Aku hanya seorang gadis biasa yang ingin membahagiakan orang tua juga keluarga.
Namun, kadang aku tertatih memahami apa itu kebahagiaan.
Mungkinkah menjadi apa yang mereka inginkan? atau menjadi apa yang aku inginkan?
Sebesar apa dari yang aku inginkan atau orang yang inginkan dariku?
Sebuah persimpangan hadir tak bertepi....
Sebuah petunjuk tak mampu membuatku berhasil memutuskan dengan baik....
Apa yang harus ku pilih?
Ku masih tertatih memahami hakikat ini....
Sebuah ketidak konsisten pun akan terjadi atau malah memudar begitu saja...
Tak bisa dihindar atau dilawan.....
Aku cuman seorang gadis dan itu yang ingin ku katakan
Jumat, 29 Juli 2016
Kamis, 14 April 2016
ROBOT part III (End)
ROBOT ( Punya Perasaan)
“kau sudah sadar, syukurlah” suara lelaki yang sangatku kenal. Hanya satu-satunya yang bisa ku temui atau kuajak makan selain nenek. Ia adalah sepupu laki-lakiku yang baik. Ia tidak hadir saat warisan di bacakan. Ia dalam perjalanan keluar kota. Tapi aku tidak menyangka.
“aku benar-benar hilang akal, melihat tanganmu sudah berdarah-darah dan kau tidak sadarkan diri, aku sampai tidak mengerti apa yang kau pikirkan sampai berbuat seperti itu”
“papamu”suaraku lirih, merasa terasa lemas. aku ingat saat itu papanya dilarikan ke rumah sakit juga. Mungkin itu karena perkataanku yang mengintimidasinya.
“owh, papa, papa sudah dibawa pulang. Beliau baik-baik saja”
“oh, nona anda sudah sadar. Mohon maaf mas, saya harus periksa dulu pasiennya”
“baik, dokter" laki-laki itu seger berdiri"Aku keluar dulu” bisiknya padaku.
**
Aku berjalan-jalan di taman rumah sakit. sepupuku menemaniku sambil mendorong kursi rodaku. Aku melihat matahari sudah hampir diujungnya.
“aku mengira, setelah aku mengatakan bahwa aku akan memberikan semua harta warisan untuk bibi dan paman saja, mereka akan mulai menyayangiku dan ingin terus bersamaku, minimal mereka menganggapku ada”
“lalu apa yang kamu dapatkan?”
“mereka malah marah padaku. Aku tahu kalimatku seharusnya bisa lebih baik lagi dari itu”
“memang kata-kata apa yang kamu sampaikan? Ayo ceritakan apa yang terjadi pada hari itu?”
“apa mereka tidak memberi tahumu?”
Dia terdiam.
“setelah ku pikir, aku ingin menghabiskan harta warisan itu sendiri”
“bahkan kamu tidak ingin memberikanku?” katanya sambil bercanda. Aku tertawa.
“tidak. Tidak akan”
“keterlaluan.” Tapi ia mengatakannya dengan tawa lepas.
“aku ingin mendirikan sebuah yayasan panti asuhan. Aku ingin mereka tetap merasakan hidup layaknya orang-orang yang mempunyai keluarga. Diasuh dengan penuh cinta dan kasih sayang” dalam kalimat itu aku terus membayangkan wajah nenek yang menghabiskan sisa hidupnya untuk merawatku.
“hoho... kalimat itu keluar dari orang yang telah melakukan hal buruk pada dirinya”
“apa kau tidak senang?”
“maaf,maaf. Tapi aku senang, hal itu adalah hal yang sangat baik. Kamu juga harus janji padaku untuk terus bertahan hidup, jangan melakukan hal buruk itu lagi, jika kamu memang ada masalah jangan memendamnya sendiri lagi, bicaralah, kamu boleh mengatakannya padaku. Janji?”
“janji asal kau terus bersamaku.”
“baiklah.”
“aku akan jadi robot untukmu, berbicara saat kau ingin aku bicara, menangis saat kau ingin aku menceritakan kesedihanku, tertawa saat kau ingin aku terlihat gembira”
“kalau begitu aku tidak mau karena aku tidak mau bersama dengan robot. Kau tahu, robot itu tidak punya perasaan sama sekali, jadi aku tidak mau bersama dengan orang yang tidak punya perasaan”
“perasaan kah?” aku menatap matahari yang sudah semakin tenggelam. Langitpun terasa mulai gelap.
“hanya kau yang mengerti aku. Hanya dengan kau aku boleh bicara. Itu yang nenek katakan, aku jadi mengerti kenapa...”
“kenapa?” tanya perasaan sambil memandangku lekat.
“karena kau orang yang baik, dan mempunyai perasaan yang tulus”
Ia tersenyum manis padaku.
Aku memberinya sebuah pena hitam tebal. Aku memintanya untuk membuangnya. Aku tidak menjelaskan hal apapun tentang benda itu.
“itu alat perekam, aku inigin kau membuangnya” hanya kata itu yang kusampaikan diakhir pembicaraan kami disaat malam mulai tiba.
Aku diam-diam mengamatinya sambil duduk dikursi tunggu. Dia bilang dia akan pulang, tapi masih duduk disana. dia merogoh kocek sakunya dan mengeluarkan alat perekam berbentuk pena hitam tebal itu. ia mulai mendengarkan dengan seksama. Saat itu aku kembali mendorong kursi rodaku. Aku ingin istirahat dikamarku. Aku tidak menyuruh atau melarangnya untuk mendengar isi rekaman dalam benda itu. aku hanya menyuruhnya buang. Sepenuhnya adalah terserah padanya.
“setelah ini ia akan tahu apa yang sebenarnya terjadi” gumamku.
Apa aku salah?
Bukankah aku adalah seseorang yang tak diinginkan, namun kali ini izinkan aku berkata.
Aku juga ingin hidup untuk bahagia seperti dirimu dengan perasaan cinta dan kasih sayang.
Semua itu tentu membutuhkan harta tapi bukan berarti membabi buta hingga membenci diriku dengan mengatakan “Tak seharusnya kau ada, Dasar Robot”.
Perlahan mataku terbuka. Hal yang
pertama kali ku lihat adalah langit-langit kamar. Tapi ini bukan kamarku.
“kau sudah sadar, syukurlah” suara lelaki yang sangatku kenal. Hanya satu-satunya yang bisa ku temui atau kuajak makan selain nenek. Ia adalah sepupu laki-lakiku yang baik. Ia tidak hadir saat warisan di bacakan. Ia dalam perjalanan keluar kota. Tapi aku tidak menyangka.
“aku benar-benar hilang akal, melihat tanganmu sudah berdarah-darah dan kau tidak sadarkan diri, aku sampai tidak mengerti apa yang kau pikirkan sampai berbuat seperti itu”
“papamu”suaraku lirih, merasa terasa lemas. aku ingat saat itu papanya dilarikan ke rumah sakit juga. Mungkin itu karena perkataanku yang mengintimidasinya.
“owh, papa, papa sudah dibawa pulang. Beliau baik-baik saja”
“oh, nona anda sudah sadar. Mohon maaf mas, saya harus periksa dulu pasiennya”
“baik, dokter" laki-laki itu seger berdiri"Aku keluar dulu” bisiknya padaku.
Dokter mulai menanyakan apa aku
masih merasa pusing. Karena aku kehabisan banyak darah. Untunglah aku segera
dibawa rumah sakit sehingga masih bisa tertolong.
**
Aku berjalan-jalan di taman rumah sakit. sepupuku menemaniku sambil mendorong kursi rodaku. Aku melihat matahari sudah hampir diujungnya.
“aku mengira, setelah aku mengatakan bahwa aku akan memberikan semua harta warisan untuk bibi dan paman saja, mereka akan mulai menyayangiku dan ingin terus bersamaku, minimal mereka menganggapku ada”
“lalu apa yang kamu dapatkan?”
“mereka malah marah padaku. Aku tahu kalimatku seharusnya bisa lebih baik lagi dari itu”
“memang kata-kata apa yang kamu sampaikan? Ayo ceritakan apa yang terjadi pada hari itu?”
“apa mereka tidak memberi tahumu?”
Dia terdiam.
“setelah ku pikir, aku ingin menghabiskan harta warisan itu sendiri”
“bahkan kamu tidak ingin memberikanku?” katanya sambil bercanda. Aku tertawa.
“tidak. Tidak akan”
“keterlaluan.” Tapi ia mengatakannya dengan tawa lepas.
“aku ingin mendirikan sebuah yayasan panti asuhan. Aku ingin mereka tetap merasakan hidup layaknya orang-orang yang mempunyai keluarga. Diasuh dengan penuh cinta dan kasih sayang” dalam kalimat itu aku terus membayangkan wajah nenek yang menghabiskan sisa hidupnya untuk merawatku.
“hoho... kalimat itu keluar dari orang yang telah melakukan hal buruk pada dirinya”
“apa kau tidak senang?”
“maaf,maaf. Tapi aku senang, hal itu adalah hal yang sangat baik. Kamu juga harus janji padaku untuk terus bertahan hidup, jangan melakukan hal buruk itu lagi, jika kamu memang ada masalah jangan memendamnya sendiri lagi, bicaralah, kamu boleh mengatakannya padaku. Janji?”
“janji asal kau terus bersamaku.”
“baiklah.”
“aku akan jadi robot untukmu, berbicara saat kau ingin aku bicara, menangis saat kau ingin aku menceritakan kesedihanku, tertawa saat kau ingin aku terlihat gembira”
“kalau begitu aku tidak mau karena aku tidak mau bersama dengan robot. Kau tahu, robot itu tidak punya perasaan sama sekali, jadi aku tidak mau bersama dengan orang yang tidak punya perasaan”
“perasaan kah?” aku menatap matahari yang sudah semakin tenggelam. Langitpun terasa mulai gelap.
“hanya kau yang mengerti aku. Hanya dengan kau aku boleh bicara. Itu yang nenek katakan, aku jadi mengerti kenapa...”
“kenapa?” tanya perasaan sambil memandangku lekat.
“karena kau orang yang baik, dan mempunyai perasaan yang tulus”
Ia tersenyum manis padaku.
Aku memberinya sebuah pena hitam tebal. Aku memintanya untuk membuangnya. Aku tidak menjelaskan hal apapun tentang benda itu.
“itu alat perekam, aku inigin kau membuangnya” hanya kata itu yang kusampaikan diakhir pembicaraan kami disaat malam mulai tiba.
Aku diam-diam mengamatinya sambil duduk dikursi tunggu. Dia bilang dia akan pulang, tapi masih duduk disana. dia merogoh kocek sakunya dan mengeluarkan alat perekam berbentuk pena hitam tebal itu. ia mulai mendengarkan dengan seksama. Saat itu aku kembali mendorong kursi rodaku. Aku ingin istirahat dikamarku. Aku tidak menyuruh atau melarangnya untuk mendengar isi rekaman dalam benda itu. aku hanya menyuruhnya buang. Sepenuhnya adalah terserah padanya.
“setelah ini ia akan tahu apa yang sebenarnya terjadi” gumamku.
Ketika dihadapkan uang,
orang-orang secara tidak langsung ataupun langsung akan menunjukkan sifat
aslinya sadar atau tidak sadar. Dengan pura-pura memakai topeng kebaikan atau
langsung menampakkan keburukannya.
Apa aku salah?
Bukankah aku adalah seseorang yang tak diinginkan, namun kali ini izinkan aku berkata.
Aku juga ingin hidup untuk bahagia seperti dirimu dengan perasaan cinta dan kasih sayang.
Semua itu tentu membutuhkan harta tapi bukan berarti membabi buta hingga membenci diriku dengan mengatakan “Tak seharusnya kau ada, Dasar Robot”.
TAMAT.
Pekanbaru, 14 April 2016.
Isyarayle.
Thans to Allah.
ROBOT part II
ROBOT (Mendapat Warisan)
4 tahun kemudian.
Berselang seminggu setelah hari wisudaku. Nenek pergi meninggalkanku. Hampir Seluruh harta warisan punya nenek, ditulis atas namaku. Padahal masih ada anak-anak nenek yaitu bibi-bibiku serta sepupuku yang berhak mendapatkan lebih dariku.
Berselang seminggu setelah hari wisudaku. Nenek pergi meninggalkanku. Hampir Seluruh harta warisan punya nenek, ditulis atas namaku. Padahal masih ada anak-anak nenek yaitu bibi-bibiku serta sepupuku yang berhak mendapatkan lebih dariku.
“Entah apa yang bisa kukatakan, kau sudah berhasil menguasai nenek selama ini” kata bibiku anak pertama dari nenek ,ketika hari setelah pemakaman yaitu hari dibacakannya warisan. “kau sudah berhasil menjadi boneka nenek, dan kau sudah berhasil menjatuhkan nenek...”
“sekarang apa yang akan kau lakukan, hah?” kata bibiku anak ketiga dari nenek. meninggikan suaranya dan seperti akan berdiri ingin menyerangku tapi ditahan oleh bibiku-anak pertama nenek.
“apa kau ingin menghabiskannya sendiri, anak sombong?” kata pamanku anak bungsu dari nenek.
“pa, kenapa harus dia sih yang dapat banyak, aku malah gak ada sama sekali disebutkan dalam warisan nenek, nenek pilih kasih” kata sepupu perempuanku.
“apa aku harus menjadi robot nenek seperti dia biar bisa mendapatkan warisan itu ma?” kata sepupu laki-lakiku.
Aku hanya bisa menunduk. Mengenggam tanganku yang dingin sambil mendengarkan kalimat-kalimat mereka sampai membuat telingaku terasa panas. Tapi..
“heeh? Kalian iri kan?” aku mulai bersuara. “kalian bisa mendapatkan semua warisan atas namaku menjadi milik kalian, dengan begitu kalian tidak akan bersuara-suara cempreng lagi” mereka mulai terdiam. Aku tidak menatap mereka. Tapi ku rasa mereka sedang fokus melihatku sekarang mendengarkan kalimatku berikutnya.”tapi, ada syaratnya...”
“Ap—APA” salah satu bibiku ragu, ia gengsi untuk mengetahuinya.
“jadilah robotku selama seminggu, HANYA SE-MI-NG-GU, dengan beg---“
Plakk!!!
Tamparan mendarat di pipiku. Cacian mulai bernyanyi dengan harmonisasi mereka. Aku sudah menduga ini terjadi. Bagaimana perasaan mereka. Hancurkah?
“Kenapa menamparku? Bukankah kalian mengatakan bahwa aku mendapatkan semua warisan ini karena aku sudah menjadi robot atau boneka atau apalah, ya kan? Hahahahaha” aku mulai menggila, aku tertawa berusaha tanpa beban walau tidak ada hal yang lucu sama sekali. Jauh dilubuk hatiku, aku menahan sakit, sedih. Bibirku bergetar.
“Kau anak tak tau diuntung, seharusnya kau tidak ada di dunia ini, kau seharusnya mampus bersama kedua orang tuamu, kenapa kau masih saja selamat hah? Aaarrrggghh.... seharusnya aku melakukan hal lebih, seharusnya aku membuangmu ketika bayi, arrrggghh.... sungguh MENYEBALKAN!!” paman frustasi ia berteriak sambil memegang kepalanya yang seakan hampir pecah.
Aku terdiam. Mulutku menganga tapi tertahan, mataku melotot memandangi paman. Apa yang barusan paman bilang. Menghabisi aku dan kedua orang tuaku, membuangku ketika bayi? Apa aku tidak salah dengar?.
“Adikku, kenapa kau membicarakan hal itu kau sudah gila hah?” bibiku berusaha menenangkan paman yang sudah seperti orang mabuk. Hilang kendali.
“Huh” dengan sisa-sisa tenaga. Dengan menguatkan bathin dan air mata yang ingin menangis mendengar fakta yang menggemparkan jiwaku, aku berusaha bersikap biasa. Poker face. “apa paman tidak mau? Setelah berusaha keras menghabisi orang tuaku dan menyesal telah membiarkanku selamat hingga sekarang bisa berkumpul bersama dengan paman? Aku berjanji akan memberikan warisanku untuk paman, hanya paman saja lho....”
“Kau......dasar kau...aku akan mem—argh..argh...dadaku...dadaku sakit” paman pingsan tak sadarkan diri.
Paman dilarikan ke rumah sakit. semua pergi meninggalkan ruang tamu, di rumah nenek yang mewah ini. hanya aku sendiri yang masih duduk terdiam. Air mata tanpa suara. Air mata yang terus mengalir. Dengan semua perang pemikiran yang terjadi. Orang tuaku pun bahkan tak diinginkan kehadirannya.
Untuk apa semua ini nek? Untuk apa
nenek melakukan ini. nenek tidak inign membiarkanku keluar tanpa izin dan
sepengtahuannya. Nenek bahkan terus-menerus menolak ajakan bibi-bibi dan
pamanku sekeluarga jika ada liburan bersama. Nenek akan menyuruhku belajar dan
terus belajar. Apa maksud nenek untuk semua ini.
Di meja tamu. Tepat dihadapanku. Ada sebuah mangkok besar berisi buah-buahan kesukaan nenek. Apel,jeruk dan pir. Dan juga sebuah pisau. Ia terlihar berkilauan. Tersembunyi.
“Apakah seharusnya aku tak ada didunia ini?” aku beranjak dan mulai melangkah. Perlahan-lahan. Aku sudah berada dihadapan pisau itu. tanganku bergetar meraihnya. Air mataku terus basah. “nenek, apa memang aku tak diinginkan di dunia ini?” aku dekatkan pisau itu tepat di denyut nadi tangan kiriku. Tangan kananku yang memegang pisau bergetar, terasa berat. Aku tak mampu memandangnya. Benar-benar tak mampu.
Dan. Dunia mulai terasa gelap. Sakitnya
mulai terasa hilang. Apa aku sudah mati?
***
Aku tidak diizinkan melihat wajah kedua orang tuaku. Dan jangan coba-coba menanyakan tentang kedua orang tuaku. Aku tidak diizinkan bicara jika tidak disuruh bicara. Tapi, awan hitam saja jika sudah berkumpul dan menyatu lalu mulai terasa berat akan menumpahkan air ke bumi, lalu bagaimana dengan diriku. Keberanian yang kecil itu perlahan-lahan terkumpul menjadi besar, hingga muncul pertanyaan.
”Apa,apa aku ini robot bagi nenek?”
Nenek yang terlihat murka sebelumnya. Mulai melemaskan wajahnya yang tegang. Tangannya yang mengepal mulai terlepas. Wajah amarah berganti menjadi wajah merasa bersalah. Nenek terlihat bingung. Begitupun dengan diriku. Aku bingung apa ada hal aneh atau yang menyakitkan dari kalimatku tadi? Aku hanya bertanya, hanya memastikan. Lalu kenapa?
Nenek jatuh terduduk. Ia terkulai
lemas. Nenek mulai menangis. Ia menutup mukanya. Nenek terus menangis.
“Nenek” semakin ku memanggilnya tangisnya semakin jadi.
Aku menjadi sedih. Mungkin benar sebaiknya aku tidak bicara apalagi bertanya. Aku iba melihat nenek menangis.
Aku peluk nenek. Aku peluk nenek dengan penuh rasa bersalah. Tubuh nenek yang ringkih membuatku tersadar, ia hanyalah seorang nenek yang berusaha menyayangi cucunya.
“Maafkan aku nenek, maaf”
“Tidak, akulah yang harus meminta maaf. Cucuku” wanita tua itu melepas pelukanku. Ia menyentuh pipiku dan menatap wajahku lekat-lekat. “aku memang sering mengatakan hal yang menyakitimu, tapi aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu terlihat seperti robot, nenek hanya ingin kau selalu disisi nenek, dan selalu mendengarkan nenek, maafkan keegoisan nenek, sayang”
Aku terharu. Semua rasa sakitku, seperti hanyut bersama air mata ini. aku memutuskan untuk selalu patuh pada nenek. Bukan ingin menjadi robot ataupun menjadi cucu kesayangan nenek. Hanya mengikuti keinginan nenek. Selalu disisi wanita tua itu.
Nenek berpesan.
“Jika tiba hari dimana dibacakan surat warisan, aku ingin kau melakukan tugas penting ini”
“apa itu nenek?”
“Merekam semua pembicaraan dari awal hingga akhir, akhir disini sesuai keinginanmu saja, sampai mana kau ingin merekamnya, merekam sampai semua komentar mereka juga tidak apa-apa”
“Mereka maksud nenek?”
“Bibi dan pamanmu serta keluarga
besarnya” ucap nenek pelan namun tegas.
***
next ROBOT part III (End)
ROBOT part I
ROBOT ( Kau tak seharusnya ada)
Aku adalah seorang anak yang tak diinginkan
kehadirannya. Aku hidup bersama dengan nenekku. Ibuku atau ayahku, aku tidak
tahu dimana mereka,Bagaiamana wajah mereka, bagaimana suara mereka, seperti apa
mereka memanggilku. Aku tidak tahu.
Nenekku selalu memarahiku. Setiap
hal yang kulakukan selalu salah dimatanya. Setiap makian yang dimuntahkan
kepadaku adalah kalimat yang membuat pikiranku selalu bertanya
“kenapa aku hadir di dunia ini?”.
“kenapa aku hadir di dunia ini?”.
Walau nenek menganggapku adalah
sebuah beban namun ia terus-menerus merawatku. Menyuruhku makan, menyuruhku
mandi, atau mengecek kamarku setiap malam memastikan apakah aku sudah tidur
atau belum. Aku tidak mengerti sikap nenek. Ia sangat membenciku tapi ia juga
terus merawatku.
“apa kau sudah makan?”
“belum”
“kenapa kau tidak makan? Kau
harus makan, apa kau ingin sakit? apa kau ingin menghabiskan uang nenekmu agar
kamu bisa dirawat di rumah sakit,hah? Jangan menambah masalah lagi, cepat makan
sana” nenek terus menceramahiku, kalimat peduli namun dibumbui kalimat
nyelekit.
“baik”
Tahun-tahun berlalu, bak daun
yang berguguran. Aku tumbuh dewasa. Dan satu bulan lagi aku akan lulus sma. Nenek
sibuk memilih perguruan tinggi mana yang akan ku masuki. Ia menelpon kepada
orang-orang yang sering ia ajak diskusi. Meminta saran dan rekomendasi
perguruan tinggi mana yang cocok untukku nanti. Tapi aku tidak begitu antusias. Aku
sudah mempunyai pilihanku sendiri.
“aku tidak mau kuliah,”
“Apaaa?” nenek benar-benar terkejut mendengar kalimatku. Bak petir di siang bolong. Matanya melotot ingin keluar. Ku lihat wanita tua itu mengepalkan tangannya sambil menahan amarah.
“apa kau sudah gila? Kau ingin menelantarkan dirimu dan mengumumkan pada semua orang bahwa aku sudah menyia-nyiakan orang yang seharusnya tak hadir di dunia ini, begitu hah?”
Aku terkejut mendengar kalimat itu. aku sebagian terharu,tapi sebagian lagi marah,sebagian lagi tak mengerti,sebagian lagi ingin memintanya untuk menjelaskan lebih jelas, aku ini diharapkan atau tidak. Jika memang aku tak diinginkan kenapa tidak membuangku saja dari dulu. Dariku masih bayi, sehingga tak perlu menghabiskan waktu,tenaga dan uang untuk membesarkanku. Tapi hanya kata itu yang bisa kutanyakan.
“kenapa nenek ingin sekali aku kuliah? padahal bisa saja nenek menyuruhku bekerja dengan begitu aku bisa memberi nenek uang, dan cepat atau lambat aku bisa mengganti semua uang nenek yang telah membesarkan dan menyekolahkanku, jadi unt----“
Plak!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku tidak menyangka nenek akan menamparku. Aku memegang pipiku yang sakit dan mengelus-elusnya. Aku melihat wajah nenek. Dan. Deg!!
Nenek menangis. Tangisan tanpa
suara. Aku belum pernah melihat nenek menangis. Mungkin pernah tapi aku tidak
pernah melihatnya secara langsung.
“Ne-nenek,ke—“
“berhenti bicara, kau tidak punya hak bicara, kau hanya perlu mendengarkan kataku, makan, maka kau harus makan!, tidur, maka kau harus tidur!!, sekolah, maka kau harus sekolah!!!, dan kuliah..KULIAH...maka kau harus kuliah!!!!.kau...kau” nenek mengatakannya dengan penuh amarah dan air mata, tangan yang bergetar yang terus menunjukku. Butiran mata yang terus membasahi pipi setiap mengatakan kata “kau”.
Aku hanya diam. Terus mendengarkan. Tanpa terasa air mataku juga jatuh.
“Apa-apa aku ini robot bagi nenek?”
***
next ROBOT part II
Selasa, 22 Maret 2016
Untaian Pikiran
Yah, tugas kita Hanya TAAT, itu
saja.
Sudah banyak hal yang terjadi,
segala kesedihan, kegembiraan, kenangan indah, luka yang berbekas,
air matanya
yang sudah tak terhitung berapa kali jatuh, dan tidak tahu sudah berapa
kesalahan yang
terjadi dan apakah sebanding dengan kata maaf yang terucap, dan
sudah berapa lapang hati kita untuk
memaafkan seseorang yang telah menghujam
hati dan jantung, entah berapa kalimat keluhan yang
terlempar pada dunia yang
indahnya saja manusia tidak bisa lukiskan sekalipun diberikan tinta lautan
yang
ada diseluruh dunia ini. Tugas kita, Hanya TAAT kan? Itu.
Uwaaaah......kalimatku lari entah
kemana-mana, aah, yang penting inilah yang aku rasakan dan
segala pikiran yang
melayang begitu saja dikepalaku sehingga bisa tercatat disini, mungkin bisa
lebih
banyak lagi, dan bisa lari-lari kemana lagi, karena tidak bisa secepat
pikiran yang dengan cepat
berpindah-pindah, dari ingatan satu ke ingatan lain,
dari pikiran satu ke pikiran lain, jika ada clue
baru maka semua pecah, pikiran
rasanya pecah, hendak memburu apa saja yang ada dipikiran, namun
tidak semu apa
yang dipikirkan bisa tertulis, karena tidak semua pikiran baik yang bisa kamu
tujukan
pada orang yang sangat berharga bagimu tidak ingin mereka berpikiran
buruk tentang halmu, maka
itu ada banyak hal yang tersembunyi dalam diri kita,
semuanya benar-benar misteri, seperti itulah
dunia, semua adalah misteri, namun
kita berusaha mencari-cari dan menebak-nebak apa yang terjadi.
Cinta is Love
Cinta? Menurutku?
Aaahhh...hmmm.....apa ya?
Love kah? Hahahaha...
Cinta itu adalah anugerah Allah yang luar Biasa.
Dengan hal itu Cinta tak bisa diterjemahkan dengan hal yang
biasa.
Cinta? Cindua Tapai kata orang? Hahaha... yaaaa...chinca
>,< mereka kira makanan...
No..no...
Cinta lah yang menerangkan apa cinta itu..
Begitu banyak yang mendefinisikan apa itu Cinta.
Cinta itu fitrah manusia. Ia suci. Tinggal bagaimana manusia
membawa arti cinta yang telah diberikan kepada manusia yang awalnya suci.
Jika cinta itu diarahkan pada hal yang sebenarnya Cinta itu
ditempatkan, maka Cinta tetaplah suci, sebagaimana Yang Maha Cinta Dzat Yang
Maha Suci.
Janganlah coba-coba menerjemahkan cinta jika kamu belum
pernah merasakan cinta ,apalagi jatuh dan tak berusaha segera membangunkan
cinta ..hahaha..gomen :p
Yap...so,jadi Cinta itu apa?
Cinta lah yang menerangkan apa cinta itu..
Kalau kamu??
#JanganBaper -.....-
By: isyarayle
Rindu Senja Part III ( Akhir untuk sebuah permulaan )
Awan. Hanya ada awan terlihat. Perjalanan
yang begitu terasa panjang.
Aku
sibuk dengan berbagai pikiran yang berkacamuk. Aku akan bertemu dengannya. Apa
kata yang akan kusampaikan?. Semua menjadi pikiranku.
“makanlah,
kamu dari tadi belum makan” seseorang itu menawarkanku roti tawar yang sudah
diolesi selai pandan kesukaanku. Aku hanya menatapnya saja.
“makanlah”
seseorang itu sudah mau menyuapiku. Tapi aku mengambil roti itu dari tangannya dan
memakannya sedikit. “harus habis ya” seseorang itu juga mengambil roti yang
sama denganku. Ia melahap makanan itu.
Setahun setelah kepergian ibu. Hidupku terasa
hampa. Aku semakin terpukul ketika mendengar cerita yang selama ini ibu simpan
dariku bahwa Ayah kembali pulang, dalam keadaan sehat tak ada kurang satu pun.
Ibu sangat terkejut, ibu saat ingin memeluk Ayah saat itu tapi tidak bisa. Rindu yang sudah menahun itu tak bisa ia
lampiaskan. Tangan Ayah sudah ada yang mengenggam. Dua orang yang mengenggam
itu tak ingin melepaskan Ayah agar bisa lebih dekat dengan ibu. Ibu sedih,
orang yang dirindukan sudah tak lagi menjadi miliknya. 14 tahun menghilang,
kini kembali, sudah tak sama lagi,sudah tak bisa seperti dulu lagi.
“kita
sudah mau landing, jangan lupa sabukmu” lamunanku buyar mendengar kalimat itu.
Perjalanan
yang melelahkan tubuh dan batinku. Sesekali aku memandang dia yang tengah sibuk
sendiri dengan semua barang bawaan. Aku ingin sekali membantu, walau kepergian
kali ini tidak membuatku senang , tetapi aku juga tidak ingin menjadi bebannya.
“sayang,
kamu duduk saja disini, biar semuanya aku yang ur....”
“aku
bisa sendiri, aku baik-baik saja, jangan khawatir” aku memaksa diri untuk ikut
menarik koperku. Dia tidak bisa berbuat apa-apalagi selain mengawasiku.
Aku
dan dia berlanjut menuju hotel. Dalam perjalanan aku tertidur, tubuhku terasa
lemah. Perjalanan yang melelahkan. Batinku.
Setiba
di hotel, aku membereskan diri, mandi,setelah mandi dan makan malam di restoran
aku menyiapkan pakaian untuk besok. Saat semua suah disiapkan aku merebahkan
diriku dan berusaha memejamkan mata, tapi tidak bisa. Aku melirik dia yang
sudah tertidur pulas. Aku berusaha membelai rambutnya.
“sayang,
kamu belum tidur?” suaranya serak. Aku tertegun. Aku membangunkannya.
“tidurlah...” ia berbalik dan memegang pipiku yang basah. “tidurlah...”
senyumnya yang terkembang diwajahnya yang kelihatan ngantuk berat.
“maafkan,
aku” bisikku padanya. Aku merasa bersalah. Seseorang yang telah menemaniku
selama ini, seseorang yang tak lelah mendengar cerita sedihku, seseorang yang
selalu membawa kebahagiaan tersendiri dalam hidupku, aku benar-benar merasa
bersalah padany, tapi aku bisa apa, saat aku sudah membuatnya repot, bagaimana
aku bisa menolak keinginan yang jarang ia utarakan kepadaku, setelah semua
keinginanku selalu ia penuhi.
“tidak
apa-apa sayang” kalimat itu semakin membuatku sedih. Seseorang yang sangat
baik.
***
Beef
steak. Menu makan malam di restoran itu. aku sedari tadi hanya menunduk
menunggu kedatangannya.
Ia tidak akan datang. Begitu pikirku.
“Selamat
Siang”
Aku
mendongakkan kepalaku. Aku melihat seorang yang berambut tebal dengan sedikit
uban, dengan jenggot yang menghiasi wajahnya, matanya yang teduh dan senyumnya
yang terkembang.
“Maaf,
sudah membuat kalian menunggu”
“tidak
apa-apa, kami juga baru sampai” seseorang disampingku yang menjawab dengan
ramah. Mereka lalu bersalaman. Dan setelah itu...
“Ayah
merindukanmu, sayang”
Aku
tidak menjawab apa-apa. Mataku berkaca-kaca ingin menangis. Aku berusaha
menahan nangis.
sayang, kamu maukan memaafkan Ayahmu?.
Aku
tertegun. Tiba-tiba pertanyaan itu mengingatkanku pada ibu.
“aku...”
suaraku bergetar. “aku...aku” mata Ayah tertuju padaku. Seseorang disampingku
memandangku.
“aku...aku
ingin pulang” aku sudah ingin berdiri. Seseorang disampingku menahan tanganku.
Dia menggeleng, agar aku jangan pulang.
“sayang,
maafkan Ayah”
Maaf?.
Maaf?
Ayah
minta maaf padaku?
Untuk
semua yang telah Ayah lakukan selama ini, pergi meninggalkan aku dan ibu, tanpa
ada kabar dan sekarang....Ayah minta maaf. Terlambat. Aku sudah terlanjur
sakit.
“Ayah,
benar-benar merasa bersalah” ia terus melanjutkan semua penyesalannya “Ayah
sudah menyakitimu, sungguh maafkan Ayah” suaranya tercekat.
Lukaku.
Lukaku semakin bertambah. Entah kenapa aku merasa menjadi orang yang jahat.
“sayang,
maafkan Ayah...”
“tidak...”
aku harus menyampaikan semua hal ingin aku katakan padanya. Selama
bertahun-tahun aku ingin sekali mengatakannya ketika berumur 8 tahun, dan
dengan semua pertanyaan yang ingin selalu kutanyakan pada Ayah, tapi aku takut
dengan semua penjelasannya, cukup aku menganggap Ayah sudah bersalah dan kini hanya
tinggal memafkannya, dan saat inilah aku harus...”tidak..bisa kumaafkan,” aku
menangis mengatakan itu “itu yang ingin kukatakan jika bertemu Ayah, tapi
setelah benar-benar bertemu denganmu, aku tidak bisa untuk tidak memaafkanmu,
apalah aku, aku hanya manusia lemah, ditinggal
pergi oleh orang yang kusayang, aku hanya berusaha ikhlas” air mataku
semakin deras tapi aku tidak berniat menghapusnnya “aku..aku...” seseorang yang
disampingku memegang erat tanganku. “merindukanmu selama ini, Ayah” aku merasa
lega. Aku benar-benar merasa lega. Itulah yang selama ini aku sampaikan
padanya. Aku merindukan Ayah, aku merindukan Ayah setiap aku menatap senja,
setiap aku menyaksikan detik-detik matahari terbenam aku selalu merindukan
Ayah.
sayang, kamu maukan memaafkan Ayahmu?
Ibu,
aku ingin bisa seperti ibu, memaafkan seseorang yang melukai hati ibu. Membuatku
belajar ikhlas selama ini dari ibu. Mungkin ada kerinduan yang mendalam dan
kebencian yang masih bertengger dihati ini lah yang sangat sulit menjawab
pertanyaan ibu selama setahun yang lalu,namun setelah bertemu dengan Ayah
secara langsung, aku tidak bisa menyembunyikan kerinduanku. Aku benar-benar
berterimakasih pada seseorang yang ada disampingku. Ia telah berhasil membawaku
menemui Ayah walau sudah beberapa kali aku menolak.
“Ayah,
juga rindu padamu, sayang” ayah berjalan mendekatiku dan memelukku.
Inikah
yang menjadi ketakutanku?. Aku takut bertemu dengannya, aku takut hanya bisa
menatapnya dengan kebencian yang mendalam dan tak bisa menyampaikan hal yang
paling ingin kukatakan. Aku Rindu Ayah, rindu saat bersama melihat senja juga
Ibu.
“Selamat
Ulang Tahun,Sayang” Ucap Ayah sambil memberiku sebuah kotak berwarna biru
dengan pita kuning. Aku terharu, kalimat itu yang sudah 15 tahun yang lalu ku
nantikan.
“Dan
ini untuk calon cucu Ayah” bungkusannya besar.
“Ayah....”
Ayah
tersenyum. Raut wajahnya bercampur antara bahagia dan senang.
Kebahagiaan
ini belum berakhir kan?
Aku
ingin terus kebahagiaan hadir selalu dihidupku, dihidup seseorang yang memegang
hangat tanganku, dan calon bayiku serta Ayah.
Seseorang
disampingku, yang akan menjadi seorang Ayah, suamiku. Aku terus membisikkan
kata padanya, agar ia jangan meninggalkanku juga anakku nantinya, aku tidak
ingin lukaku ini tidak dimiliki oleh anakku.
“Hari
ini bagaimana kita melihat senja bersama, Ayah sudah Rindu”
Ayah
sama sepertiku, ia tak sanggup menikmati sunset, teringat kenangan yang membuat
orang tersayang terlukai oleh sikapnya.
“iya,
Ayah”
Peristiwa
detik-detik matahari terbenam memberi banyak pelajaran, untukku, untuk Ayah dan
untuk suamiku. Tiba-tiba saja aku merasakn kehadiran ibu disampingku. Ia
tersenyum, senyum yang indah.
Aku,
Sayantika Rahma. Aku biasa dipanggil ‘Sayang’ oleh orang terdekatku, dan
seseorang disampingku adalah teman masa kecilku, dia juga menemaniku melihat
sunset saat permintaan Ibu terakhir kalinya. Aku mencintainya karena Allah.
Cerita
ini adalah sebuah kerinduan akan Senja dikala waktu itu, bersama yang
tersayang.
Rindu Senja
By: IsyaRayle
Pekanbaru, 15 Maret 2016. Di
sebuah kamar kecilku.
Langganan:
Postingan (Atom)
Categories |
Popular Posts
|




