabu, 09 September 2015

Ketika January Berulang Tahun Part III

“maaf..” ia senyum sambil mengedipkan mata jahilnya pada ku.

***


Sebuah kejutan di hari ulang tahunku yang belum pernah terjadi sebelumnya, ini kali pertamanya, biasanya aku melupakannya begitu saja dan teman-temanku hanya sekedar mengucapkan selamat. Syukur-syukur dia bisa mengingatnya, aku bahkan lupa dengan hari ulang tahunku sendiri.

Tapi hari ini istimewa. Walau saat ini aku jauh dari orang tua karena memang dari kecil mama dan papa selalu mengajarkanku hidup mandiri, mereka sering tidak ada dirumah. Bahkan mereka saat ini sedang diluar negeri. Aku hanya tidak mau memanjakan diriku dengan uang mama dan papa, maka aku berinisiatif untuk bekerja menghasilkan uang. Cukup cerita tentang keluargaku dulu.

Aku benar-benar tidak bisa mengambarkan kecerian yang hadir pada sore yang sudah memasuki malam itu. Kami sholat dulu setelah itu melanjutkan “pesta” yang mereka katakan itu. Aku bertanya-tanya kenapa mereka semua ada disini. Dan apa yang membuat mereka memberikan sebuah kejutan semeriah ini. dan ine, ia bahkan tidak begitu akrab dengan mereka, tapi hari ini ia terlihat kompak dengan yang lainnya. Kenapa, kenapa harus repot-repot serame ini.

“sebenarnya...kami kesini selain ingin merayakan hari ulang tahun ini, kami juga ingin menyaksikan sebuah kejadian istimewa nantinya, ya kan andre?” david menyenggol andre yang ada disampingnya.
“iya...kami kesini juga ingin liat itu.. ini semua idenya andre, dan syukurlah kami ada waktu bisa datang kesini walau dadakan” rina ikut menimpali. Semua bersorak membenarkan.

“kejadian istimewa...ingin liat itu? Maksudnya hari ulang tahunku kan?”

“andre...ayoo..” aku mendengar sedikit bisikan david pada andre. Andre mengangguk.

Andre berdiri dan mendekatiku. Dan seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dari balik punggungnya.

Ia setengah berlutut dan..

“selamat ulang tahun kayla, hari ini adalah hari yang istimewa bagimu tentunya, dan aku ingin kamu akan menjadikan hal ini hal yang istimewa bagimu.” Ia terdiam sejenak, lalu menunjukkan sesuatu yang ia simpan dibalik punggungnya tadi. “maukah kamu menikah denganku? Menjadi istriku kayla....?”

MasyaAllah, aku hanya bisa ternganga tidak percaya. Kututup mulutku dengan bulir air mata yang perlahan jatuh dan mengalir. Aku benar-benar tak percaya hal itu terjadi. Andre, seseorang yang dulu pernah kusukai di masa SMA, seorang yang populer disekolah, memohon padaku untuk menjadi istrinya, ini pasti mimpi, ini pasti mimpi. Aku menepuk-nepuk pipiku dan mencubit-cubitnya sambil menutup mataku.

“ini pasti mimpikan...? ya kan..? andre kamu....kamu..ka....aaarrrgghhhhhh......sakit”

Aku membuka mataku... aku tersadar sedang menyandarkan kepalaku diatas meja makan dan aku melihat ine yang sudah rapi sedang memegangi pipiku.

“kaylaa...ayouuu..bangun...kenapa bisa-bisanya tertidur abis sarapan sihh? Kamu kurang tidur yah..? ayo buru-buru nanti kamu kesiangan kerjanya”

“astaghfirullah..jadi benar mimpi?”

“Ayooooo...mimpi apaan sih tadi?”

“appaan ssiih...?” aku memonyongkan mulutku.

“oia kayla...hari ini aku lembur jadi pulang malam... jadi,..”

“iya.. tidak bisa buat makan malamkan.... gak apa-apa ntar aku yang .....”

“jangan...aku yang akan belikan..hari ini aku mau merayakan hari ulang tahunmu,jadi tunggu aku pulang yah..kita buat party kecil-kecilan..”

“ulang tahun? Hari ini ulang tahunku?”

“kebiasaan deh lupa ama ultah sendiri”

Aku buru-buru melihat kalender dan ternyata benar, ini ulang tahunku.

Sesuai yang direncanakan ine, kami berdua merayakan ulang tahunku. Ia membeli banyak makanan coklat kesukaanya dan tak lupa sebuah brownies bertuliskan “Selamat Ulang tahun ‘Nenek’ “.

Keesokkan harinya aku mendapatkan banyak  kiriman paket. Semua adalah kado ultahku.

“ya ampun banyak banget kadonya.... aku kembali kayak anak kecil saja”

“memangnya cuman anak kecil yang boleh dapat hadiahnya banyak” omel ine.

“hahaha...”

Ine membantuku membuka bungkus kadonya, tak jarang ia mengatakan ia iri padaku dengan wajah leluconnya,dan sesekali aku melemparnya dengan kertas kado.

“rata-rata dari teman SMA semua yah.. mereka benar-benar selalu diluar dugaan...ckckck” komentar ine. Aku hanya tersenyum geleng-geleng.

Bungkus kado yang terkakhir aku mengambilnya perlahan-lahan. Ine sudah terkapar bersama dengan bungkus-bungkus kado ia buka tadi. Ia sudah terlelap.

Kado terkakhir ini berukuran sedang ,dipaket bertuliskan alamat sebuah negeri yang jauh “Amerika” dari “Andre sazazkhan”. Jantungku berdegub kencang. aku teringat mimpi aneh tadi pagi. Aku membukanya dan aku lihat isinya dan sebuah surat berwarna pink dan sebuah kotak kecil.

Dear Kayla,
Assalamu’alaikum.
Kayla Selamat Ulang Tahun.
Maaf kau hanya bisa mengirikan kata-katany lewat surat. Walau keilhatan klasik tapi aku suka.
Bagaimana kabarmu? Ku harap baik-baik saja.
Oia, apa kamu sudah meilhat kadonya? Jika belum lihatlah dulu.
Aku menurutinya, aku buka kotak hitam itu dan kulihat ada sebuah kalung beliontinkan “AK”. Aku benar-benar terkejut bukan kepalang.
Jika sudah, bagaimana menurutmu? Apa kamu suka?
Aku mengangguk sambil menutup mulutku yang hampir menangis tidak percaya.
Aku harap kamu suka. Aku sudah mengirim paket ini jauh-jauh hari agar tepat sampai dihari ultahmu.
Maaf aku hanya bisa mengirimnya lewat paket.. jika sudah selesai urusanku disini, aku akan segera
Menemuimu dan MELAMARMU.

Kali ini aku benar-benar mau pingsan membacanya. Tapi aku berusaha tenang. Aku periksa keadaan ine. Dia benar-benar pulas. Aku kembali membacanya.

Mungkin terkesan tergesa-gesa dan mendadak. Namun mengenai perasaanku padamu,
aku sudah lama memendamnya.
Aku ingin sedikit bercerita, beberapa hari belakangan, tiba-tiba saja aku merindukanmu, aku tidak tahu penyebabnya apa. Dan aku juga sering memimpikanmu. Mimpi yang membuatku ketakutan, takut kehilanganmu. Aku pun menceritakan ini pada sahabatku, dan ia menyaranku untuk mengutarakan niatku, untuk melamarmu. Walau terkesan terlalu terburu-buru untuk melamarmu dengan kondisi kita sudah lama tidak berkomunikasi, namun aku tidak tahu harus bagaimana, jadi sebagai awal keseriusanku aku mengirimu kalung. Aku juga sudah memastikan bahwa kamu saat ini tidak dengan seseorang, jadi aku berani melakukan ini.
Oia, untuk memudahkan komunikasi kita, aku sudah meninggalkan kartu namaku, disana ada kontakku, kamu bisa menghubungiku untuk memberi jawaban. Aku menunggu jawaban darimu.
Sekali lagi “Selamat ulang tahun”
By: Andre Sazazkhan.

Air mataku bercucuran membasahi surat itu. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatiku. Aku peluk erat surat itu. Dan aku hanya bisa menangis diam tak bersuara. Ku raih kartu namanya. Aku lihat nomor dan alamat emailnya.

Ku hapus arimata. Ku lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat, aku bangkit dan mengambil air wudhu. Ku tegakkan istikharah malam itu. Ku panjatkan doa pada Yang Maha Cinta.

Sebuah kado yang tak terduga dihari ulang tahunku, Januari.

- The End -
penulis : Isya_Rayle
thanks

Ketika January Berulang Tahun Part II

Aku menerimanya dengan desir hati yang tidak menentu ini. rasa ini muncul lagi sekian lama ku kubur semenjak andre memutuskan meneruskan kuliahnya di Amerika. Aku tidak pernah mengatakan kepadanya atas perasaanku padanya dulu ketika di SMA, bahkan aku tidak berusaha menunjukkan padanya bahwa aku memiliki rasa padanya. Walau tetap saja orang lain bahkan cukup memudah membaca gerak-gerik anehku jika dekat dengan andre. Namun berbeda dengan sekarang, aku cukup tenang berbicara padanya dan berusaha bersikap seperti teman lama yang bertemu lagi.

“boleh aku buka sekarang?”

***



“ya silahkan”

Aku membukanya perlahan-lahan. Apa isinya ya?

Taraa.. ternyata sebuah kalung silver. Aku bisa menduga itu adalah kalung mahal. Kalung yang berkilauan itu ada sebuah liontin dengan huruf AK. Apa maksudnya?

“sebuah kalung..ka..kamu yakin memberikan ini untukku?” bisa saja dia salah kasih atau lainnya karena aku benar-benar tidak benar percaya.

“benar..itu..untukmu...”

“terimakasih..kalungnya sangat bagus..tapi tunggu..apa kamu jauh-jauh datang ke Amerika cuman mau kasih kado ulang tahun ini untukku?” aku berusaha membuat lelucon.

“iya.. aku jauh-jauh kesini cuman untuk ini..lebih tepatnya karena kamu”

Ssss....desir dihati itu membuatku merinding. Itu bukan leluconkan?!. Aku terdiam dan aku berhenti tertawa. Tanganku bergetar.

“kenapa? Kenapa harus kalung? Kalung ini sangat mahal dan juga kesannya..”

“sebenarnya” andre memotong pembicaraanku “ sebenarnya aku ingin memberikanmu cincin.....”


Ya ampun itu lebih-lebih bisa membuatku pingsan tidak percaya jika benar-benar itu terjadi.

“tapi... jadinya kalung aja..kamu gak suka ya?”

“a.aa..suk..suka..yah aku suka... tapi..”

“aku sebenarnya...”

Ti..riiitt..ti..riiitt.. telpon ku berbunyi.

“sebentar” aku merogoh tasku “ya..ine.....mmm.... aku sudah pulang kok..tapi lagi dalam perjalanan pulang...ya...kenapa?...... kamu sakit?........ sekarang dimana?....oke...oke..aku segera pulang..kamu ambil obat didekat kamarku...untuk meredakan sakitnya sementara yah..oke?yup..” aku panik rasanya ingin segera cepat sampai ke apartemen.

“kenapa? Ada apa dengan ine?”

“dia sakit. aku harus segera pulang”

“aku antar yaah...”

“enggak...enggak..enggak usah..aku bi..”

“kalau bareng aku bisa lebih cepat..”

Aku hanya bisa terdiam dan mengikuti sarannya. Aku dan andre menuju tempat mobil andre diparkirkan. Aku masuk dan duduk belakang kursi penumpang. Andre melihatku aneh dan sedikit terkejut.

“aku duduk dibelakang boleh yah...”

“boleh kok”

Andre pun melaju mobilnya dengan cepat. Akhirnya Aku sampai lebih cepat. Aku tergesa-gesa menaiki anak tangga,sempat terpeleset dan andre buru-buru memegang tanganku untuk menyelamatkanku. Dan aku reflek menepisnya.

“a..a..maaf” aku benar-benar tidak sengaja untuk menepisnya kuat.

Andre hanya mengangguk.

Akhirnya aku sampai dipintu apartemenku. Aku benar-benar panik aku takut terjadi apa-apa dengan ine, suaranya ditelpon tadi benar-benar terdengar sangat menyedihkan.

Tok..tok “ine..buka pintunya..ini aku kayla.. kamu didalamkan.. “ aku baru ingat, kan aku ada kunci cadangannya.aku lalu sibuk merogoh kunci dalam tasku. Aku benar-benar panik, kunci itu terjatuh dan bergulir sampai ke kaki andre. Andre langsung mengambilnya, walau ia hanya mengenggam tanganku yang sudah lebih dulu mendapatkan kuncinya, lagi-lagi aku reflek menepisnya.

Andre terkejut.

“maaf..kay” kali ini ia yang minta maaf.

“tidak..aku yang harusnya minta maaf” aku langsung membuka kunci dan berhasil.

Aku masuk “ine..”

Dooaaarrr.....“SELAMAT ULANG TAHUN”sebuah petasan kecil yang mengeluarkan berbagai macam warna-warni kertas menghambur kewajahku. Aku benar-benar hampir mati dibuatnya. Teman-teman semasa SMA ku hampir semuanya memenuhi rumahku. Aku menatap ine dengan kesal.


“maaf..” ia senyum sambil mengedipkan mata jahilnya pada ku.

bersambung ...
Ketika January Berulang Tahun

Ketika January Berulang Tahun


Aku  bangun setengah jam sebelum adzan shubuh berkumandang. Aku menyiapkan sarapan untukku dan untuk ine yang juga teman satu apartemen denganku. Kami tinggal di sebuah apartemen yang cukup luas untuk berdua. Jarak apartemen yang dekat dengan tempat kerja juga kuliah.,Benar-benar sempurna untukku namun tidak terlalu begitu buat ine, walau begitu ia tidak mau pindah apartemen yang lebih dekat dari tempat kerja dan juga lebih bagus.

“aku gak mau pisah darimu, kamu kan tahu aku selalu denganmu sejak kecil, bahkan orang tuaku mau mengizinkanku keluar kota mencari sesuap nasi dan menuntut ilmu hanya karena aku bareng kamu,” ia mengatakannya sambil memanyunkan mulutnya yang kecil itu.

Aku hanya bisa tertawa kalau sudah mendengar ocehannya itu.

“ya,ya,ya” aku hanya bisa membenarkannya.

Ia memang manja tapi ntah kenapa aku tidak begitu mempermasalahkannya. Teman-teman di SMA ku dulu sering menertawai ine yang dianggap kayak anak bayi kalau dekat-dekat denganku, dan aku dianggap kayak nenek yang selalu cerewet namun tetap memanjakan ine. Awalnya tidak menyenangkan ditelinga dan dihati mengenai julukan itu, namun lama-kelamaan sudah seperti angin lalu, toh setiap ada orang yang berkomentar seperti itu, ine malah semakin manja.
Sarapan sudah siap. Aku meletakkannya diatas meja. Aku siap-siap mandi dan sholat ketika sudah terdengar adzan.

“kayla...kaa—aayy... udah adzan yaaah” ine bangun dengan setengah mata tertutup dan mulut yang monyong dan rambut yang kusut.

“iya..ayo bangung gih” .Ine tidak mengatakan apa-apa selain mengangkat jarinya “ok” dan dengan senyum anehnya. Aku yakin ia pasti sangat mengantuk.

Hari-hari selalu berjalan seperti itu. Aku membuat sarapan. Nanti giliran ine yang menyiapkan makan malam, kami selalu mengerjakan tugas kuliah bersama karena kami satu kampus walau beda tempat kerja. Tempat kerja ine lebih bagus, ia bekerja sebagai seorang admin disebuah perusahaan internasional, aku pernah melamar disana tapi tidak lulus karena aku kurang lancar berbahasa inggris. Jadinya aku bekerja sebagai seorang koki disebuah kafe yang dekat dengan distrik kota tempat kami tinggal.

Walau sebenarnya tidak terbesit dihatiku untuk menjadi seorang koki, kemampuan memasakku juga tidak begitu bagus, namun sang manajer yang meng-interviewku yakin aku bisa, padahal dari awal aku hanya ingin menjadi seorang kasir. Sebenarnya aku juga terkadang merangkup menjadi kasir, mm bagaimana mengatakannya ya, bisa dikatakan aku asst-manajer jadi terkadang aku dipercaya untuk mengelola kafe. Bagiku itu sudah lebih dari cuku, rezeki tiap orang berbeda, aku sempat berkecil hati, namun seiring berjalanny waktu aku mulai sadar, bahwa sebuah pekerjaan itu yang penting halal dan kita melakukan yang terbaik dari yang kita miliki.

“hari ini, aku kayaknya lembur, jadi gak bisa siapin makan malam deh”

“oh gitu..” aku sibuk menuangkan air putih digelasku. “kalo gitu , aku beli makan malam aja deh, rencananya hari ini aku mau cek pembukuan, lagi-lagi manajer keluar kota jadi harus aku yang urus, dan sepertinya juga pulang malam” aku cengar-cengir melihatnya.

“benarkah? Heuumm..menyedihkanya kita” ia menunjukkan gurat wajah menyedihkannya kepadaku. Itu terlihat menggelikan bagiku.

Semua urusan kafeku selesai lebih cepat dari dugaanku. Kafe sepi, jadi aku bisa lebih fokus pada pembukuan, bisa dikatakan menyenangkan namun sebenarnya tidak.

Aku menikmati perjalanan sore menuju malam disebuah jembatan yang jarangku lalui. Biasanya aku melewati rute yang lebih dekat untuk bisa lebih cepat sampai diapartemen, tapi kali ini entah kenapa rasanya ingin melihat suasana sore dijembatan itu. Jembatan rakyat namanya.. karena jembatan yang sangat luas, banyak orang yang menikmati jingganya sore untuk sekedar refereshin, ada pasangan muda yang mendorong kereta bayinya. Aku hanya sendiri, merasakan angin sore itu. Aku sedikit ingin lebih lama. Aku berhenti sejenak dan kuletakkan kedua tanganku dipegangan.

“kayla” suara seseorang yang tidak terdengar asing, namun aku tidak tahu siapa. Aku menoleh ke arah sumber suara itu.

“an..andre” aku terkejut melihat andre berada disini. “bu..bukannya..kamu di Amerika.. kenapa bisa disini.

Andre tertawa senyum. Terlihat diwajahnya semu merah, atau hanya karena sinaran matahari sore?
Ia berjalan mendekatiku, ia memakai kemeja biru dengan celana hitam dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku.

“aku memang kuliah di Amerika dan sudah beberapa tahun ini tinggal disana tapi...” kata-katanya terhenti, ia memandangku sekilas, lalu tersenyum dan kembali menatap lurus kearah sungai “ini kan tanah airku, jadi sah-sah aja dong kalau aku disini”

“benar juga sih.. tapi kenapa tiba-tiba ada disekitar ini? dan.... apa kamu lagi liburan kuliah?” aku langsung terdiam mendengar pertanyaanku terakhir,aku malu.

“hemmm..ya, bisa dibilang begitu”

“oo...ooh” aku mengangguk-ngangguk.

Kami terdiam untuk beberapa saat.

“bagaimana kab...” aku dan andre serentak mengatakannya. Kami tertawa.

“kamu dulu aja..” andre mempersilahkanku.

“baiklah, bagaiamana kabarmu? Apa di Amerika menyenangkan?”

“aku baik.. di Amerika tidak terlalu buruk.... walau...yaa.. sangat susah menempatkan diri dilingkungan yang cocok disana.. untuk tahun pertama aku benar-benar payah.. tapi untunglah ada orang baik.. jadi aku tidak risau lagi.. aku sudah mulai betah disana.. tapi....” ia berhenti, cukup lama.

“ta..pii?”

“tapi.. tidak ada tempat yang lebih nyaman dan baik selain rumahku...”

“hemm..benar juga..”

“bagaiamana denganmu?”

“aku baik-baik aja.. semuanya lancar.. pekerjaanku..kuliahku juga..”

“owhh... syukurlah..oia ngomong-ngomong..sebentar” ia lalu mencari sesuatu.”naah. ini dia...” ia menjulurkan kotak hitam yang berukuran kecil dan berpitakan warna merah. “selamat ulang tahun”
Aku terperangah dengan apa yang ia ucapkan barusan.

“u...u..ulang tahun?” aku berfikir sejenak. Memangnya sekarang tanggal berapa?

“hari ini kan tanggal 16 Januari, hari ulang tahunmu,”

“aaaahh.. iyaaa.aku lupa” aku menepuk jidatku, lagi-lagi aku lupa dengan hari yang kebanyakan orang menganggapnya adalah hari istimewa. “padahal aku sudah buat tanda dikalender, tapi tetap aja lupa sama ulang tahun sendiri..” aku tetawa kecil, aku benar-benar terlihat bodoh.

“kamu ini..benar-benar” dia menepuk kepalaku dengan hadiah yang belum sempat ku terima. Aku sedikit terkejut, bukannya marah, aku malah merasakan senang. “ini.. hadiah untukmu..”

“untukku.. benar?”

“iyaaa..benar”

Aku menerimanya dengan desir hati yang tidak menentu ini. rasa ini muncul lagi sekian lama ku kubur semenjak andre memutuskan meneruskan kuliahnya di Amerika. Aku tidak pernah mengatakan kepadanya atas perasaanku padanya dulu ketika di SMA, bahkan aku tidak berusaha menunjukkan padanya bahwa aku memiliki rasa padanya. Walau tetap saja orang lain bahkan cukup mudah membaca gerak-gerik anehku jika dekat dengan andre. Namun berbeda dengan sekarang, aku cukup tenang berbicara padanya dan berusaha bersikap seperti teman lama yang bertemu lagi.


“boleh aku buka sekarang?”


bersambung ...
Ketika January Berulang Tahun

Akane Menemukannya Part IV (END)


Aku mencoba gamis merah itu. aku terlihat percaya diri memakainya, ada rasa bahagia yang sudah lama tidak aku rasakan, rasanya mirip ketika ayah memberikan kado diulang tahunku ke-9. Ayah,disudut hatiku paling dalam, aku merindukannya.
                
Persahabatanku dengan teman-teman Rohisku menjadi semakin erat. Perlahan-lahan aku mulai terbuka dengan mereka, mendengar rumahku yang selalu sepi dari pulang sekolah sampai malam mereka terkadang bahkan mabit dirumahku. Aku merasa senang. Hobi menggambar komik alias mangaku pun berlanjut terus. Selain dimading rohis, manga-ku juga terbit sekali seminggu dalam majalah Sekolah. Lumayan banyak yang menyukainya dan tertarik dengan cerita khas anak remaja dan hikmahnya, lagi-lagi kebahagian itu terus muncul.   
                
Aku menuliskan semua perasaanku itu. mungkinkah aku sudah menemukan cahaya yang hilang selama ini? mungkinkah inilah saatnya aku menepati janji ayah agar aku tidak terus-menerus menjadi pemurung? baiklah, aku akan temukan kebahagianku.
                
“akane dapat bea siswa ke jepang ibu.. jadi ibu gak perlu khawatir dengan biaya kuliah akane” kataku ketika sudah kelas 3 SMA.
                
“benarkah...tapi...”
                
“ibu ikut ke jepang saja...kita tinggal disana bersama” ajakku semangat.
                
“mmmm...oke...” ibu mengedipkan matanya dan memberi jempolan.
                
Aku melanjutkan kuliah di jepang untuk bidang kesastraan. Selain aku suka membaca novel,menulis sebuah cerpen dan juga manga, aku ingin mengembangkan hobi serta bakatku ketika di jepang nanti, aku bermimpi ada sebuah manga muslim/muslimah menghiasi indonesia yang mayoritas muslim.
                
Ibu dan aku bersama-sama bertahan hidup dinegeri orang. Walau ibu menikah dengan ayah yang keturunan jepang, tapi ibu sama sekali belum pernah ketemu dengan keluarga besar ayah yang dijepang, saat pernikahan ayah dan ibu hanya keluarga besar dari ibu yang meramaikan.
                
“akane”
                
“hm..ya bu”
                
“kapan-kapan kita ke kyoto...yuk”
               
“hmm.. boleh juga,tapi kenapa kita tiba-tiba ke kyoto? Owhh..ibu ingin melihat wisata yang sangat menarik disana yah?”
                
“iya..tapi sebelum itu ada yang harus kita temui” ibu terdiam dan tidak melanjutkan pembicaraan itu.
                
Aku yang melihat wajah ibu seperti itu hanya bisa diam memandang langit biru dari apartemen kecil kami.
               
  ***
               
Kyoto.
                
Ibu dan aku menikmati wisata disana. Banyak turis asing disana, sesekali kami juga berpapasan dengan orang indonesia yang juga berwisata disana. Aku seperti anak kecil yang diajak main ke sebuah taman hiburan, melupakan semua penat yang dirasa. Sebelum sore menjelang malam ibu mengajakku ke tempat yang ibu bicarakan sebelumnya.               
                
Seoran lelaki yang sekitar berumur 40 tahunan lebih bersama dengan seorang wanita yang juga 40th, menyambut kedatangan kami. Dua orang anak kecil berumur 9 dan 8 tahun berlari dan saling mengejar, bahkan sampai mengelilingiku.
                
“oneechan..tangkap dia” pinta anak kecil perempuan itu dalam bahasa jepang. Aku sedkit memahaminya.
                
Tapi si anak laki-laki tetap terus mengejek anak perempuan itu.
                
“Mirai..kyouske..sudah berhenti berlari begitu.ayo kesini dengan ibu..kita sambut tamu kita”
                
Mereka berdua langsung menurut.Aku sesekali mencoba mencermati dua pasang suami istri yang menyambut kami. Paman tu tidak terlihat asing.
                
“aka-chan..bagaimana kabarmu?” pertanyaan yang membuat airmataku jatuh tanpa ada suara tangisan.”AYAH”.
                
Aku lihat wajah ibu, tapi ibu hanya menunduk. Aku kembali menatap Ayah dengan wajah sendu ia menyambut kehadiranku.
                
“aku baik-baik saja..sungguh..” suaraku tercekat. Apa yang sebenarnya terjadi. ayah menikah lagi? Dan dua orang tadi adalah saudaraku?.

                
Tidak tahu apa yang terjadi,bagaimana,dan kenapa bisa?. Tidak sanggup aku membayangkan dan menerka. Hanya satu hal, aku bisa bertemu dengan ayah. Luka tentu saja ada,sesak, itu sudah pasti. Namun ibu mungki sudah tahu sejak lama dan tidak pernah mengatakannya. Aku mungkin bisa saja marah, tapi tidak gunanya menjelaskan atas banyak hal yang terjadi,aku lebih baik begini,menerima keadaan, mencoba mengetahuinya berarti menyenandungkan luka. Cukup apa yang sudah ku lihat sekarang sudah memberi penjelasan. Aku sudah menemukan kebahagiaanku bersama ibu, itu sudah lebih dari cukup. 

- The End -
Penulis : IsyaRayle

Akane Menemukannya Part III

Hubungan kami bertiga berlanjut, hingga mereka ikut mengajakku gabung bersama Rohis,aku awalnya menolak, namun mereka keras kepala. Selalu saja mengajakku. Dalam suasana Rohis itu,aku seperti menemukan kebahagian tersendiri. Namun belum bisa membuatku berubah seutuhnya, aku masih dengan akane yang pendiam dan tidak banyak bicara.
Hingga...

“akane.. jilbabnya ibu lihat makin lebar..benar-benar cantik..ibu jadi ingin kayak gitu. Apa...kamu sudah punya teman sekarang?..ayolah cerita sedikit?” ibu mengedipkan matanya.

Aku menceritakan apa yang terjadi,apa yang membuatku menjadi berubah seperti ini.

“ibu...senang kamu sudah mau berteman lagi...ibu senang...” ibu meneteskan matanya dan membelai pipiku.

“ibu...” aku memegang tangannya yang hangat itu.

“oia sebentar lagi,ulang tahunmu, ibu sudah lama tidak memberimu hadiah, uhmm... terakhir tahun yang lalu.kamu sudah tidak suka dikasih hadiah..jadi ibu jarang membelimu hadiah..”

“tidak usah repot-repot” aku menanggapinya dengan datar.

“tidak boleh begitu..ibu ingin tetap memberi hadiah”

“aku tidak mau..itu hanya membuat akane se...”
               
“akane... kali ini akane mau hadiah apa?
                
Aku terdiam sejenak. Aku berpikir,apa sebenarnya yang menjadi keinginanku.
              
“ibu..”

“hmm”

“aku ingin, nanti dihari ulang tahunku ibu dirumah seharian, atau kita pergi keluar jalan-jalan,hari ulang tahunku kan tepat di hari Ahad, saat aku libur sekolah, itu hadiahnya,ibu bisa kan?”
Aku mengatakannya dengan penuh semangat, tanpa terasa air mataku jatuh. Ibu hanya terdiam dan mata ibu berkaca-kaca.     

“ibu..benar-benar sudah lama tidak melihatmu semangat seperti ini, sudah lama tidak melihatmu bercerita panjang..rasanya...ibu benar-benar senang”ibu mengusap air matanya yang sudah mulai jatuh. “tapi..ibu tidak bisa libur kerja dihari itu..itu justru saat-saat toko ibu rame..jadi....”

“akane..tidak memaksa...tapi lebih baik ibu tidak usah beri hadiah apa pun,selain dari itu”
Aku berlari menuju kamarku. Kekesalanku pasti terlihat jelas.

Hari Ahad, sama seperti ahad biasanya. Aku lihat meja makan rapih dan sepiring nasi goreng yang lezat dan jus jambu kesukaanku. Hari Ahad ibu berangkat lebih pagi dari hari biasanya. Ku lihat ada secarik kertas bertuliskan “Selamat Ulang Tahun,Aka-chan” mau tidak mau aku menangis. Aku hanya makan dalam kesendirian, dalam hati aku berharap bisa pergi jalan-jalan bersama dengan ibu.

Namun ternyata ada yang berbeda. intan dan sri datang kerumah memberiku kejutan bersama dengan beberapa teman Rohis lainnya membawa sebuah kue brownis berhiaskan tulisan “Met MIlad” mau tidak mau senyumku merekah, Ada sudut kebahagian yang terpancar keluar. Ulang tahun kali ini berbeda, suka cita hadir. Namun duka tidak mau ketinggalan.

Siang hari aku mendapat telpon. Ibuku kecelakaan disebuah distrik perbelanjaan saat akan menyebrang di zebra cross, kue ulang tahun dengan hiasan stroberi dan warna merah cantik hancur,sebuah kotak yang berisi gamis merah dan kerudung merah berhamburan keluar. Ibu masuk rumah sakit, ibu luka parah. bagai petir disiang bolong, tangisku pecah, aku langsung menuju rumah sakit ditemani dengan teman-temanku, mereka berusaha menenangkanku. Jika tidak ada mereka mungkin aku sudah pingsan dan tidak sanggup berdiri, jika saja saat itu aku hanya sendiri.


Aku sampai dirumah sakit, ibu selamat, luka ibu tidak begitu parah, ibu mengalami kaki terkilir dan geger otak ringan. Sebuah motor menyerempet ibu saat ibu ingin menyebrang. Teman kantor ibu cerita, ibu minta izin hari Ahad itu pulang lebih awal untuk merayakan ulang tahunku. Dan bos ibu pun memberi tiket ke Dufan dengan gratis, ibu sangat senang dan ia ingin memberiku sureprise. Aku benar-benar terharu, tak ada kata yang bisa kuucapkan lagi.aku pegang tangan ibu yang masih dalam keadaan belum sadar.

“ibu..ibu...” aku hanya bisa menangis.”ibu.....”
              
Dua minggu sudah berlalu, selama waktu itu ibu dalam rawat jalan, dan ibu cuti dari kerjanya. Aku punya banyak waktu bersama ibu. Waktu yang sudah lama kurindu-rindukan.
                
“ibu..berhenti saja kerjanya...sebagai gantinya akane akan cari kerja paruh waktu ja....”
                
“ssstt...akane..akane harus belajar dengan serius.fokus dengan sekolah saja..ibu,ibu akan bekerja..ibu juga sudah kangen kembali kerja”
                
“akane..mungkin memang egois.. tapi akane ingin ibu lebih lama lagi dirumah...tapi..hiks” aku tidak bisa membendung lagi air mataku basah membasahi pipi dan tangan hangat ibu yang ku sandarkan.
                
“hm..ibu mengerti perasaan akane..” ibu membelai jilbabku.
               
Ibu kembali bekerja, aku masih suka mengkhawatir dengan kesehatan ibu yang masih belum pulih betul, namun ibu tetap keras pada pendiriannya.
                
“ibu akan pulang lebih awal dari biasanya” sembari memberikan senyum hangatnya padaku.
                
Sebuah hadiah yang diberikan ibu pada saat hari ulang tahunku dan hari naas itu, aku menatap kotak yang sudah penyok namun bajunya masih utuh.

bersambung ...
Akane Menemukannya

Akane Menemukannya Part II


Tidak ada lagi air mata yang basah dipipi. Air mata serasa sudah kering. Hidupku tetaplah terus berlanjut, ibu juga demikian, ia mencari pekerjaan bahkan double, untuk biaya hidup kami berdua. Senyum ibu perlahan kembali, ibu selalu memberiku cerita-cerita lucu. Namun senyumku sama sekali tidak terpancar dengan indah.

“ibu, berhenti bercerita seperti itu, tidak lucu” komentar itu yang selalu kukatakan, aku tahu kata-kataku itu tak seharusnya terucap,namun.

“ya,ibu tahu,hehehe” tapi ibu tetap tersenyum.

“maaf” aku hanya bisa menunduk.

Aku tidak bisa menepati janji ayah, hanya bisa mencegah air mata ini agar tidak terus-terus hadir menemani hariku. Cahaya? Aku tidak menemukannya, atau mungkin memang belum. Anak pemurung? Aku berusaha untuk tidak terus-terus berdiam diri, tapi bukan berarti aku menjadi periang seperti sebelum ayah meninggalkan kami.
                
Ibu? Ibu giat bekerja. dari mulut ibu tidak kudengar lagi ibu menyebut hal-hal tentang ayah, ibu seperti melupakan ayah, atau ibu berusaha agar aku tidak sedih. ibu bekerja dari pagi hingga pulang malam bahkan tidak jarang ibu pulang larut. Hari-hari ku sepi dirumah, sering ku meminta ibu untuk berhenti bekerja ekstra seperti itu.

“ini untuk masa depanmu, ibu harus mencukupi kebutuhan kita dan tabungan untuk kuliahmu”

“tapi,hanya ada aku dan ibu, semua juga sudah lebih dari cukup,” ingin aku mengatakan ‘apa ibu tidak kasihan melihatku terus-terusan sendiri?’ tapi tidak bisa kusampaikan, aku tidak ingin berkesan seperti anak manja, aku bukan akane yang manja ketika ada ayah dulu.

“tidak bisa begitu akane, ibu harus berusaha lebih dan lebih,mm” ibu membelai pipiku. “oia, sekolahmu lancarkan? Nilaimu bagaimana?”

“semua baik-baik aja”   

“kamu tetap harus juara, apalagi kamu tahun depan UN, dari sekarang kamu harus lebih giat belajar dan dapatkan bea siswa ke luar negeri,yahh”

“apa itu impian ibu”

“akane,tentu saja”

“hm..baiklah”

Aku tidak tahu apa yang menjadi impianku yang sesungguhnya. Jika itu memang menjadi impian ibu,maka itu juga impianku. Seperti ayah, aku tidak tahu apa yang menjadi warna favoritku, ayah selalu memberiku warna merah dan merah, itu membuatku menyukai warna merah,namun ibu? Beliau selalu memberiku warna lain, kata ibu, aku juga harus menyukai warna lainnya.

Mungkin aku seperti robot,tidak punya rasa dan jiwa. Namun aku melakukan apa yang bisa kulakukan. Menulis,membaca, bahkan juga menggambar. Aku menulis semua yang aku rasa, rasa rinduku,rasa sedihku, rasa senang yang suda hampir kulupakan,rasa kesal,harapan-harapan agar ibu cepat pulang dari kerja,semua kutulis, namun tak semua kukatakan pada ibu. Waktu kami berdua benar-benar sedikit.

Di sekolah aku tidak mempunyai teman yang bisa kuajak bicara. Hingga sampai pada kelas dua, aku dicari oleh seseorang yang membutuhkanku. Mereka bilang ingin memintaku menggambar sebuah komik untuk mading Rohis mereka. Aku awalnya menolak, namun lagi dan lagi mereka datang, dan aku terus menolak.
               
“kamu, tidak pernah bawa temanmu main kerumah kita”tanya ibu sambil mengambil nasi goreng untuk sarapan pagiku.

“tidak pernah”

“kenapa? Apa kamu tidak punya teman?” 

Aku hanya diam.

“kalau merasakan kesepian,ajak temanmu sesekali main kerumah kita-”

“akane berangkat dulu” aku belum sempat menyuap satu sendok nasipun, selera makanku tiba-tiba hilang. Aku pergi dan menyalami ibu dengan cepat.      

“akane...akaaaa...”

Meski aku terlihat tidak suka dengan perkataan ibu, tapi itu selalu menjadi pikiranku.

“akane”

“ya,”

“kami ingin kamu bisa mengabulkan permintaan kami? Bagaimana? Kali ini mau ya?”
Intan dan sri memohon padaku lagi. Aku juga sedikit merasa bersalah melihat mereka terus-terusan memohon. Tiba-tiba perkataan ibu tadi pagi terlintas.

“oke, tapi ada satu syarat”

“syarat? Apapun itu kami penuhi?”

Sepulang sekolah aku bersama dengan intan dan sri membuat komik muslimah untuk mading Rohis mereka di rumahku. Aku sempat merasakan ke-kikuk-an dalam melayani mereka. Tapi mereka tidak terlalu menanggapinya.
               
“waah..rumahnya akane besar, bagus juga ya sri” intan berseru.

“iya,,ya ntan” ikut mengangguk sambil menghabiskan cemilan

“oia..mana ibumu akane?” 

“ibuku kerja,pulangnya malam, jadi kalian jangan sungkan” 


Mereka melihat sekilas ekspresi tidak senangku. Semenjak itu mereka tidak menyinggung ataupun bertanya tentang kehidupan pribadiku.

bersambung ..
Akane Menemukannya

Akane Menemukannya


Saat ada kerinduan terdalam yang tidak sempat kau sampaikan...
Saat ada kesedihan hati yang tidak ingin kau tunjukkan...
Saat ada keinginan dan impian yang tidak bisa kau wujudkan...
Mungkinkah kau merasa hidup...??

***
Kenalkan namaku Akane wiransyah. Aku sangat suka warna merah, itu karena Ayah selalu memberiku hadiah dengan warna yang merah. Tempat tidur, walpaper dinding, semuanya didominasi oleh warna merah, sehingga lama-kelamaan aku menyukainya. Ayah juga pernah bercerita padaku, waktu aku bayi, kulitku sangat merah.

“Aka, kulitnya Aka, merah sekali,manis” seru ayah waktu menggendongku yang masih dalam tangisan.

Ayah bercerita penuh dengan kegembiraan.“aka dalam bahasa jepang berarti “Merah” itulah kenapa, ayah memberimu nama Akane” cerita ayah sambil membelai rambut lurusku waktu aku masih berumur 6 tahun.

Ayahku adalah orang keturunan jepang. Ayah sudah tinggal di indonesia sejak masih berumur 6 tahun, ibu ayah yaitu nenekku adalah orang jepang yang menikah dengan seorang yang mempunyai keturunan darah Indonesia yaitu kakekku. Tapi saat ayah sudah berumur 24 tahun, kakek dan nenekku meninggal dalam kecelakaan pesawat, peristiwa yang sangat membuat ayahku terpukul. Namun ayah bertemu dengan ibu, ayah jatuh cinta, ayah menemukan harapan.

“saat ayah menatap wajah ibumu, ayah menemukan cahaya hidup yang selama ini sudah hilang dari hidup ayah semenjak kakek dan nenek aka-chan meninggal” cerita ayah sambil merangkulku saat kami duduk disofa. Waktu itu aku berumur 8 tahun.
             
“akane” pesan ayah “akane harus tetap bersemangat dan temukan cahaya hidup,akane tidak boleh jadi anak yang pemurung, akane janji?” ayah dan aku melakukan janji kelingking.

“janji ayah” aku tesenyum manis, manis sekali.
           
Ayah selalu menasehatiku, mungkin memang wajar seorang ayah menasehati anaknya, namun kali ini lebih sering, lebih banyak,dan semua yang diceritakan tidak semua bisa kupahami karena mengenai masa lalu ayah.

“aka, tidak mengerti dengan kisah ayah yang ini?”

“tidak” aku menggeleng dan memanyunkan mulutku.
             
“heuuumm, kalau begitu akane tulis saja dicatatan atau dimana gitu, besok kalo akane sudah besar, ini akan menjadi nasehat yang bagus, yang penting akane tulis saja”

“oke,akane tulis,ingatan akane kan bagus,akane juga suka nulis” aku bergaya manja sambil menunjuk kepala dengan telunjuk. Ayah tertawa dengan tingkahku.

“ketawain apa siih? Ibu ikut nimbung dan menyubit ayah dan tidak mau berhenti tertawa, aku saat itu ikut tetawa riang bersama.
           
Hari-hari berlalu dalam kecerian. Aku semakin senang menulis, aku benar-benar menikmatinya walau aku masih belum mengerti betul apa yang ayah bicarakan. Hari ulang tahunku ke-9, ayah berjanji memberiku hadiah sebuah buku catatan yang indah dan warna merah yang menawan ditemani boneka bear yang warna merah, mataku berbinar-binar merasakan kesenangan.
           
“ayah,bingung mau ngasih apalagi, semua sudah akane punyai, jadi ayah belikan buku karena akane suka menulis”

“ini sudah luar biasa kok ayah” aku mengangkat hadiahnya tinggi-tinggi dan berputar “terimakasih ayah”

‘dan ini dari ibu” ibu memberiku sebuah kotak yang berisi topi kupluk warna biru.

“makasih ibu” aku mencium ibu.

Saat itu, ingin selamanya aku merasakan kebahagian ini selamanya bahkan ingin lebih dimasa yang akan datang, namun hidup bukanlah hanya ada suka, juga ada duka yang mendampingi.
Seminggu setelah hari ulang tahunku ke-9. Disaat ibu menanti kepulangan ayah dari tempat kerja, malam,larut malam. Ibu selalu menanti-nanti,sesekali menatap ponsel,sesekali menelpon ayah,namun ibu tidak mendapatkan kabar. Aku yang sudah mengua - nguap karena mengantuk diminta untuk tidur oleh ibu, aku menurut saja.

Namun esok harinya hingga sekarang, ayah tak kunjung pulang. Waktu itu ibu benar-benar panik, ibu menghubungi kantor tempat ayah bekerja,tapi mereka tidak tahu dimana keberadaan ayah, ibu menghubungi polisi untuk menemukan ayah, namun tidak ada satupun petunjuk yang mengarahkan kemana hilangnya ayah, hinnga polisi pun sudah melepas kasus itu. aku yang sewaktu itu hanya bisa menangis dan memanggil-manggil “ayah”, namun hanya kekosongan dan tetesan air mata yang mengalir tanpa henti, saat diam air mata terus mengalir.

                akane harus tetap bersemangat dan temukan cahaya hidup,akane tidak boleh jadi anak yang pemurung, akane janji? 


Kata-kata itu terus terngiang,dan berhasil membuat air mataku terhenti sejenak.  Aku sudah berjanji. Tapi aku  benar-benar sedih, kenapa ayah meninggalkanku tanpa jejak yang bisa kutemui.

bersambung ...

Akane Menemukannya