Selasa, 23 Juni 2015

senja ini bukan untuk mu


               Menikmati suasana disiang hari. Rauha membuka tas nye mengecek ponselnya yang sedari tadi bergetar. Ia mengamati tulisan yang ada dilayar ponselnya dengan mata sipit karena silau oleh matahari.
“panasnya hari ini, ya ampun” keluhnya.
Layar diponselnya bergetar lagi. Mama memanggil. Ia tidak menjawabnya, dengan rasa kesel yang amat sangat ia memasukkan kembali ponselnya ke tas mahal berwarnakan emas. Rauha mengamati jalan raya. Banyak toko-toko dan distro-distro yang berjejer dipinggiran kota. Ia mencari-cari cafe ,ia merasa sangat kehausan.
Setiba di cafe ia memesan segelas cappucino dingin dengan gundukan ice cream vanilla diatasnya. Ia sudah tidak sabar ingin menikmati minuman syurga dunia itu. Namun lagi-lagi harus tertunda. Ponsel ditasnya terus bergetar. Ia mengambilnya dengan penuh emosi.
“kenapa lagi sih?” ia lihat “Mama memanggil”. Namun kali ini ia melakukan tindakan tindakan tegasnya. Ia memetikan ponselnya.
Maka inilah saatnya ia harus kembali pada syurga dunianya, segelas capuucino dingin dengan gundukan ice cream vanilla diatasnya.
***

               Hari yang sangat panas. Namun Rendi tidak bisa untuk tidak keluar. Ada janji yang harus ia tepati. Rauha mengajaknya ketemuan. Rendi tidak terlalu tertarik dengan pertemuan itu. Namun ia juga tidak bisa menolak, Rauha sudah jauh-jauh datang ke kota ini hanya untuk bertemu dengannya.
“sebenarnya apa yang sedang ia rencanakan sih?” keluhnya.
Akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Namun ia tidak tahu harus menunggu dimana. Saat ia ingin menghubungi Rauha tapi tidak tersambung. Nomornya tidak aktif. Alhasil ia hanya bisa memilih bangku dekat jendela yang tidak terlalu ramai. Ia memesan cappucino dingin dengan gundukan ice cream vanilla diatasnya.
“wah pesanannya unik” komentar waiters yang melayani Rendi.
“ah biasa aja mb”
“abis pesanannya sama dengan mb-mb yang disana”waiters tersebut menunjuk ke arah Rauha duduk. Tidak begitu jelas karena banyak orang disana.
“sama,?” Rendi sempat berpikira dan “jangan-jangan... mb yakin dia juga pesan yang sama dengan saya?”
“iya mas, bahkan dia mau nambah lagi, sudah hampir 30 menit ia duduk disana”
“Rauha” ia pun mengambil jaketnya dan bergegas ke meja Rauha “mb nanti antar pesanan saya di meja mb tersebut yah, terimakasih”
“baik, mas”
Ia pun buru-buru menuju tempat Rauha.
Rauha yang menghadap belakang tidak sadar kalau Rendi sedang berjalan menujunya, ia tengah asyik menikmati minumannya yang sudah sampai diujungnya.
Sesaat sampai dimeja Rauha, tanpa basa-basi ia langsung duduk dikursi kosong yang ada dihadapan Rauha. Rauha yang sedang asyik dengan kesibukannya seketika terhenti dan mematung melihat Rendi yang sedang dihadapannya.
“R..R..Rendi?” Rauha melotot melihat Rendi ada dihadapannya “kenapa kamu disini?”
“kenapa? Aturannya aku yang tanya..”Rendi pun mendekati wajahnya ada wajah tidak senang tergambar.”kenapa mengajakku ke cafe mendadak, dan kamu bahkan mematikan ponselmu, aku jadi tidak tahu kamu dimana” nada suaranya kedengaran meninggi.
Rauha sedkit merasa bersalah, tapi ia kembali dengan sikap cueknya.
“tapi kamu tahu kalo aku duduk disini, ya kan?” Rauha memasang wajah menangnya dan berusaha bersikap ceria dan  menghibur.
Rendi merasa kalah, “huuh” ia menghela nafas panjang, “jadi apa yang kau bicarakan?”
“aku sedang sibuk,nanti akan ku ceritakan,” ia pun mengangkat tangannya “mb..cappucinonya lagi ya..aaah..kamu pesan apa?”
“aku sudah pesan”
“yahh..sayang banget padahal aku mau traktirin kamu..” wajah rauha tampak cemberut,tapi terselip senyum jahil diwajahnya.
“eeleeeh....basi”
***

               Siang hari yang berlalu berubah menjadi senja yang jingga. Setelah berjam-jam duduk di cafe menikmati minuman dingin yang menyejukkan mereka pergi dan berjalan-jalan disekitaran kota.
“jadi..” langkah kaki mereka berdua terhenti, rendi membuka pembicaraan yang sedari tadi hanya diam seribu bahasa. “kamu ada apa? Aku sudah berusaha menunggu kamu cerita. Pasti ada yang tidak beres,ya kan?” rendi mulai melangkah. Rauha masih terdiam. “ rauha..kamu dengar aku?” rendi pun berbalik dan “rauha..rauha...” rauha tiba-tiba menghilang. Rendi berusaha mencari dan ia dapati rauha berlari, berusaha menghindari rauha. “kenapa anak itu?” rendi penasaran apa yang terjadi dengan rauha teman kecilnya itu. Dari sd sampai smp mereka sudah akrab. Rauha pun bertingkah seperti anak lelaki. Hal itu sering membuat Mama nya kesal. Sempat Mama Rauha melabrak keluarga Rendi, dia bilang Rauha bertingkah seperti itu dikarenakan berteman dengan Rendi. Akhirnya keluarga rauha memutuskan pindah dari kota itu. Rauha tentu saja menolak, namun ia tidak bisa menghindarinya. Apalagi mendengar kata-kata Rendi waktu itu. “sebaiknya kamu pergi saja, adanya dirimu membuat keluarga seolah-olah penyebab bagimu” rendi mengucapkannya dengan air mata,mata yang sayu,senyum tipis,wajah yang melukiskan kesedihan dan kalimat yang ia ucapkan seperti tak sesuai dengan apa yang terlukis diwajahnya. Namun,sudah beberapa tahun berselang Rauha tiba-tiba mendapati kontak Rendi. Rendi sempat terkejut tidak percaya. Rauha sering menghubunginya,namun saat Rendi merespon Rauha malah bersikap ketus dan cuek. Walau begitu Rendi merasa senang. Mereka akhinya berkomunikasi,komunikasi yang unik cuman ia dan Rauha yang mengerti.
“Rauha..Rauha..tunggu berhenti” Rendi mengejar Rauha dan berhasil. Ia menggenggam tangan Rauha dengan erat.
“Sakit tau..lepas” Rauha sekuat tenaga mencoba melawan.
“kamu kenapa sihh..gak jelas begini..ini seperti bukan kamu”
Rauha pun seketika terdiam. Ia tidak berusaha melepas pegangan itu. Namun matanya perlahan mulai basah.
“ka..kamu..kenapa menangis..maaf kalau aku terlalu kasar mengatakannya..tapi aku...” Rendi terbata-bata, ia merasa bersalah “maaf..aku tidak akan memaksakanmu” ia pun perlahan melepas pegangan itu.
Rauha tersadar ia pun meraih kembali pegangan itu bahkan lebih kuat lagi “BODOH!!, kamu bodoh..” Rauha menangis,menangis penuh kesakitan. Ada luka yang mendalam dihatinya. Melihatnya saja membuat Rendi juga ikut menangis. Rauha memukul-mukul bahu Rendi “bodoh...hiikkss...kamu bodoh....”
“mm..aku memang bodoh..aku minta maaf,,karena aku bodoh..” Rendi memlankan suaranya. Ia pun menundukkan kepalanya ke  bahu Rauha.
“hiksss....hiksss...” Rauha terus menangis seperti anak kecil.
“kita pulang yuk...” Rauha sempat mengehentikan tangisnya.
“pu..lang?”
“mm..pulang..kerumahku”
***


                   Semua sedang asyik menikmati makan malam. Sedari tadi Rauha hanya diam saja.
“Rauha ,ayo makan yang banyak,” ucap ibu Rendi
“ya kak Rauha,masakan ibu enak banget lho.” Puji Ryan,adik bungsu Rendi.
“mm..baiklah akan kakak habiskan....seeeemuuuaanya...” ia pun menghentikan pandangannya pada Rendi yang dari tadi makan dengan lahapnya. Rauha pun tersenyum jahil “seee..muuaaanyaaa..” ia pun dengan sigap mengambil ayam Rendi yang sudah akan masuk ke dalam mulut Rendi.”mm..enak” Rauha tersenyum menang. Rendi sama sekali tidak kesal, ia bahkan senang, akhirnya Rauha kembali tersenyum.
Dering telpon berbunyi. Rendi menawarkan diri untuk mengangkatnya.
“halo” jawab Rendi
“apa ini benar nomor telpon nak Rendi?”
“ya benar...mm” Rendi sedikit mengenali suara diseberang telpon “mohon maaf ini dengan siapa?”
***


 To Be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar