Kamis, 14 April 2016

ROBOT part III (End)

ROBOT ( Punya Perasaan)

Perlahan mataku terbuka. Hal yang pertama kali ku lihat adalah langit-langit kamar. Tapi ini bukan kamarku.

“kau sudah sadar, syukurlah” suara lelaki yang sangatku kenal. Hanya satu-satunya yang bisa ku temui atau kuajak makan selain nenek. Ia adalah sepupu laki-lakiku yang baik. Ia tidak hadir saat warisan di bacakan. Ia dalam perjalanan keluar kota. Tapi aku tidak menyangka.

“aku benar-benar hilang akal, melihat tanganmu sudah berdarah-darah dan kau tidak sadarkan diri, aku sampai tidak mengerti apa yang kau pikirkan sampai berbuat seperti itu”

“papamu”suaraku lirih, merasa terasa lemas. aku ingat saat itu papanya dilarikan ke rumah sakit juga. Mungkin itu karena perkataanku yang mengintimidasinya.

“owh, papa, papa sudah dibawa pulang. Beliau baik-baik saja”

“oh, nona anda sudah sadar. Mohon maaf mas, saya harus periksa dulu pasiennya”

“baik, dokter" laki-laki itu seger berdiri"Aku keluar dulu” bisiknya padaku.           
Dokter mulai menanyakan apa aku masih merasa pusing. Karena aku kehabisan banyak darah. Untunglah aku segera dibawa rumah sakit sehingga masih bisa tertolong.

**

Aku berjalan-jalan di taman rumah sakit. sepupuku menemaniku sambil mendorong kursi rodaku. Aku melihat matahari sudah hampir diujungnya.

“aku mengira, setelah aku mengatakan bahwa aku akan memberikan semua harta warisan untuk bibi dan paman saja, mereka akan mulai menyayangiku dan ingin terus bersamaku, minimal mereka menganggapku ada”

“lalu apa yang kamu dapatkan?”

“mereka malah marah padaku. Aku tahu kalimatku seharusnya bisa lebih baik lagi dari itu”

“memang kata-kata apa yang kamu sampaikan? Ayo ceritakan apa yang terjadi pada hari itu?”

“apa mereka tidak memberi tahumu?”

Dia terdiam.

“setelah ku pikir, aku ingin menghabiskan harta warisan itu sendiri”

“bahkan kamu tidak ingin memberikanku?” katanya sambil bercanda. Aku tertawa.

“tidak. Tidak akan”

“keterlaluan.” Tapi ia mengatakannya dengan tawa lepas.

“aku ingin mendirikan sebuah yayasan panti asuhan. Aku ingin mereka tetap merasakan hidup layaknya orang-orang yang mempunyai keluarga. Diasuh dengan penuh cinta dan kasih sayang” dalam kalimat itu aku terus membayangkan wajah nenek yang menghabiskan sisa hidupnya untuk merawatku.

“hoho... kalimat itu keluar dari orang yang telah melakukan hal buruk pada dirinya”

“apa kau tidak senang?”

“maaf,maaf. Tapi aku senang, hal itu adalah hal yang sangat baik. Kamu juga harus janji padaku untuk terus bertahan hidup, jangan melakukan hal buruk itu lagi, jika kamu memang ada masalah jangan memendamnya sendiri lagi, bicaralah, kamu boleh mengatakannya padaku. Janji?”

“janji asal kau terus bersamaku.”

“baiklah.”

“aku akan jadi robot untukmu, berbicara saat kau ingin aku bicara, menangis saat kau ingin aku menceritakan kesedihanku, tertawa saat kau ingin aku terlihat gembira”

“kalau begitu aku tidak mau karena aku tidak mau bersama dengan robot. Kau tahu, robot itu tidak punya perasaan sama sekali, jadi aku tidak mau bersama dengan orang yang tidak punya perasaan”

“perasaan kah?” aku menatap matahari yang sudah semakin tenggelam. Langitpun terasa mulai gelap.

“hanya kau yang mengerti aku. Hanya dengan kau aku boleh bicara. Itu yang nenek katakan, aku jadi mengerti kenapa...”

“kenapa?” tanya perasaan sambil memandangku lekat.

“karena kau orang yang baik, dan mempunyai perasaan yang tulus”

Ia tersenyum manis padaku.

Aku memberinya sebuah pena hitam tebal. Aku memintanya untuk membuangnya. Aku tidak menjelaskan hal apapun tentang benda itu.

“itu alat perekam, aku inigin kau membuangnya” hanya kata itu yang kusampaikan diakhir pembicaraan kami disaat malam mulai tiba.

Aku diam-diam mengamatinya sambil duduk dikursi tunggu. Dia bilang dia akan pulang, tapi masih duduk disana. dia merogoh kocek sakunya dan mengeluarkan alat perekam berbentuk pena hitam tebal itu. ia mulai mendengarkan dengan seksama. Saat itu aku kembali mendorong kursi rodaku. Aku ingin istirahat dikamarku. Aku tidak menyuruh atau melarangnya untuk mendengar isi rekaman dalam benda itu. aku hanya menyuruhnya buang. Sepenuhnya adalah terserah padanya.

“setelah ini ia akan tahu apa yang sebenarnya terjadi” gumamku.
Ketika dihadapkan uang, orang-orang secara tidak langsung ataupun langsung akan menunjukkan sifat aslinya sadar atau tidak sadar. Dengan pura-pura memakai topeng kebaikan atau langsung menampakkan keburukannya.

Apa aku salah?

Bukankah aku adalah seseorang yang tak diinginkan, namun kali ini izinkan aku berkata.

Aku juga ingin hidup untuk bahagia seperti dirimu dengan perasaan cinta dan kasih sayang.

Semua itu tentu membutuhkan harta tapi bukan berarti membabi buta hingga membenci diriku dengan mengatakan “Tak seharusnya kau ada, Dasar Robot”.

TAMAT.

Pekanbaru, 14 April 2016.

Isyarayle.

Thans to Allah.

ROBOT part II

ROBOT (Mendapat Warisan)

4 tahun kemudian.
Berselang seminggu setelah hari wisudaku. Nenek pergi meninggalkanku. Hampir Seluruh harta warisan punya nenek, ditulis atas namaku. Padahal masih ada anak-anak nenek yaitu bibi-bibiku serta sepupuku yang berhak mendapatkan lebih dariku.

“Entah apa yang bisa kukatakan, kau sudah berhasil menguasai nenek selama ini” kata bibiku anak pertama dari nenek ,ketika hari setelah pemakaman yaitu hari dibacakannya warisan. “kau sudah berhasil menjadi boneka nenek, dan kau sudah berhasil menjatuhkan nenek...”

“sekarang apa yang akan kau lakukan, hah?” kata bibiku anak ketiga dari nenek. meninggikan suaranya dan seperti akan berdiri ingin menyerangku tapi ditahan oleh bibiku-anak pertama nenek.

“apa kau ingin menghabiskannya sendiri, anak sombong?” kata pamanku anak bungsu dari nenek.

“pa, kenapa harus dia sih yang dapat banyak, aku malah gak ada sama sekali disebutkan dalam warisan nenek, nenek pilih kasih” kata sepupu perempuanku.

“apa aku harus menjadi robot nenek seperti dia biar bisa mendapatkan warisan itu ma?” kata sepupu laki-lakiku.

Aku hanya bisa menunduk. Mengenggam tanganku yang dingin sambil mendengarkan kalimat-kalimat mereka sampai membuat telingaku terasa panas. Tapi..

“heeh? Kalian iri kan?” aku mulai bersuara. “kalian bisa mendapatkan semua warisan atas namaku menjadi milik kalian, dengan begitu kalian tidak akan bersuara-suara cempreng lagi” mereka mulai terdiam. Aku tidak menatap mereka. Tapi ku rasa mereka sedang fokus melihatku sekarang mendengarkan kalimatku berikutnya.”tapi, ada syaratnya...”

“Ap—APA” salah satu bibiku ragu, ia gengsi untuk mengetahuinya.

“jadilah robotku selama seminggu, HANYA SE-MI-NG-GU, dengan beg---“

Plakk!!!

Tamparan mendarat di pipiku. Cacian mulai bernyanyi dengan harmonisasi mereka. Aku sudah menduga ini terjadi. Bagaimana perasaan mereka. Hancurkah?

“Kenapa menamparku? Bukankah kalian mengatakan bahwa aku mendapatkan semua warisan ini karena aku sudah menjadi robot atau boneka atau apalah, ya kan? Hahahahaha” aku mulai menggila, aku tertawa berusaha tanpa beban walau tidak ada hal yang lucu sama sekali. Jauh dilubuk hatiku, aku menahan sakit, sedih. Bibirku bergetar.

“Kau anak tak tau diuntung, seharusnya kau tidak ada di dunia ini, kau seharusnya mampus bersama kedua orang tuamu, kenapa kau masih saja selamat hah? Aaarrrggghh.... seharusnya aku melakukan hal lebih, seharusnya aku membuangmu ketika bayi, arrrggghh.... sungguh MENYEBALKAN!!” paman frustasi ia berteriak sambil memegang kepalanya yang seakan hampir pecah.

Aku terdiam. Mulutku menganga tapi tertahan, mataku melotot memandangi paman. Apa yang barusan paman bilang. Menghabisi aku dan kedua orang tuaku, membuangku ketika bayi? Apa aku tidak salah dengar?.

“Adikku, kenapa kau membicarakan hal itu kau sudah gila hah?” bibiku berusaha menenangkan paman yang sudah seperti orang mabuk. Hilang kendali.

“Huh” dengan sisa-sisa tenaga. Dengan menguatkan bathin dan air mata yang ingin menangis mendengar fakta yang menggemparkan jiwaku, aku berusaha bersikap biasa. Poker face. “apa paman tidak mau? Setelah berusaha keras menghabisi orang tuaku dan menyesal telah membiarkanku selamat hingga sekarang bisa berkumpul bersama dengan paman? Aku berjanji akan memberikan warisanku untuk paman, hanya paman saja lho....”

“Kau......dasar kau...aku akan mem—argh..argh...dadaku...dadaku sakit” paman pingsan tak sadarkan diri.

Paman dilarikan ke rumah sakit. semua pergi meninggalkan ruang tamu, di rumah nenek yang mewah ini. hanya aku sendiri yang masih duduk terdiam. Air mata tanpa suara. Air mata yang terus mengalir. Dengan semua perang pemikiran yang terjadi. Orang tuaku pun bahkan tak diinginkan kehadirannya.
Untuk apa semua ini nek? Untuk apa nenek melakukan ini. nenek tidak inign membiarkanku keluar tanpa izin dan sepengtahuannya. Nenek bahkan terus-menerus menolak ajakan bibi-bibi dan pamanku sekeluarga jika ada liburan bersama. Nenek akan menyuruhku belajar dan terus belajar. Apa maksud nenek untuk semua ini.

Di meja tamu. Tepat dihadapanku. Ada sebuah mangkok besar berisi buah-buahan kesukaan nenek. Apel,jeruk dan pir. Dan juga sebuah pisau. Ia terlihar berkilauan. Tersembunyi.

“Apakah seharusnya aku tak ada didunia ini?” aku beranjak dan mulai melangkah. Perlahan-lahan. Aku sudah berada dihadapan pisau itu. tanganku bergetar meraihnya. Air mataku terus basah. “nenek, apa memang aku tak diinginkan di dunia ini?” aku dekatkan pisau itu tepat di denyut nadi tangan kiriku. Tangan kananku yang memegang pisau bergetar, terasa berat. Aku tak mampu memandangnya. Benar-benar tak mampu.
Dan. Dunia mulai terasa gelap. Sakitnya mulai terasa hilang. Apa aku sudah mati?


***


Aku tidak diizinkan melihat wajah kedua orang tuaku. Dan jangan coba-coba menanyakan tentang kedua orang tuaku. Aku tidak diizinkan bicara jika tidak disuruh bicara. Tapi, awan hitam saja jika sudah berkumpul dan menyatu lalu mulai terasa berat akan menumpahkan air ke bumi, lalu bagaimana dengan diriku. Keberanian yang kecil itu perlahan-lahan terkumpul menjadi besar, hingga muncul pertanyaan.

”Apa,apa aku ini robot bagi nenek?”

Nenek yang terlihat murka sebelumnya. Mulai melemaskan wajahnya yang tegang. Tangannya yang mengepal mulai terlepas. Wajah amarah berganti menjadi wajah merasa bersalah. Nenek terlihat bingung. Begitupun dengan diriku. Aku bingung apa ada hal aneh atau yang menyakitkan dari kalimatku tadi? Aku hanya bertanya, hanya memastikan. Lalu kenapa?
Nenek jatuh terduduk. Ia terkulai lemas. Nenek mulai menangis. Ia menutup mukanya. Nenek terus menangis.

“Nenek” semakin ku memanggilnya tangisnya semakin jadi.

Aku menjadi sedih. Mungkin benar sebaiknya aku tidak bicara apalagi bertanya. Aku iba melihat nenek menangis.

Aku peluk nenek. Aku peluk nenek dengan penuh rasa bersalah. Tubuh nenek yang ringkih membuatku tersadar, ia hanyalah seorang nenek yang berusaha menyayangi cucunya.

“Maafkan aku nenek, maaf”

“Tidak, akulah yang harus meminta maaf. Cucuku” wanita tua itu melepas pelukanku. Ia menyentuh pipiku dan menatap wajahku lekat-lekat. “aku memang sering mengatakan hal yang menyakitimu, tapi aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu terlihat seperti robot, nenek hanya ingin kau selalu disisi nenek, dan selalu mendengarkan nenek, maafkan keegoisan nenek, sayang”

Aku terharu. Semua rasa sakitku, seperti hanyut bersama air mata ini. aku memutuskan untuk selalu patuh pada nenek. Bukan ingin menjadi robot ataupun menjadi cucu kesayangan nenek. Hanya mengikuti keinginan nenek. Selalu disisi wanita tua itu.
Nenek berpesan.

“Jika tiba hari dimana dibacakan surat warisan, aku ingin kau melakukan tugas penting ini”

“apa itu nenek?”

“Merekam semua pembicaraan dari awal hingga akhir, akhir disini sesuai keinginanmu saja, sampai mana kau ingin merekamnya, merekam sampai semua komentar mereka juga tidak apa-apa”

“Mereka maksud nenek?”

“Bibi dan pamanmu serta keluarga besarnya” ucap nenek pelan namun tegas.

***

next ROBOT part III (End)

ROBOT part I

ROBOT ( Kau tak seharusnya ada)

Aku adalah seorang anak yang tak diinginkan kehadirannya. Aku hidup bersama dengan nenekku. Ibuku atau ayahku, aku tidak tahu dimana mereka,Bagaiamana wajah mereka, bagaimana suara mereka, seperti apa mereka memanggilku. Aku tidak tahu.

Nenekku selalu memarahiku. Setiap hal yang kulakukan selalu salah dimatanya. Setiap makian yang dimuntahkan kepadaku adalah kalimat yang membuat pikiranku selalu bertanya
“kenapa aku hadir di dunia ini?”.


Walau nenek menganggapku adalah sebuah beban namun ia terus-menerus merawatku. Menyuruhku makan, menyuruhku mandi, atau mengecek kamarku setiap malam memastikan apakah aku sudah tidur atau belum. Aku tidak mengerti sikap nenek. Ia sangat membenciku tapi ia juga terus merawatku.

“apa kau sudah makan?”


“belum”


“kenapa kau tidak makan? Kau harus makan, apa kau ingin sakit? apa kau ingin menghabiskan uang nenekmu agar kamu bisa dirawat di rumah sakit,hah? Jangan menambah masalah lagi, cepat makan sana” nenek terus menceramahiku, kalimat peduli namun dibumbui kalimat nyelekit.


“baik”

Tahun-tahun berlalu, bak daun yang berguguran. Aku tumbuh dewasa. Dan satu bulan lagi aku akan lulus sma. Nenek sibuk memilih perguruan tinggi mana yang akan ku masuki. Ia menelpon kepada orang-orang yang sering ia ajak diskusi. Meminta saran dan rekomendasi perguruan tinggi mana yang cocok untukku nanti. Tapi aku tidak begitu antusias. Aku sudah mempunyai pilihanku sendiri.


“aku tidak mau kuliah,”

“Apaaa?” nenek benar-benar terkejut mendengar kalimatku. Bak petir di siang bolong. Matanya melotot ingin keluar. Ku lihat wanita tua itu mengepalkan tangannya sambil menahan amarah.

“apa kau sudah gila? Kau ingin menelantarkan dirimu dan mengumumkan pada semua orang bahwa aku sudah menyia-nyiakan orang yang seharusnya tak hadir di dunia ini, begitu hah?”

Aku terkejut mendengar kalimat itu. aku sebagian terharu,tapi sebagian lagi marah,sebagian lagi tak mengerti,sebagian lagi ingin memintanya untuk menjelaskan lebih jelas, aku ini diharapkan atau tidak. Jika memang aku tak diinginkan kenapa tidak membuangku saja dari dulu. Dariku masih bayi, sehingga tak perlu menghabiskan waktu,tenaga dan uang untuk membesarkanku. Tapi hanya kata itu yang bisa kutanyakan.

“kenapa nenek ingin sekali aku kuliah? padahal bisa saja nenek menyuruhku bekerja dengan begitu aku bisa memberi nenek uang, dan cepat atau lambat aku bisa mengganti semua uang nenek yang telah membesarkan dan menyekolahkanku, jadi unt----“

Plak!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku tidak menyangka nenek akan menamparku. Aku memegang pipiku yang sakit dan mengelus-elusnya. Aku melihat wajah nenek. Dan. Deg!!
Nenek menangis. Tangisan tanpa suara. Aku belum pernah melihat nenek menangis. Mungkin pernah tapi aku tidak pernah melihatnya secara langsung.

“Ne-nenek,ke—“

“berhenti bicara, kau tidak punya hak bicara, kau hanya perlu mendengarkan kataku, makan, maka kau harus makan!, tidur, maka kau harus tidur!!, sekolah, maka kau harus sekolah!!!, dan kuliah..KULIAH...maka kau harus kuliah!!!!.kau...kau” nenek mengatakannya dengan penuh amarah dan air mata, tangan yang bergetar yang terus menunjukku. Butiran mata yang terus membasahi pipi setiap mengatakan kata “kau”.

Aku hanya diam. Terus mendengarkan. Tanpa terasa air mataku juga jatuh.

“Apa-apa aku ini robot bagi nenek?”

***

next ROBOT part II

Selasa, 22 Maret 2016

Untaian Pikiran

Yah, tugas kita Hanya TAAT, itu saja.

Sudah banyak hal yang terjadi, segala kesedihan, kegembiraan, kenangan indah, luka yang berbekas, 

air matanya yang sudah tak terhitung berapa kali jatuh, dan tidak tahu sudah berapa kesalahan yang 

terjadi dan apakah sebanding dengan kata maaf yang terucap, dan sudah berapa lapang hati kita untuk 
memaafkan seseorang yang telah menghujam hati dan jantung, entah berapa kalimat keluhan yang 

terlempar pada dunia yang indahnya saja manusia tidak bisa lukiskan sekalipun diberikan tinta lautan 

yang ada diseluruh dunia ini. Tugas kita, Hanya TAAT kan? Itu.


Uwaaaah......kalimatku lari entah kemana-mana, aah, yang penting inilah yang aku rasakan dan 

segala pikiran yang melayang begitu saja dikepalaku sehingga bisa tercatat disini, mungkin bisa lebih 

banyak lagi, dan bisa lari-lari kemana lagi, karena tidak bisa secepat pikiran yang dengan cepat 

berpindah-pindah, dari ingatan satu ke ingatan lain, dari pikiran satu ke pikiran lain, jika ada clue 

baru maka semua pecah, pikiran rasanya pecah, hendak memburu apa saja yang ada dipikiran, namun 

tidak semu apa yang dipikirkan bisa tertulis, karena tidak semua pikiran baik yang bisa kamu tujukan 

pada orang yang sangat berharga bagimu tidak ingin mereka berpikiran buruk tentang halmu, maka 

itu ada banyak hal yang tersembunyi dalam diri kita, semuanya benar-benar misteri, seperti itulah 

dunia, semua adalah misteri, namun kita berusaha mencari-cari dan menebak-nebak apa yang terjadi.

Cinta is Love

Cinta? Menurutku?
Aaahhh...hmmm.....apa ya?
Love kah? Hahahaha...
Cinta itu adalah anugerah Allah yang luar Biasa.
Dengan hal itu Cinta tak bisa diterjemahkan dengan hal yang biasa.
Cinta? Cindua Tapai kata orang? Hahaha... yaaaa...chinca >,< mereka kira makanan...
No..no...
Cinta lah yang menerangkan apa cinta itu..
Begitu banyak yang mendefinisikan apa itu Cinta.
Cinta itu fitrah manusia. Ia suci. Tinggal bagaimana manusia membawa arti cinta yang telah diberikan kepada manusia yang awalnya suci.
Jika cinta itu diarahkan pada hal yang sebenarnya Cinta itu ditempatkan, maka Cinta tetaplah suci, sebagaimana Yang Maha Cinta Dzat Yang Maha Suci.
Janganlah coba-coba menerjemahkan cinta jika kamu belum pernah merasakan cinta ,apalagi jatuh dan tak berusaha segera membangunkan cinta ..hahaha..gomen :p
Yap...so,jadi Cinta itu apa?
Cinta lah yang menerangkan apa cinta itu..

Kalau kamu??

#JanganBaper -.....-


By: isyarayle

Rindu Senja Part III ( Akhir untuk sebuah permulaan )

Awan. Hanya ada awan terlihat. Perjalanan yang begitu terasa panjang.
                
Aku sibuk dengan berbagai pikiran yang berkacamuk. Aku akan bertemu dengannya. Apa kata yang akan kusampaikan?. Semua menjadi pikiranku.
                
“makanlah, kamu dari tadi belum makan” seseorang itu menawarkanku roti tawar yang sudah diolesi selai pandan kesukaanku. Aku hanya menatapnya saja.
                
“makanlah” seseorang itu sudah mau menyuapiku. Tapi aku mengambil roti itu dari tangannya dan memakannya sedikit. “harus habis ya” seseorang itu juga mengambil roti yang sama denganku. Ia melahap makanan itu.
                 
Setahun setelah kepergian ibu. Hidupku terasa hampa. Aku semakin terpukul ketika mendengar cerita yang selama ini ibu simpan dariku bahwa Ayah kembali pulang, dalam keadaan sehat tak ada kurang satu pun. Ibu sangat terkejut, ibu saat ingin memeluk Ayah saat itu tapi tidak bisa.  Rindu yang sudah menahun itu tak bisa ia lampiaskan. Tangan Ayah sudah ada yang mengenggam. Dua orang yang mengenggam itu tak ingin melepaskan Ayah agar bisa lebih dekat dengan ibu. Ibu sedih, orang yang dirindukan sudah tak lagi menjadi miliknya. 14 tahun menghilang, kini kembali, sudah tak sama lagi,sudah tak bisa seperti dulu lagi.
                
“kita sudah mau landing, jangan lupa sabukmu” lamunanku buyar mendengar kalimat itu.
                
Perjalanan yang melelahkan tubuh dan batinku. Sesekali aku memandang dia yang tengah sibuk sendiri dengan semua barang bawaan. Aku ingin sekali membantu, walau kepergian kali ini tidak membuatku senang , tetapi aku juga tidak ingin menjadi bebannya.
                
“sayang, kamu duduk saja disini, biar semuanya aku yang ur....”
                
“aku bisa sendiri, aku baik-baik saja, jangan khawatir” aku memaksa diri untuk ikut menarik koperku. Dia tidak bisa berbuat apa-apalagi selain mengawasiku.
                
Aku dan dia berlanjut menuju hotel. Dalam perjalanan aku tertidur, tubuhku terasa lemah. Perjalanan yang melelahkan. Batinku.
                
Setiba di hotel, aku membereskan diri, mandi,setelah mandi dan makan malam di restoran aku menyiapkan pakaian untuk besok. Saat semua suah disiapkan aku merebahkan diriku dan berusaha memejamkan mata, tapi tidak bisa. Aku melirik dia yang sudah tertidur pulas. Aku berusaha membelai rambutnya.
                
“sayang, kamu belum tidur?” suaranya serak. Aku tertegun. Aku membangunkannya. “tidurlah...” ia berbalik dan memegang pipiku yang basah. “tidurlah...” senyumnya yang terkembang diwajahnya yang kelihatan ngantuk berat.
                
“maafkan, aku” bisikku padanya. Aku merasa bersalah. Seseorang yang telah menemaniku selama ini, seseorang yang tak lelah mendengar cerita sedihku, seseorang yang selalu membawa kebahagiaan tersendiri dalam hidupku, aku benar-benar merasa bersalah padany, tapi aku bisa apa, saat aku sudah membuatnya repot, bagaimana aku bisa menolak keinginan yang jarang ia utarakan kepadaku, setelah semua keinginanku selalu ia penuhi.
                
“tidak apa-apa sayang” kalimat itu semakin membuatku sedih. Seseorang yang sangat baik.
                                                                                

                                                                               ***
                
Beef steak. Menu makan malam di restoran itu. aku sedari tadi hanya menunduk menunggu kedatangannya.
                
Ia tidak akan datang. Begitu pikirku.
                
“Selamat Siang”
                
Aku mendongakkan kepalaku. Aku melihat seorang yang berambut tebal dengan sedikit uban, dengan jenggot yang menghiasi wajahnya, matanya yang teduh dan senyumnya yang terkembang.
                
“Maaf, sudah membuat kalian menunggu”
                
“tidak apa-apa, kami juga baru sampai” seseorang disampingku yang menjawab dengan ramah. Mereka lalu bersalaman. Dan setelah itu...
                
“Ayah merindukanmu, sayang”
                
Aku tidak menjawab apa-apa. Mataku berkaca-kaca ingin menangis. Aku berusaha menahan nangis.
                
sayang, kamu maukan memaafkan Ayahmu?.
                
Aku tertegun. Tiba-tiba pertanyaan itu mengingatkanku pada ibu.
                
“aku...” suaraku bergetar. “aku...aku” mata Ayah tertuju padaku. Seseorang disampingku memandangku.
                
“aku...aku ingin pulang” aku sudah ingin berdiri. Seseorang disampingku menahan tanganku. Dia menggeleng, agar aku jangan pulang.
                
“sayang, maafkan Ayah”
               
  Maaf?. Maaf?
                
Ayah minta maaf padaku?
                
Untuk semua yang telah Ayah lakukan selama ini, pergi meninggalkan aku dan ibu, tanpa ada kabar dan sekarang....Ayah minta maaf. Terlambat. Aku sudah terlanjur sakit.
                
“Ayah, benar-benar merasa bersalah” ia terus melanjutkan semua penyesalannya “Ayah sudah menyakitimu, sungguh maafkan Ayah” suaranya tercekat.
                
Lukaku. Lukaku semakin bertambah. Entah kenapa aku merasa menjadi orang yang jahat.
                
“sayang, maafkan Ayah...”
                
“tidak...” aku harus menyampaikan semua hal ingin aku katakan padanya. Selama bertahun-tahun aku ingin sekali mengatakannya ketika berumur 8 tahun, dan dengan semua pertanyaan yang ingin selalu kutanyakan pada Ayah, tapi aku takut dengan semua penjelasannya, cukup aku menganggap Ayah sudah bersalah dan kini hanya tinggal memafkannya, dan saat inilah aku harus...”tidak..bisa kumaafkan,” aku menangis mengatakan itu “itu yang ingin kukatakan jika bertemu Ayah, tapi setelah benar-benar bertemu denganmu, aku tidak bisa untuk tidak memaafkanmu, apalah aku, aku hanya manusia lemah, ditinggal  pergi oleh orang yang kusayang, aku hanya berusaha ikhlas” air mataku semakin deras tapi aku tidak berniat menghapusnnya “aku..aku...” seseorang yang disampingku memegang erat tanganku. “merindukanmu selama ini, Ayah” aku merasa lega. Aku benar-benar merasa lega. Itulah yang selama ini aku sampaikan padanya. Aku merindukan Ayah, aku merindukan Ayah setiap aku menatap senja, setiap aku menyaksikan detik-detik matahari terbenam aku selalu merindukan Ayah.
                
sayang, kamu maukan memaafkan Ayahmu?
                
Ibu, aku ingin bisa seperti ibu, memaafkan seseorang yang melukai hati ibu. Membuatku belajar ikhlas selama ini dari ibu. Mungkin ada kerinduan yang mendalam dan kebencian yang masih bertengger dihati ini lah yang sangat sulit menjawab pertanyaan ibu selama setahun yang lalu,namun setelah bertemu dengan Ayah secara langsung, aku tidak bisa menyembunyikan kerinduanku. Aku benar-benar berterimakasih pada seseorang yang ada disampingku. Ia telah berhasil membawaku menemui Ayah walau sudah beberapa kali aku menolak.
                
“Ayah, juga rindu padamu, sayang” ayah berjalan mendekatiku dan memelukku.
                
Inikah yang menjadi ketakutanku?. Aku takut bertemu dengannya, aku takut hanya bisa menatapnya dengan kebencian yang mendalam dan tak bisa menyampaikan hal yang paling ingin kukatakan. Aku Rindu Ayah, rindu saat bersama melihat senja juga Ibu.
                
“Selamat Ulang Tahun,Sayang” Ucap Ayah sambil memberiku sebuah kotak berwarna biru dengan pita kuning. Aku terharu, kalimat itu yang sudah 15 tahun yang lalu ku nantikan.
                
“Dan ini untuk calon cucu Ayah” bungkusannya besar.
                
“Ayah....”
                
Ayah tersenyum. Raut wajahnya bercampur antara bahagia dan senang.
                
Kebahagiaan ini belum berakhir kan?
                
Aku ingin terus kebahagiaan hadir selalu dihidupku, dihidup seseorang yang memegang hangat tanganku, dan calon bayiku serta Ayah.
                
Seseorang disampingku, yang akan menjadi seorang Ayah, suamiku. Aku terus membisikkan kata padanya, agar ia jangan meninggalkanku juga anakku nantinya, aku tidak ingin lukaku ini tidak dimiliki oleh anakku.
                
“Hari ini bagaimana kita melihat senja bersama, Ayah sudah Rindu”
                
Ayah sama sepertiku, ia tak sanggup menikmati sunset, teringat kenangan yang membuat orang tersayang terlukai oleh sikapnya.
                
“iya, Ayah”
                
Peristiwa detik-detik matahari terbenam memberi banyak pelajaran, untukku, untuk Ayah dan untuk suamiku. Tiba-tiba saja aku merasakn kehadiran ibu disampingku. Ia tersenyum, senyum yang indah.
               
Aku, Sayantika Rahma. Aku biasa dipanggil ‘Sayang’ oleh orang terdekatku, dan seseorang disampingku adalah teman masa kecilku, dia juga menemaniku melihat sunset saat permintaan Ibu terakhir kalinya. Aku mencintainya karena Allah.
                
Cerita ini adalah sebuah kerinduan akan Senja dikala waktu itu, bersama yang tersayang.
                                                               
TAMAT
Rindu Senja
By: IsyaRayle

Pekanbaru, 15 Maret 2016. Di sebuah kamar kecilku.

Rindu Senja Part II ( Pertemuan )

Aku hanya termangu melihat koper yang sudah rapi. Seseorang itu menyiapkan semua perlengkapan yang akan digunakan saat berpegian nanti.
               
“aku sudah menyiapkan semuanya, kamu cukup duduk tenang disana”
                
Seseorang itu menyiapkan koper yang satu lagi, dengan tangan yang cekatan mengambil barang-barang untuk berpergian. Aku terus menatapnya yang tengah sibuk.
                
“aku tidak mau pergi” kataku dingin.
                
Seseorang itu tetap diam saja, tidak mengacuhkan perkataanku. Aku mendengus kesal.
                
“aku tidak mau pergi, aku tidak mau pergi, sudahku bilang aku baik-baik saja, aku tidak perlu pergi,seharusnya ka........”
               
  “sayang”
                
Aku terdiam.
                
“ini sudah kesekian kalinya kamu menolak, kita tidak bisa terus-terusan begini, kamu harus menemuinya” jawabnya lembut. “sampaikan apa yang ingin kamu katakan padanya”
                
Aku tetap saja diam.
                
Semua perlengkapan sudah lengkap. Seseorang itu mendekatiku dan memegang tanganku.
                
“ada aku disini, kamu akan baik-baik saja, aku juga ingin menemuinya, jadi jangan khawatir”
                
Aku tidak menatapnya. Aku terus menunduk, pandanganku terpaku pada kakiku yang semakin membengkak.
                
“ayo kita pergi,sayang”
                                                                                ***

                
Kesuksesan yang ingin segeraku bawa pulang dan kuhadapkan pada ibu, membuat jantungku berdebar. Rasa rindu yang membuncah ini, rasa yang tak bisa diterjemahkan dengan kata-kata, rasa yang tak bisa digambarkan. Dalam perjalanan pulang. Aku menatap keluar jendela. Langit senja, burung yang terbang bersama kawanannya, matahari yang semakin terlihat rendah.
                
“se..senja” aku termangu.
                
Dan ketermangu-anku berlanjut berubah menjadi keterkejutan yang amat luar biasa. Sesampai dirumah, aku mendapati kabar ibu jatuh sakit, mereka yang selama ini menemani ibu tidak berani mengabari kabar ibu sakit karena ibu sendiri yang melarang. Sakit yang sudah seminggu berlalu, itulah kenapa ibu tidak bisa datang dihari wisudaku. Lemah, semua badanku terasa lemah. Hari-hari yang seharusnya tersulam dengan kebahagian menjadi sebuah kesedihan. Ibu tak kunjung sembuh. Semua rencanaku di kota harus dipending demi kesehatan ibu.
                
“ibu, cepat sembuh” aku bisikkan kata itu ditelinga ibu. Ibu hanya mampu menangis.
                
Sakit ibu tak kunjung sembuh. Aku hampir putus asa. Semua sudah dilakukan untuk kesembuhan ibu.
                
“ibu,apa ibu ada keinginan? Aku akan mengabulkannya, asal ibu bisa sembuh”
                
Saat itu, ibu hanya tersenyum menatapku, matanya mengalir.
                
“apa ada permintaan khusus dari ibu?, sampaikanlah” mengabulkan apa yang sangat diinginkan oleh orang yang sakit bisa memberikan kesembuhan tersendiri, jika hatinya senang maka seluruh anggota tubuhnya juga ikut merespon kesenangan itu.
                
“sen....senja...ibu..mau..lihat..matahari...terbenam...” jawab ibu lemah.aku tertegun. Sudah lama tidak melihat matahari terbenam bersama.
                
“apa itu yang ibu inginkan?”
               
  Ibu mengangguk.
                
“baiklah, 2 jam lagi kita ke pantai, sekarang masih belum sore,aku siapkan perlengkapan dulu untuk pergi kesana”
                
Aku menghubungi beberapa orang untuk membantuku membawa ibu kepantai. Salah seorang teman masa kecilku menawarkan bantuannya ketika ia mendengar kabar bahwa aku ingin membawa ibu kepantai. Aku tidak menolaknya, aku sungguh berterima kasih.
               
 Detik-detik matahari terbenam. Ibu terus menatap matahari, senyumnya terkembang, aku tidak melihat matahari sama sekali, aku justru menatap ibu. Dibayanganku ibu berubah menjadi muda ketika aku, Ayah dan Ibu bersama-sama melihat matahari terbenam dulu, dulu sekali. Aku menahan haru.
                
“sayang,” panggil ibu lemah.
                
“iya,ibu”
                
“Ayahmu,....Ayahmu...sangat suka matahari terbenam,tapi ibu sesungguhnya lebih suka melihat matahari terbit,”
                
Aku terdiam. Aku belum pernah mendengar cerita ini, aku mengira bahwa Ayah dan Ibu sama-sama suka dengan pemandang matahari terbenam.
                
“tapi, semenjak menikah dengan Ayahmu, ibu menjadi suka melihat matahari terbenam”
                
“ibu”
                
“sayang, kamu maukan memaafkan Ayahmu?” tanya ibu lemah.
                
Aku terkesiap dengan pertanyaan ibu. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.
                
“ibu”
                
“ibu, sudah memaafkannya, karena itulah, ibu ingin terakhir bisa melihat senja kali ini, agar ibu bisa mengingat senyum bahagianya itu, sampai hilang semua kesedihan ibu...”
                
“ibu..aku..” aku tidak bisa melanjutkan kalimatku. Aku menangis, aku memeluk tubuh ibu yang semakin ringkih. Ibu membelai kerudungku. Hingga belaian tangan itu terlepas.
                
“ibuuuu.............”
                
Ibu pergi sebelum sempat aku menjawab tanyanya.
                
Apa aku mau memaafkan Ayah?

                                                                                ***

Next : Rindu Senja Part III