Minggu, 12 Maret 2017

My Story About You : Episode 6 (Aku dan Kamu saat Gerimis)


Udara pagi hari selalu memberi kesejukan dihati ini. Meski pagi hari aku tidak boleh terlambat untuk sarapan. Segelas susu coklat dan mineral serta sarpan pagi dan cemilan wajib harus segera kukunyah. Tubuhku tak sekuat tekadku. Menderita gagal jantung 6 tahun yang lalu, serasa duniaku akan segera berakhir. Demi biaya berobatku, seluruh keluargaku bekerja ekstra, Kak syahnaz yang baru saja wisuda segera mencari kerjaan dan setelah itu seluruh gaji dari hasil proyeknya dihabiskan untuk biaya operasiku.

“Kamu jangan kalah semangat sembuh dari kami ini ya, kamu harus kuat” Ucap kakak sambil mengenggam erat tanganku sebelum perawat membawaku ke ruang operasi.
Perjuangan hidupku terbesar mungkin adalah saat itu, Antara hdup dan mati.
Namun untuk kali ini, jantungku masih saja berdetak cepat. Melihat sosok yang begitu menyilaukan mata.

Aku dulunya tidak begitu mengenalnya meski sudah bertahun-tahun menjadi tetangganya. Hingga suatu hari., ketika aku terjatuh pingsan dalam perjalanan pulang sekolah, dia lah yang menolongku.
Menyadari kebaikannya dan senyumnya yang manis, membuat jantungku berdetak lebih cepat.

“Gambarmu bagus,” Pujinya ketika menyapaku yang sedang mengambar pemandangan di bukit dekat rumah Pak RT. Tempat itu cukup ramai dan biasa dikunjungi turis yang sedang berwisata. Dari bukit itu bisa melihat pemandangan hijau dan rumah petak yang bersusun rapi.

“Terimakasih, Bang” Ucapku setengah tidak percaya,satu untuk kebaikan hatinya menghargai gambarku, dua untuk sapanya padaku.
Dia salah satu orang yang membuat semangat menggambarku semakin menggebu selain pinky.
***
Aku sudah selesai berkutat dengan poster ini. Aku merasa sudah cukup lama mengerjakannya padahal ini bisa dikerjakan dalam waktu singkat, mau bagaimana lagi, aku tidak boleh terlalu memporsir.

Aku berlari menuju ke lantai bawah, ini sudah jam ia datang ke warung biasanya.
Sesampai dibawah aku perlambat langkahku, mengintip apakah ia sudah datang atau belum. Tapi warung ibu masih sepi, apa karena hari ini gerimis ya?.

“Bang Afkar sudah kesini belum buk?” Aku memberanikan diri bertanya pada ibu. Ini kali keduanya aku tidak seperti biasanya, sebelumnya syarif bilang ‘tumben’.

“Sudah, baru aja. Kenapa?” Ibu mejawab sambil menyiapkan pesanan orang yang baru saja datang.
Aku merasa sedikit kecewa atas keterlambatanku.

“Kamu nyari dia? Langsung ke rumahnya aja, tadi dia juga nanya-in kamu,”

“Ibu serius?” Aku kaget bukan kepalang. Bang Afkar menyariku?. Tidak-tidak, jangan berlebihan tentu saja menyariku untuk menanyakan tentang posternya.

“Kalau gitu Mila ke rumah bang Afkar bentar ya bu, mau kasih ini” Aku menunjukkan gulungan poster itu pada ibu. Ibu hanya mengangguk cepat.

“Jangn lupa pakai payung, gerimis”

“Ya bu”

Aku bergegas mengambil payung. Tidak ingin terlambar kali ini, bisa –bisa si pemilik senyum manis segera pergi ke kampus.
Benar dugaanku, dia sudah mengeluarkan motornya. Dan sudah didepan pagar siap meng-gas motor dan pergi.

“Assalamu’alaikum bang” Aku berlari mendekatinya dengan nafas yang ngos-ngosan.

“Wa’alaikumsalam Syarmila”

“Maaf Mila terlambat kasih posternya, ini” aku menjulurkan gulungan poster.
Dia menerima gulungan posterku dengan senyum manisnya. Aku melihat bajunya yang sedikit basah karena rintik hujan. Aku refleks memayunginya. Dia terlihat sangat kaget.

“Tidak apa Syarmila, lebih baik untuk kamu aja, kamu nanti bisa basah” Ia mendorong payungnya ke arahku.

Bukan hanya dia yang kaget, bahkan aku sendiri juga tidak menyangka berbuat begitu.

“Oia, ini kartu special VIP ,khusus untuk 5 orang yang mendapatkan ini, hitung-hitung  sebagai imbalan sudah mau membantu buatkan poster. Kamu bisa gunakan kartu ini ke semua stand yang ada di festival, gratis. Tapi ini khusus untuk makanan saja ya” Terangnya.

“Ya kak, Terimakasih banyak” Aku sangat senang mendapatkan kartu special.

“Sama-sama Syarmila, Abang justru minta maaf karena sudah buat kamu hujan-hujan kesini-“

“Tidak kok bang, tidak masalah, Mila senang kok”
Gerimis kali ini sungguh syahdu. Setiap rintikannya mengabarkan kebahagiaan. Jika aku bisa memotretnya, aku ingin menyimpan dalam sebuah bingkai foto. Namun aku teringat akan perkataan Syarif adikku, perempuan harus menjaga dirinya.
Aku pamit pulang, Bang Afkar pun juga sudah harus berangkat ke kampus. Sebelum pergi ia mengingatkanku untu datang ke acara festival kampusnya. Aku mengangguk.

“InsyaAllah Mila datang, boleh ajak teman Bang?”

“Tentu aja boleh, lebih ramai lebih seru”
Pagi hari yang ditemani gerimis itu, aku menatap punggunya yang semakin kecil dikejauhan hingga hilang dikelokkan. Berpayung dalam gerimis sambil menatap kartu special VIP digenggaman.
***
Aku sedang mencari referensi untuk komikku, tinggal 3 hari lagi tapi aku masih belum mengerjakan hal inti, jika tidak dikerjakan segera bisa-bisa lewat deadline yang ditentukan.

“Kamu sibuk banget dek?”

“Iya kejar deadline”

“Pantesan kusut gitu”
Aku sedang tidak berselera digoda olehnya.

“Ini kakak kasih penyemangat” Kakak melemparkan selembar foto dihadapanku. Aku mau tidak mau harus meilhatnya karena menghalangi catatan komikku. Aku mengambil dan berniat untuk membuanganya, namun ketika melihat sekilas, aku urung membuangnya dan mengamati foto itu lebih teliti lagi.

“Kakak?” Aku menatap tidak percaya pada kakak “Kapan kakak mengambilnya?”

“Saat hujan gerimis” Ucapnya jahil.
Itu adalah sebuah foto antara Aku dan Bang Afkar di saat memberikan gulungan poster dan kartu spesial ditengah hujan gerimis.

Aku benar-benar malu. Aku simpan foto itu kedalam laci segera dan menguncinya rapat-rapat.
Hari ini aku tidak bisa menjamin bisa menyelesaikan komikku.
Bersambung..

Ep7

Kamis, 09 Maret 2017

My Story About You : Episode 5 ( Aku Suka Padanya?!)


Aku ingin mengetahui apa yang terjadi dengan adikku. Setelah mendengar apa yang diceritakan oleh pinky, Aku harus menanyakan langsung padanya, Syarif.

"Masuk" Terdengar suara syarif dari dalam kamarnya setelah aku mengetuk pintunya. "Kakak?" ia setengah terkejut. ia berusaha membenarkan posisi duduknya, Terlihat ia sedang memegang sebuah buku kecil, Tidak bisa kukatakan itu buku novel untuk ukurannya yang sangat kecil, seukuran saku.

"Kakak boleh duduk?"

"Boleh, silahkan"

Aku duduk perlahan-lahan sambil memikirkan mulai darimana aku harus bicara.

"Tumben, ada apa kak?" Tanyanya sambil tetap fokus membaca.

"Hehe, kakak cuman ingin tahu seperti apa sih kamar adik lelaki kakak yang tampan ini" Uppss... kenapa tiba-tiba aku bicara begitu. 

Setelah diperhatikan kamar adikku ini sungguh rapi, beda dengan pandangan orang-orang yang mengatakan bahwa anak laki itu berantakan dan aur-auran.

"Hah, tidak biasanya kakak bilang begitu, katakan ada apa?" Kali ini ia meletakkan bukunya dan menatapku lekat-lekat. Kenapa aku jadi deg-degan.

"Sebenarnya, ada yang ingin kakak tanyakan-"

"Apa?"

"Kakak dengar ceritanya, beberapa hari yang lalu kamu di distro dengan perempuan cantik, Apa itu benar?"

"Distro?" dia mengerutkan dahinya "Memang ada hal aneh? bukankah distro tempat yang ramai, tentu ada satu atau dua orang perempuan cantik-"

"Tapi perempuan ini sedang denganmu, dan sehabis kamu pergi meninggalkannya sendiri, perempuan itu menangis" Aku menggebu-gebu mengatakannya, tanpa disadari suaraku begitu keras.

"Apa?" Syarif menatap tidak percaya "Dari mana kakak tahu soal ini?"

"Dari seseorang, tapi apa itu benar?"

"Aku memang bertemu dengan seseorang di distro, tapi itu bukan hal yang penting, hanya percakapan biasa, tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan" Ucapnya dingin. matanya tidak fokus memandangku, aku merasa ada rasa bersalah dibalik matanya yang teduh.

"Kakak tidak melebih-lebihkan, kakak hanya memastikan benar atau tidak. Kamu tau, perempuan itu menangis sejadi-jadinya, sampai-sampai temannya datang dan membopong ia jalan"

"Kakak yakin?"

"Yakin. Sebenarnya apa yang kamu bicarakan?"

Syarif awalnya tidak ingin mengatakannya, ia hanya menganggap itu hal yang tidak penting dan tak ingin ia ungkit. Aku sudah mulai menyerah, namun saat akan berdiri, ia pun mulai jujur.

"Perempuan itu menyatakan rasa sukanya padaku" Aku benar-benar terkejut atas pengakuan itu, aku melihat wajah syarif yang sedikit memerah.

"Terus" aku kembali duduk dan siap mendengarkan cerita lengkapnya.

"Aku hanya diam saat dia bilang begitu. Dan ia terus mengatakan hal yang ia rasakan selama ini, menganggumi dan menginginkan aku untuk bisa dekat selalu dengannya. Tapi, aku meminta maaf padanya, aku tidak bisa untuk terus dekat dengannya, aku tidak ingin memberinya harapan-harapan dengan terus memberi perhatian yang dia inginkan. aku melihat sekilas matanya yang berkaca-kaca, aku bilang padanya untuk tidak memupuknya, lebih baik menjaganya dan jika mampu lebih baik ia melupakan rasa sukanya padaku."

"Kamu benar-benar bilang begitu?" 

"Iya, Aku meminta maaf, tidak bisa membalas perasaannya-"

"Bagaimana dengan adikku ini? apa benar ia tidak punya perasaan dengan perempuan cantik itu?" 

"Dia memang cantik, tapi aku tidak ingin jatuh dalam kecantikannya, lagian bagiku itu ujian untukku belajar menahan pandangan, jujur memang aku suka dengan tampilan fisiknya serta ia juga orang yang baik, tapi aku harus terus memupusnya dari pada memilih untuk memupuknya."

Aku terdiam sejenak. Mencoba memahami apa yang dikatakan padanya.

"Bagi seorang lelaki, sulit baginya untuk menahan perasaannya, untuk itu seorang perempuan lebih baik menjaga sikap dan menjaga dirinya baik-baik. itu pesan yang kukatakan padanya sebelum meninggalkannya, aku tidak percaya dengan yang kakak katakan ia menangis sejadi-jadinya setelah ku pergi"

Bukan hanya perempuan cantik di distro itu yang menangis, aku juga tiba-tiba menjatuhkan air mataku yang kini sudah membasahi pipi.

"Kenapa kakak menangis? aku salah bicara?"

"Tidak adikku, kakak hanya terharu dengan kata-katamu, kamu seorang pemuda yang tangguh, kakak bangga padamu"

"Aku juga bangga pada kakak
, sudah berusaha menyimpan perasaan bertahun-tahun pada Bang Afkar, pasti rasanya sangat berat"

"Syarif"

"Aku tahu, kakak sudah sangat lama menyimpan perasaan itu, aku belajar banyak dari kakak karena itulah aku tidak ingin menyakiti perempuan, aku jadi teringat akan kakak."

Pembicaraan sore ini bersama Syarif menyentuh hatiku, ia yang selama ini begitu dingin terasa lebih hangat seperti senja kali ini. Kata-katanya yang membuatku teringat akan perasaanku terhadap pemilik senyum manis yang tinggal di sebelah rumahku, tiba-tiba aku berani mengatakan hal ini 'Aku suka padanya' semata-mata untuk menentukan sikapku berikutnya, apakah terus memupuknya atau memupuskannya.

"Apa kakak akan jujur terhadap perasaan kakak pada Bang Afkar?" 

"Entahlah,"

Kubiarkan pertanyaan itu mengambang hingga ke langit jingga itu. Membiarkan angin menjatuhkan daun yang gugur.

Apa aku harus mengatakannya? 
Lalu apa yang akan terjadi jika aku mengatakannya?
Aku baru saja akan tamat SMA. Apakah aku akan menikah jika ia juga memiliki rasa yang sama denganku?

**Bersambung
Ep6

Kamis, 02 Maret 2017

My Story About You : Episode 4 (Lelaki Dingin)

Angin yang bertiup kencang malam ini. memburu masuk ke celah-celah jendela kamarku yang berwarna coklat. Kakak sudah berkali-kali memintaku untuk menutup jendela, tapi aku masih saja malas melakukannya, aku ingin merasakan angin sejuk malam ini.

"Makanya mandi sore, biar gak kepanasan malam-malam, cepat tutup pintunya mila, kakak kedinginan" keluh kakak yang sudah berkemul selimut, ia baru pulang dari kerjanya. Kelihatan capek.

"Siapa yang gak mandi sore coba? " Aku sebal dibilang begitu walau kenyataannya begitu. Aku menurutinya menutup jendela, namun sesaat sebelum menutup aku menangkap bayangan seseorang di rumah si pemilik senyum manis. Ia tengah berbicara dengan seseorang yang tidak begitu jelas ku lihat.Kelihatannya seorang pria dengan jaket hodie abu-abu dan topi hitam. Bang Afkar berbicara santai dan ramah seperti biasanya.
Namun saatku sedang asyik mencari tahu, Bang Afkar menoleh ke arahku, aku refleks langsung menutup jendela dengan cepat, jantungku rasanya mau copot, aku seperti sedang men-stalk seseorang.

"Astaghfirullah"

"Kenapa Mila?" Tanya kakak penasaran yang coba bangkit dari tempat tidur.

"Bukan apa-apa kok kakak,hehe" Aku cepat-cepat berusaha tenang, bisa-bisa kakak ngeledekin aku kalau tahu apa yang sedang aku lakukan.

Malam ini, aku masih berkutat dengan poster yang harus segera diselesaikan karena komikku harus segera disusun untuk chapter berikutnya.

*

Menghabiskan waktu liburan sehabis menguras otak dan pikiran menghadapi UN SMA, bukanlah hal yang mudah, namun untunglah aku masih punya aktivitas yang bisa menyibukkan diriku dan tidak membuatku terus-terusan memikirakn ehem..ehem. Sudahlah. 
Hobi menggambarku memang serius kutekuni setahun atau dua tahun yang lalu, sebelumnya aku tidak begitu percaya diri sampai pinky sahabatku memberi ku dukungan. Ia maniak manga atau bisa dikatakan otaku. Ia sangat suka dengan hasil gambarku.

"Buat komik aja, mil" celetuknya saat aku sedang menggambar tokoh anime kesukaannya, dibuku diarynya.

"Aku gak pede, lagian gak gampang kali bikinnya"

"Gak masalah, kan masih belajar, aku pinjemin deh semua komikku buat kamu? atau kamu mau beberapa aku kasih gratis deh.." Aku tersenyum.

Dia tidak pernah menyerah untuk meyakinkanku bahwa aku bisa menjadi seorang komikus profesional. Semoga, Aamiin.

"Waaahh.. bagus posternya mil, buat siapa?" Pinky yang baru saja berlibur dari kampung halamannya pagi-pagi sudah mengunjungi rumahku dan masuk ke kamarku yang masih saja berantakan, dan mengambil poster.

"Untuk bang Afkar, beliau minta tolong dibuatkan" aku berusaha untuk berekspresi sedatar mungkin.

"Ciee..eheme..ehem.." Kakak dan pinky tidak jauh bedanya.

Aku mengajak pinky sarapan pagi. Ini masih jam 7 pagi dan ia benar-benar datang sangat pagi ke rumahku. 

Aku membantu Ibu dan Ayah menyiapkan sarapan serta membuka warung. Adik lelakiku yang bernama Syarif sudah duduk sambil menghabiskan sarapannya.

"Assalamu'alaikum ganteng" Sapa pinky pada Syarif.  aku senyum-senyum geli mendengarnya. Ganteng dia bilang?

"Wa'alaikumsalam" Syarif menjawab sedingin mungkin.

"Kamu masih aja dingin ya dek, besok-besok kalo jadi istri kakak harus romantis ya" Pinky semakin genit menggoda adikku, aku semakin geli mendengarnya.

"Astaghfirullah pinky"

"Maaf mil, bercanda, habis adikmu ini, orangnya dingin banget kayak freezer" 

Adikku tidak berkomentar apapun, wajahnya tetap sedatar aku melihatnya saat sedang asyik makan.Ia pun pamit berangkat sekolah, tahun ini ia akan naik ke kelas 2 SMA.

"Oia, beberapa hari yang lalu, aku lihat Syarif di sekitar distro" Pinky membuka cerita masih seputar adikku.

"Beberapa hari yang lalu? lho bukannya kamu masih di palembang?"

"Sebelum ke palembang"

"Owh, terus kenapa?" Aku jarang ingin tahu tentang adikku, benar yang dibilang pinky, dia freezer, karen itulah aku tidak begitu tertarik tentang aktivitasnya,
tapi kali ini aku ingin tahu apa yang dilakukannya disana.

"Dia sedang bersama dengan seorang perempuan cantik"

Hampir saja aku memuntahkan susu coklat yang sedang ku minum, untung saja aku masih bisa mengendalikannya.

"Pelan-pelan dong minumnya"

"Apa?" aku berusaha menurunkan intonasi suaraku agar Ayah dan Ibu tidak dengar. sebagian aku merasa penasaran dan sebagian lagi aku merasa bersalah "Apa yang dilakukannya disana?"

Aku ingin tahu tentang adikku lebih banyak lagi, akhir-akhir ini aku memang merasakan hal yang aneh dengan dirinya. Dia yang selama ini begitu religius dan tenang bahkan ketenangannya seperti laut di tengah musim salju.

Maafkan aku adikku, aku harus tahu ada apa denganmu.

*Bersambung 
Ep5

Sabtu, 25 Februari 2017

My Story About You : Episode 3 ( Si Menyebalkan X Menyenangkan )

"Kalian bicarakan tentang apa? apa itu? cerita dung? cerita,cerita" Kakak sudah memburuku ketika bang Afkar baru saja pergi.

"Cuman hal biasa" 

"Hal biasa apa? kayaknya tadi si babang nya senyum-senyum gitu" kakak terus membuntutiku hingga ke lantai atas dengan segala rasa penasarannya.

"Cuman hal biasa kak, gak ada yang spesial dan" aku terdiam dan memandang lekat-lekat wajah kakak "tidak seperti yang kakak bayangkan"

"Ohoo.... masa sih?" suara dan tatapan matanya yang jahil mengarah padaku. "Jangan pelit lho-"

"kakak" aku menambil nafas panjang, "Abang itu minta tolong untuk dibuatkan poster festival di universitasnya, cuman itu aja gak lebih" tegasku.

"trus,trus kenapa dia senyum-senyum ke kamu?"

Aku sempat malu juga karena rasanya aku bisa-bisa kena diabetes karena senyumnya itu.

"Karena beliau bilang terimakasih dan senang aku bisa membantu, hanya itu" 

"Owwh...jadi gitu, ya sudah semangat ya, Kakakmu ini kan selalu mendukungmu," 

Kakak berbalik dan mengedipkan matanya sebelum hilang dari pintu kamarku. Mungkin apa yang diharapkan kakak juga ada pada diriku, tapi aku berusaha untuk menutupinya. aku kira hal spesial apa yang akan dikatakannya, tapi... Astaghfirullah. aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha untuk menghilangkan pikiran itu dan menepuk-nepuk kepalaku. Bukankah hal ini sudah spesial, bisa membantunya?.

**

Kakak selalu menjadi orang yang sangat menyebalkan dan menyenangkan untukku. Hidupku terasa berwarna dengan kehadirannya, ia selalu menghiburku ketika aku kehilangan harapan untuk bertahan hidup. Aku jarang melihat tangisnya ataupun wajah murungnya, dia selalu berusaha ceria dan riang, beda dengannku yang gampang cemberut dan pemurung. 

Dibalik dari keceriaan dan periangnya, kakak seorang yang berjiwa tangguh. Sebagai anak sulung kakak berusaha untuk mengayomi adik-adiknya, tidak lupa menegur adiknya yang salah dan menasehati adiknya dikala gundah gulana. Apalagi dengan adik laki-laki kami, kakak lebih jahil lagi, kadang mengambil buku yang sedang asyik dibaca adikku dan menyuruhnya makan. Kadang mengangguku sedang asyik menggambar jika sudah melewatkan jam makanku dan cemilan yang harus ku minum.

ada cara khas tersendiri yang kakak lakukan untuk mengingatkan adik-adiknya yang lupa akan jadwal sendiri-sendiri. Padahal kakak begitu banyak kesibukan sebagai seorang arsiterktur. Walau dengan profesinya yang sekarang ia tak pernah merasa dirinya sudah menjadi orang besar. Ia tetap menjadi kakak yang jahil dan penyayang.

Orang yang selalu tahu apa yang kurasakan adalah ia. Kakak bahkan berani mengatakan bahwa aku benar-benar menyukai bang Afkar, walau aku sendiri tidak yakin apa yang kurasakan. aku berusaha bersikap biasa, tidak berusaha untuk menghilangkan atau berusaha memaksakan agar terlihat jelas didepan matanya.

"Jadi, ceritanya cinta dalam diam nih?" Celetuknya suatu hari.

"Bukan, ah"

"Dek, kamu tu harus jujur sama diri sendiri, suka ya suka, gak suka ya gak suka, jangan di campur aduk nanti kamu sendiri yang akan terjebak dengan perasaanmu sendiri, jika kamu suka kamu bisa tegas langkah apa yang kamu lakukan, menjauh jika memang tidak baik, atau mendekat dan menyampaikannya dengan baik-"

"Lalu jika aku memang suka, dan mengatakan padanya, apa yang akan berubah? apa yang akan terjadi?" Kataku getir.

"Jika kamu beneran suka, dan dia juga merasakan hal yang sama, maka tidak ada obat yang ampuh menyelematkan kalian selain men-"

"Kak, aku belum siap akan hal itu, kakak tau kan bagaiman kondisiku?" Aku memandang wajah kakak lama-lamat dengan mata yang sudah terasa basah "Aku tidak ingin menambah beban bagi orang lain"

"Jadi, kamu menganggap dirimu beban dek?"

Aku hanya menunduk. Percakapan seperti itu sering terjadi. Aku beban, kataku. Kamu bukan beban, kata kakakku. Jika sudah sampai disana maka percakapan sebaiknya dihentikan.

***

"Kakak akan terus menganggumu" kakak baru pulang dari kerjanya sambil mengantarkan segelas susu coklat, air mineral dan cemilan wajib untukku, dan langsung merebahkan dirinya diatas kasur empuk.

"Terserah" aku masih sibuk dengan posterku. Pengerjaannya diperkirakan akan selesai dalam seminggu.

"Sebentar lagi jadwal dia belanja"

"Tidak ada yang bisa menjamin" kataku dingin sambil terus sibuk.

"Mungkin saja kali ini dia mengajakmu bicara, bicara hal yang se-"

"Kakaaaaaaaakkk......" teriakku memecah ruangan. hingga buru-burung yang bertengger di ranting pohon terbang serta daun-daung pun jatuh berguguran.

"Syanass.... bantu ibu, jangan ganggu adikmu terus" Teriak ibu.

"Iya buuukk." Kakak pun segera berganti pakaian dan tak pula mencubit pipiku. "Duh pipinya panas..hahaaha"

Aku memandang sebal dirinya hingga hilang di pintu kamar.

Kenapa dia tak henti mengangguku, di menyebalkan dan juga me-me-me- aaaarrrggghhh... warnanya salaaaaahhh...

*Bersambung
Ep.4



Jumat, 24 Februari 2017

My Story About You : Episode 2 ( Pemilik Senyum manis)

Bukan hanya aku saja yang menyukai senyum manisnya.
Namun hampir semua orang yang berbicara padanya. Semua merasakan kenyamanan saat bercakap-cakap atau sekedar basa-basi dengannya. Ia bahkan mampu mencairkan suasana hati adikku yang berwatak cuek dan dingin, aku saja yang sebagai kakaknya masih rada canggung bicara dengannya.

Dia tidak terlalu tinggi, tapi ia lebih tinggi dariku-hanya sebahunya. Perawakannya yang sedikit kurus serta kulitnya yang kuning langsat serta rambut yang tebal-lebih manis jika sedikit gondrong, membuat aku semakin tidak mampu melihatnya walau hanya sekilas. Dia seperti malaikat yang cahayanya menyilaukan.

Ia tinggal tepat disamping rumah kami. Rumahnya lumayan besar untuk ditinggali hanya seorang diri. Dulu rumahnya ramai ada Papa, Mama serta adik perempuannya yang lucu, namun mereka hijrah ke kampung. Bang Afkar tidak ikut, ia lebih memilih meneruskan kuliahnya di kota. Jadilah ia sendiri disana. Walau tinggal sendiri, rumahnya terjaga. lihat saja dari kebunnya yang sangat rajin ia bersihkan dan tertata indah. Aku sudah menduga tentu bersih rapi yang ada didalam rumahnya. Maafkan aku yang terus menduga ini.

Pemilik senyum manis itu adalah Afkar, seorang pemuda manis nan baik hatinya. Mungkin aku masih malu mengakuinya karena itu kakak selalu menjahiliku. Jika Bang Afkar datang ke warung makan kami, kakak sudah mengeluarkan kata-kata jahilnya atau sengaja memanggilku keras-keras agar si pemilik senyum manis itu merasa, tapi apa hubungannya coba?.

"Milaaa...Syarmilaaaa.. jangan bengong diatas aja, cepetan bantuin kakak" aku yang berlari menuruni anak tangga tiba-tiba terhenti, teriakan yang khas itu aku kenal. aku berusaha mengatur nafas.

"Yaa..sebentar" teriakku membalas.

Sudah kuduga ada dia disana. Aku berusaha mengatur sikap, tapi wajahku semakin memerah. Aku belum sanggup untuk bertemu. Kenapa selalu begini Ya Allah.

"Syarmila" 

"Eh ya?" aku masih sibuk dengan berbagai fikiran, dan cara menenangkan gugupku dan lihat siapa yang sedang dihadapanku sekarang.

"Abang boleh minta waktunya sebentar? ada yang ingin abang katakan" 

"Bo-boleh" Eehh... kenapa? kenapa?

Aku tidak menyangka Bang afkar ingin bicara denganku. Apa ya kira-kira yang ingin dia katakan.

*Bersambung
Episode 3

Minggu, 05 Februari 2017

Janji di Langit Senja Part VI (END)

Janji di Langit senja

By: IsyaRayLe

Support Puisi by: Lara Aprilia wina


=Prolog by Nia=.
Aku akan menceritakan apa yang telah terjadi pada diriku selepas menyelesaikan study-ku di Turki.
Hari itu aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa, bisa kembali ke Tanah air setelah hampir dua tahun lebih menimba ilmu di negeri yang jauh. Namun kebahagiaanku harus terhenti sejenak. Ibu mengatakan hal yang membuat jantungku sempat terhenti. Ibu bilang bahwa ia mendengar kabar beberapa waktu yang lalu Salim koma. Aku langsung menghubungi nomor Salim yang sering ku abaikan, walau memang sesekali ku angkat ia tidak bersuara sedikitpun di telpon. Namun sayang, nomornya tidak aktif.
Ibu menyarankanku untuk bertemu Guntur yang berkemungkinan punya kontak Salim.
Guntur tidak tahu kemana harus menghubungi kecuali dengan ajudannya yang waktu 2 tahun lalu menemani Salim ke desa. Akupun menghubungi nomor tesebut dan tersambung. Dalam percakapan via telpon dengan ajudannya ia mengatakan bahwa ia akan memberi tahu kondisi atasannya jika aku sudah di Jepang. Mereka pun bersedia membiayai seluruh keperluanku ke Jepang. Aku pergi dalam perjalanan yang penuh kekhawatiran. Kabar Salim koma dan sekarang mereka masih merahasiakan kondisi Salim. Sudah berapa lama Salim koma dan apa karena itu ia tidak pernah menghubungiku walau dengan telpon isengnya? Dan apakah ia akan memenuhi janjinya, bahkan untuk mengingat perkataannya kala itu membuat air mataku jatuh. Tiba-tiba perasaan takut akan kehilangan dirinya muncul menggerogoti hatiku, seakan tidak mau tenang barang sedetikpun.
Sesampai di Jepang, aku dibawa entah kemana, tempat itu tidak ku ketahui dengan jelas, ketika aku pun bertanya dengan supir yang membawaku dia hanya menjawab ke tempat Tuan Salim berada, setelah itu aku masih sibuk dengan pikiran yang berkecamuk, sedang dibawa kemana aku? Dimana Salim berada sekarang? Bagaimana keadaannya sekarang.
Ketika mobil berhenti aku tidak tidak bisa mengetahui dimana aku berada. Disana ada banyak pohon sakura yang bermekaran. Sedetik aku merasakan bahagia bisa melihat pemandangan yang langka namun sedetik itu juga pikiranku kembali pada Salim.
“Dimana saya? Salim dimana? Sepertinya ini bukan dirumah sakit. ayolah, kalian sudah bungkam dari awal perjalanan hingga saat ini, ini benar-benar menyiksaku, menerka-nerka keaadan Tuan kalian membuatku semakin lemah” keluhku pada mereka.
“Maafkan kami nona, kami tidak bermaksud untuk menyiksa nona. Mohon Nona menunggu lagi” Jawab salah seorang yang lelaki yang sudah paruh baya sambil memberiku sebuah amplp putih”ini untuk Nona, sebaiknya dibaca terlebih dahulu, maka setelah itu saya janji akan membawa Nona ke tempat Tuan Salim” Untuk kalimat terakhir lelaki yang mengaku pelayan Salim itu telihat sangat sedih, membuatku semakin tak karuan.
Ku buka amplopnya perlahan, ada dua lembat surat didalamnya.
Begini bunyi suratnya.
Dear Neighbor Nia,
Ketika kamu membaca surat ini mungkin aku sudah tidak ada didunia yang sama denganmu.
Aku bersyukur bisa mengenalmu dan memiliki seseorang yang begitu berharga dalam hidupku.
Setelah kejadian di langit senja waktu itu 5 tahun yang lalu, aku merasakan sedih yang teramat sangat,
Aku bahkan tidak berani untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir kalinya padamu.
Maafkan aku, yang sudah membuat kelabu senjamu.
Dan setelah pertemuan trakhir itu aku ingin bertemu kembali denganmu, namun aku selalu menahannya, aku tidak ingin merusak
Harimu dengan kehadiranku, tapi rasa rindu terkadang memaksaku untuk menghubungimu
Hingga jadilah sebuah telpon tak bersuara yang terus kulakukan hingga sampai ke negeri sana
Janji yang kusampaikan kala langit senja waktu itu untuk melamarmu tidak bisa kuwujudkan
Maafkan aku.
Aku memang laki-laki yang selalu menyakitimu dengan kata-kata anehnya.
Tapi.
Aku ingin kamu tahu, dari dulu masih menjadi teman pulangmu, tetanggamu, dan sahabatmu ketahuilah
Aku Selalu menyayangimu, Doaku dari lubuk hatiku semoga selalu tersampaikan pada Penguasa Langit
Dan Bumi untukmu.
Aku mencintaimu.
Lembaran pertama dari surat itu sudah membuat banjir air mataku, tak bisa kubendung lagi rasanya ingin ku pecahkan rasa sesak didada tanpa terasa suara tangisku begitu nyaring terdengar, seperti anak kecil yang merengek pada orang tuanya.
Rasa raguku untuk membaca lembaran keduanya muncul. Apalagi yang akan ia tulis, lembaran pertama saja sudah membuatku histeris, tulangku rasanya lemah. Namun ku kuatkan diriku, aku harus menyelesaikan urusan yang panjang dan menyedihkan ini.
Langit Senja waktu itu
Ku temukan berjuta keemasan berkilauan diwajahmu
Senyum yang terkembang mengalahkan indahnya bunga
Kala langit senja waktu itu
Selalu kutemukan suara nyaring berpuisi
Senandungnya menceritakan keindahan
Bagai pujangga bersyairkan cinta
Kaki yang menempuh jalanan senja
Berat rasa pergi
Namun bintang tak mau terlambat
Keindahannya bahkan tak kalah hebat
Menyukai keduanya adalah kesyukuran
Senja dan bintang
Manakah yang kamu suka wahai bunga
Jika langit senja waktu itu
Masih ku temukan wajah keemasan itu
Maka aku ingin selalu memandangya
Hingga sisa umurku.*

Membisu dalam gamang hati
Bicaraku kini pada sunyi
Membisu pagi pada malam yang punya mimpi
Kau perempuan dengan anggun bergamang hati
Kau hadang dalam tawaran harapan
Aku gamang kini setelah kau ajak ke taman rasa
Salahkah jika aku berkata diam dalam kejujuran hati
Sebab rinduku tak pernah berkata rapuh
Kini tawar hambar kian pudar
Gamang jangan ikuti diriku
Berlalu lah seperti kayuhan sampan
Sampai diammu menjadi janji temu.**
Puisi yang ia tulis membuat hangat hatiku dan tangisku perlahan reda. Ia ternyata menyukai puisi. Selama ini aku mengira ia selalu meledek puisiku karena tidak menyukai puisi, ternyata aku salah.
Aku menghapus air mataku yang membasahi pipi. Ku Tarik nafas perlahan. Aku ingin berusaha tenang untuk mengetahui penjelasan yang penting.
“Saya sudah berjanji akan memberitahu dimana Tuan Salim berada-“
“Apa dia sudah tiada” aku memotong pembicaraan lelaki paruh baya itu. aku menatapnya dan ia hanya diam saja.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku diam seribu bahasa, tanpa ragu aku terus saja mengikuti pelayan itu. ia menghentikan langkahnya dan terlihatlah oleh ku beberapa gundukan tanah.
“Ini adalah makamnya Tuan Salim berserta dengan leluhurnya” Kata pelayan itu lirih.
“Ap-apa yang terjadi padanya?”
“Setelah terakhir bertemu dengan nona Tuan salim menjalani operasi besar karena penyakit yang dideritanya empat tahun belakangan ini, sehari sebelum operasi beliau menitipkan sesuatu untuk nona jika ia tidak selamat dalam operasi”
“Apa sesuatu itu surat tadi?”
“itu salah satunya”
“Lalu apa yang terjadi setelah operasi”
“Operasi beliau berhasil, dan Tuan kembali beraktivitas setelah sebulan dirawat. Ia melanjutkan bisnis Kakenya di Jepang ini dan Tuan mengalami sukses besar. Namun, hal itu tidak bertahan lama, setahun yang lalu Tuan jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit dan mengalami koma selama enam bulan dan pergi untuk selamanya”
Air mataku seketika jatuh waktu mendengar tiga kata terakhir dari kalimat pelayan paruh baya itu. aku melangkah mendekati ke makamnya Salim dan membacakan doa untuknya. Tanpa terasa air mataku jatuh membasahi tanahnya.


Salim
Setelah pertemuan terakhir denganmu kala langit senja waktu itu, kamu pun tak kunjung datang untuk mewujudkannya, padahal aku selalu menunggumu dipertemuan langit senja kita berikutnya.

THE END

Epilog.
Salim ternyata selain menitipkan dua lembar surat juga memberikan sebuh kotak yang berisikan memorinya bersama dengan Nia waktu masih sekolah dulu serta terselib sebuah lukisan senja yang indah serta gambar seorang gadis berjilbab yang tengah tersenyum memandang langit senja.
Nia kembali membuka diarynya dan menemukan selebaran kertas yang terselip dibuku tersebut. Tulisan itu ia tulis sebelum berangkat study.
Janji di langit senja,
Si neighbor mengucapkan kalimat yang tak ku duga, sudah lima tahun tidak bertemu dengnnya dan ia mengucapkan janji ingin melamarku, walau ku anggap hal itu hanya sebuah candaan atau godaan yang ia lakukan selama lima tahun tidak bertemu namun tetap saja hal itu mengangguku, apa maksudnya dia berencana melamarku? Kenapa harus setelah ini? Kemana ia akan pergi? Ke tempat yang jauh? Dimana itu? banyak pertanyaan yang berkecamuk dipikiranku hingga bungkam mulutku tak tahu mana yang harus keluar.
Hal itu membuatku ingin kembali berpuisi, jika bersama Salim entah mengapa aku selalu ingin berpuisi, walau dia sering meledekku dengan mengatakan ‘puisi aneh’. Jika suatu saat kami bertemu lagi sesuai dengan janjinya maka aku akan menunjukkan padanya puisi yang kutulis untuknya, khusus untuknya.
Senja dibalik purnama
Di dermaga hati
Sepandan kian menanti
Pada dikau senja dibatas purnama
Bisu membisu merangkai hati
Dalam kata doa
Langit mendengar
Mengayuh setiap alif,lam,nun
Menjadi sebuah bait
Permintaan ku hanya padaNYA
Senja kini jemariku mencatat kisah dalam halaman pertama
Ada rindu yang bermuara
Ada purnama bergegas membuang keluh
Padamu purnama senja
Menanti dermaga hati sepi
Bicaralah purnama pada dendang waktu
Menunggu dalam pelabuhan fregman waktu senja**
Semoga ini menjadi puisi terindah ku untukmu.
*****
Catatan kaki:
*Puisi oleh IsyaRayLe
**Puisi oleh Lara Aprilia Wina
Jazakillah Khairan Buat pembaca IsyaRayLe tetap dukung dan doakan semoga lebih produktif lagi.

Janji di Langit Senja Part V

Janji di Langit senja

By: IsyaRayLe

Support Puisi by: Lara Aprilia wina

Walau sudah berlalu lama, namun ingatan akan kejadian yang membuat dirinya dan Salim sudah mulai jarang berbicara masih berbekas dihatinya.
Menatap birunya langit dan awan-awan putih yang berarak, nia sesekali mengingat kejadian yang tak biasa itu, semenjak siswi yang bernama Sarah itu marah padanya, hubungan Salim dan dirinya renggang tanpa disengaja, mengalir begitu saja bahkan Sarah sepertinya dengan mudah melupakan tentang dirinya yang membuat ulah hingga Nia masih merasakan sakit di pergelangannya waktu itu, ia justru berpacaran dengan orang lain, hal itu tidak begitu diacuhkan Nia namun mengingat apa yang sudah dilakukannya membuat si gadis bertubuh mungil itu kesal.
Selama rentang waktu yang cukup lama mereka jarang berbicara, Salim tiba-tiba mengajak Nia bertemu setelah hari terakhir ujian Nasional.
“Selama ini kita sibuk dengan belajar, dan jadwal kita yang beda karena beda kelas membuat kita jarang main lagi, kali ini harus datang ya, jangan lupa” Kata Salim sambil berlari meninggalkan Nia yang baru akan menuju parkiran sepeda. Nia yang tidak sempat menjawab hanya mengangguk.
“Kamu suka langit senja kan?” Tanya Salim ketika mereka sudah bertemu di jembatan desa mereka. Disana cukup ramai karena para turis yang datang ke desa mereka sering mengambil gambar matahari terbenam.
“Kamu kan sudah tahu lama neighbor, kenapa tiba-tiba tanya hal itu?”
“Bukan apa-apa” jawab Salim sambil memandang takjub pesona senja itu.
“Kala langit berubah warna maka begitulah hati, terkadang ia hangat seperti mentari pagi, terkadang panasa menyengat seperti terik matahari siang, terkadang lembut seperti langit biru dengan awan putihnya, hingga berwarna jingga di sore hari dan gelap dengan bintang gemintang di malam hari, tapi ada hal satu yang tidak berubah….”
Salim memandang Nia menunggu kelanjutannya.
“Langit, walau ia berubah warna ia tetaplah langit”
Salim tertawa lepas dan ia tidak memperdulikan wajah Nia yang memandang sebal karena ditertawakan.
“Sudah puas?”
“Nia..nia.. pfftt..hahaha”
“Kamu bisa memberitahuku jika sudah selesai” ketus Nia.
“Maaf,maaf aku tidak bisa menahannya” Salim mulai membernarkan posisi berdirinya dan berubah ekspresi sedikit lebih serius “Maafkan aku , bukan maksudku menertawakanmu, hanya saja aku tidak bisa menahan rasa gembiraku” Nia mengeritkan dahi tidak mengerti.
“Sebenarnya ada hal ingin kukatakan”
“Apa?”
“Kamu tahu tentang Hubungan Ibuku dan keluarga mendiang Ayah?” Nia mengangguk “Tiba-tiba saja kakek datang dan meminta aku dan ibuku untuk tinggal dirumahnya. Awalnya aku menolak, tapi kakek bersikukuh memintaku untuk tinggal dirumahnya, aku pun berusaha mempertimbangkannya,hingga berpikir bahwa aku tidak tahan melihat ibu yang terus-menerus bekerja untuk menyekolahkanku, untuk bisa sampai lulus dari SMA saja aku sudah bersyukur, tak terpikir untuk kuliah aku ingin langsung bekerja menghasilkan uang dan bisa membahagiakan ibu”
“Tapi kakek mengatakan hal yang tak terpikirkan sebelumnya, dan aku sudah memutuskan untuk menerima tawaran untuk tinggal bersamanya dengan membawa ibu”
“Apa kamu akan pergi jauh?”
“Ya, kakek mengajakku ke Jepang, ia sudah menerimaku sebgai cucunya dan berjanji akan membiayai kuliahku, tentu ada syaratnya”
“Apa syaratnya?”
“Rahasia”
Nia terlihat kecewa atas jawaban Salim, tapi ia tidak memaksa Salim , sudah mau cerita dengannya saja sudah senang.
“Pasti kamu akan rindu dengan desa dan semuanya, ya kan?”
“Tentu saja” Senyum Salim terkembang “Oh ya, Ada hal lain yang ingin ku katakan dan itu tujuanku untuk bertemu denganmu disini”
“Apa? Masih ada hal lain?”
“Sebentar” Salim memandang jam tangannya dan memandang langit “Kita bicarakan disana” mereka pun berlari ke arah langit yang lebih banyak warna jingganya.
“Nia, dengarkan aku baik-baik, mungkin aku tidak akan mengulanginya dan mungkin kita akan sangat jarang bertemu karena besok adalah hari keberangkatanku-“
“Kamu berangkat besok? Mendadak sekali?”
“Dengarkan dulu, aku belum selesai bicara” Salim mengambil nafas panjang “Nia, Aku menyukaimu”
Nia hanya terdiam, ia menutup kedua mulutnya, tak pernah terpikir sekalipun pun Salim si neighbor mengatakan pengakuan dibawah langit senja.
“Aku sudah lama menyimpannya, dan sebelum aku menyesal tidak pernah mengatakannya, aku ingin menyatakannya untuk pertama kalinya atau mungkin terkahir kalinya karena setelah ini kita akan berpisah dengan jarak dan waktu yang lama. Aku tidak meminta jawaban darimu, cukup kamu tahu saja sudah membuatku senang, jadi-“
Nia berkaca-kaca, perlahan air matanya jatuh membasahi pipi, ia berusaha menghapusnya dengan lengan baju.”Salim bodoh, jahat” hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Salim tertegun mendengar Nia mengatakan dirinya bodoh dan jahat.
“Nia-“
“Kamu jahat , kenapa mengatakan hal itu ketika akan pergi jauh-“
“Nia dengarkan aku dulu-“
“Kamu,kamu Aneh Salim, kamu aneh benar-benar aneh, bagaimana aku bisa menanggapi hal ini dengan biasa, aku bahkan tidak punya kata-kata yang pas, apa bagimu ini mudah, tidak Salim, mengatakan suka ketika akan pergi? Yang benar saja….”
Nia berlari meninggalkan Salim yang masih belum punya kesempatan untuk menjelaskan lebih jauh lagi. Nia terus berlari dengan deraian air matanya yang ia sendiri pun tidak tahu mengapa ia menangis. Salim hanya berdiri termangu menatap lantai jembatan.
Langit senja waktu itu adalah hari terkahir setelah lima tahun mereka tidak pernah bertemu lagi hingga hari dimana Salim muncul kembali secara tiba-tiba ketika Nia akan pergi jauh, dan ia juga mengatakan akan pergi ke tempat yang jauh.
“Dia mengatakan hal serupa ketika kalian akan berpisah?” komentar Sahabat Nia yang juga mengambil S2 sama dengannya ketika mendengar cerita tentang Salim.
Nia yang sehabis meneguk secangkir kopi moccanya mengangguk.
“Aku bahkan seperti merasakan dejavu, hanya bedanya aku tidak menangis dan berlari begitu saja seperti 5 tahun yang lalu”
“Lalu bagaimana?”
“Bagaimana apa?”
“Kelanjutan hubungan kalian, kamu sudah memberi jawaban?”
“Kamu mendengar dengan baik tidak ceritaku, dia baru akan melamarku jika kami kembali bertemu dengan langit senja setelah pertemuan terakhir, itu pun jika aku belum menikah dan tidak sedang dikhitbah orang lain, bagaimana mau memberi jawaban” Terang Nia dengan santai.
“Kamu tidak mencium hal yang aneh?”
“enggak, dia memang dari dulu aneh, jadi sudah biasa bagiku”
“Lalu kenapa waktu itu kamu menangis dan berlari waktu dia bilang suka padamu?”
“Itu dia yang aku 5 tahun lalu dan sekarang tak mengerti, apa karena aku sedih ia akan pergi jauh, atau apakah aku harus senang karena dia menyukaiku atau waktu itu ada banyak hal yang tak dimengerti yang berlalu dengan cepat”.

Bersambung
...
Part VI