Rabu, 29 Maret 2017

My Story About You : Episode 11 (Epilog)


Syarmila mempersiapkan diri, seminggu lagi ia akan terbang ke Jepang, negeri sakura. Ia mendapatkan bea siswa untuk mengambil jurusan arsitektur mengikuti jejak kakaknya.

Ayah dan Ibu awalnya sempat ragu, namun Syahnaz meyakinkan bahwa adiknya akan baik-baik saja karena ia akan menjaga Syarmila disana.

Syarif resmi naik ke kelas 2. ia pun diberi amanah menjadi Ketua Rohis, sungguh hal itu membuat kedua kakaknya senang, ia harus lebih banyak bicara lagi tampil di depan umum, tapi Syarif tetaplah Syarif ia dingin sebagaimana biasanya.

Pinky melanjutkan kuliahnya di Kota Jakarta mengambil jurusan manajemen, ia begitu murung sebelum keberangkatan Syarmila ke Jepang, ia senang sekaligus sedih itu berarti ia akan jarang bertemu dengan sahabat terbaiknya.

"Kan udah ada video call," Hibu Syarmila, Pinky awalnya cemberut akhirnya ceria.

Syarmila menatap sekeliling kamar yang akan sangat lama ia tinggalkan, terbayang semua kegiatan yang ia habiskan di kamar kecilnya itu. Semua terkenang, seperti sebuah film dokumenter. Gadis itu mendekat ke jendela dan membuka perlahan jendela itu.

"Kak ayo" Syarif sudah mengajak kakaknya untuk turun, ia harus pergi ke bandara.

Seminggu setelah kejadian yang begitu mengguncang batin Syarmila, ia mendapatkan supucuk surat.
"Ini surat dari Bang Afkar sewaktu kakak di rumah sakit, beliau juga menitipkan salam untuk kakak supaya lekas sembuh"

Syarmila menatap lama surat yang ada ditangan adiknya itu, ia ragu untuk menerima.

"Sebenarnya, aku sudah lama ingin memberikan ini, tapi sepertinya ini saatnya tepat karena kakak sudah lebih baik dari sebelumnya, terimalah aku tidak ingin melanggar amanah ini" Bujuk Syarif.

"Makasih ya dek" Syarmila berusaha tersenyum.

Burung besi terbang mengudara di langit cakrawala. Syarmila membuka penutup jendela pesawat, ia menyaksikan senja yang menjingga. Biasanya ia hanya menatap jauh dari jendela kamarnya kini terasa begitu dekat seakan ia bisa mengenggam awan. Kak Syahnaz tertidur pulas sambil menggunakan penutup mata dengan motif lucu.

Syarmila teringat sesuatu, ia membuka tas kecilnya. Sepucuk surat berwarna biru yang masih utuh belum dibuka sama sekali.

Dear Syarmila,
Assalamu'alaikum Gadis manis,
Semoga kamu lekas sembuh dan selalu dalam keadaan sehat.
Maaf jika Abang selama ini ada hal yang menyakitkanmu, terutama tidak hadir di festival.
Abang benar-benar minta maaf, seharusnya ketika kita bertemu di pekarangan rumah saat itu Abang langsung menyampaikan rasa bersalah Abang.
Syarmila, Gadis manis, tetaplah menjadi gadis yang ceria dan percaya diri, kamu gadis yang kuat Abang sangat menganggumimu, bakatmu luar biasa.
Semoga dimanapun kamu berada, kamu selalu menjadi cahaya bagi sekitarmu.
Ahya, Abang sungguh berterimakasih atas bantuanmu,sungguh Abang menyukai postermu.
Terakhir dari Abang,  semoga Syarmila bisa menemukan cinta sejati.

Salam 

Afkar.

Air mata Syarmila jatuh perlahan, gadis itu menangis tanpa suara. 'Cinta Sejati' katanya. Apa dia tahu sesuatu tentang perasaannya?. Entahlah Gadis itu sudah tidak ingin mengingatnya. Namun surat itu seperti menyiram hatinya yang gersang.

Perjalanan hari ini sungguh mengharu biru di atas cakrawala langit jingga.

"Berakhir sudah ceritaku tentang kamu" Bisik Syarmila.

***

Apakah Syarmila bertemu dengan cinta sejatinya? #Season2

Selasa, 28 Maret 2017

My Story About You : Episode 10 End ( Puing-Puing Perasaan)



Setiap hari kutuliskan cerita tentangnya di buku diaryku, untaian kata dan tiap goresan lukisan tentangnya.

Kebaikannya yang selalu memberiku kekuatan. Senyum manisnya yang menjadi lukisan Tuhan yang begitu indah memberi warna dihidupku.

"Kamu menyapaku di saat aku melewati pagar rumahmu, sesibuk apapun kamu dengan motormu, kamu akan segera menyapaku. Sepertinya aku begitu menanti hal itu sampai tak sadar berhenti begitu saja menunggu sapamu."

"Kamu, hari ini pulang lambat, tiba-tiba rasa khawatirku muncul, apa kamu begitu banyak tugas di tempat kerja paruh waktumu?"

"Aku sungguh malu, apa yang ku harapkan sampai begitu kecewanya ketika kamu hanya meminta bantuanku, mungkin aku sudah begitu berlebihan atas perasaan ini hingga hilang logika"

"Kamu tahu? Aku sering menatap rumahmu di balik jendela kamarku, meski hujan membasahi jendela hingga membentuk urat di kacanya, aku sekalipun tak pernah bosan menunggu kabarmu. Aku tahu ini tidak baik, Tapi perasaanku tak bisa ku cegah"

"Sudah begitu banyak air mata jatuh, memohon ampun pada Allah, atas perasaanku ini padamu. Aku masih gelisah menantimu, kamu tak jua hadir. Alam seakan mengerti aku, ia ikut menangis. Sesekali aku mendengar keluh ibu, jemuran tak jua kering karena baru sebentar di jemur harus di bawa ke dalam rumah lagi, mungkin jika kamu segera kembali disini, aku tak akan sedih, dan hujan bisa reda bersama dengan kegelisahanku, tapi hujan bukan kuasaku, ini kuasa-Nya."

"Besok adalah hari kelulusanku, semoga kamu bisa hadir disini memberiku selamat atau sekadar duduk sebentar dalam acara syukuran, itu akan membuat hari ku semakin indah"

Semua ceritaku tentangnya, tentang perasaanku padanya, tentang kekhawatiranku padanya,tapi aku lupa mengetahui entah "Apa" aku baginya.

Akan tetapi, semua akan berlalu hanya akan menjadi masa lalu, aku harus membersihkan puing-puing perasaan yang sudah kubangun sendiri dan runtuh dengan sendirinya. Membersihkan hati atas perasaannya yang sudah lama ku ketahui bahwa ini "tak pasti" dan hanya bisa melukai.

Bisikan Pinky hari itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Godaanku Kak Syahnaz tentang 'Pangeran berkuda putih' itu juga salah, ia bukan pangeranku, ia sudah menjadi pangeran orang lain.

"Kamu benar Syarif" ucapku getir, setelah sekian jam aku terdiam di ruangan putih.

Syarif memegang tanganku yang di balut kabel infus.

"Kakak seharusnya sudah lama menghilangkannya, tidak membiarkan bibit perasaan itu tubuh liar di hati kakak. Membuatnya lebih dulu pupus, Perasaan yang tak seharusnya kakak biarkan terkembang dan sekarang dipaksa pecah."

Genggaman tangannya semakin erat, tanpa sepatah katapun darinya. 

Air mataku terus basah. 

"Kakak baik-baik saja Syarif, hanya saja tubuhku tak sekuat tekad, Jauh sebelum ini aku pernah merasakan hidupku akan berakhir tapi melihat kalian yang begitu menyayangiku membuatku bertahan, karena itulah ini bukanlah apa-apa" aku kembali tercekat, tangisanku memaksaku diam sejenak, menikmati irama tangis.

"Perasaan sakit ini akan segara hilang dimakan waktu"

Kata itu yang kuucapkan, namun esoknya aku lupa.

Aku terkadang masih menangis, Ayah dan Ibu mencemaskanku, mereka sudah tahu dari Kak Syahnaz tentang perasaanku pada Bang Afkar.

"Kamu tahu, nak?" Kata Ayah sambil membelai kepalaku "Kami begitu mencintaimu, rasa sakitmu menjadi sakit kami semua" demi mendengar itu aku menangis. "Tapi senyum indahmu itu sudah cukup menjadi penyemangat kami hidup, jadi setelah masalah perasaanmu berlalu teruslah tersenyum dan jangan menyesali apa yang terjadi tetapi bersyukur karena itu pernah terjadi membawa hikmah tersendiri untukmu dan juga untuk kami"

Aku mengangguk kuat. 

"Jika suatu hari nanti kamu menyukai seseorang, sukalah sedekarnya, dan jika kamu tidak sanggup menyimpannya sendiri sampaikan pada orang tua ini, jika mau kita bisa menikahkanmu dengannya" demi mendengar kalimat itu aku tersenyum berurai air mata.

"Nah begitu tersenyumlah, anak Ayah cantik"

"Anak ibu juga" Ibu menimpali. Tawa pun pecah di ruangan putih itu.

***

Seminggu telah berlalu, meski puing-puing perasaan itu belum sepenuhnya bisa ku bersihkan dari hatiku, namun aku berusaha menjalani hidupku yang baru tanpa "dia" dihatiku lagi. 

Satu per satu tiap barang yang menyangkut tentangnya aku singkirkan dan ku masukkan dalam kardus, termasuk bingkai photo itu saat gerimis antara Aku dan dia. Demi melihat photo itu aku terdiam lama menatap, senyum kami sama-sama terkembang di bawah rintikan hujan.

"Kamu sedang beres-beres?" Aku langsung menyeka air mata di ujung mataku.

"Iya" jawabku pendek "Kakak?"

"Ya"

"Kakak benar, aku harus jujur pada perasaanku dari awal, dan aku tahu ini terlambat" aku mengambil nafas dalam-dalam "Aku jujur suka padanya, suka dengan senyum manisnya, tapi, tapi sekarang aku harus melupakannya, aku harus menghilangkannya-"

"Tapi jangan jadi membencinya, kamu juga tidak harus memaksakan untuk melupakannya saat ini juga, perlahan saja, seiring waktu semua akan berlalu begitu saja bahkan kita mungkin bisa saja tidak ingat akan kejadian kemarin,"

"Kaka benar-" Aku terkejut Kak Syahnaz tiba-tiba memelukku. Aku membalas pelukan hangatnya, kali ini aku tidak ingin nangis lagi.

"Terima kasih kak" Ia mengangguk tanpa sepatah kata pun.

Biarkan aku membereskan puing-puing perasaan ini bersama waktu.

Hingga ceritaku tentangnya luntur bersama hujan.


The End

Minggu, 26 Maret 2017

My Story About You : Episode 9 ( Menikah?)



Aku ingin sekali bertanya kemana saja ia selama ini, apa yang terjadi padanya? Wajahnya tak bersinar seperti biasanya.

Mendung kali ini sepertinya juga ingin tahu.

***

Ibu meminta aku , pinky dan Bang Afkar masuk ke dalam, gluduk sudah meminta kami untuk segera berteduh mungkin akan segera turun hujan, mendung tak sabar ingin tahu rupanya.

"Ada kabar apa nak Afkar?" Tanya ibu yang sudah meminta Bang Afkar duduk di kursi tamu, Ayah juga sudah beberas di warung, hari ini warung lebih cepat tutup dari biasanya.

"Saya mohon maaf, menganggu waktu ibu dan sekeluarga" Jawabnya sopan tanpa pernah lupa dengan senyum manisnya.

"Bang Afkar sebelumnya kami ada kabar, hari ini kamu lulus 100%, ya kan Mila?" Pinky begitu antusias, sinar matanya memancarkan kebahagiaan, tadi sebelum melangkah masuk kedalam rumah tadi pinky sempat berbisik padaku, dia bilang hari ini sungguh hari yang besar dan membahagiakan untukku kabar lulus dan bisa bertemu kembali dengan yang selama ini dirindukan. Aku sempat menyikutnya, aku merasa malu. Tapi pinky benar, aku sangat senang sampai-sampai tidak bisa menyembunyikannya aku dari tadi terus senyum padanya. Walau Bang Afkar membalas dengan senyum yang berbeda tapi aku tetap senang.

"Benarkah? Selamat ya, Syarmila dan-"

"Pinky" jawab pinky semangat

"ah ya Pinky, sekali lagi selamat ya, semoga berkah ilmunya"

"Aamiin, makasih ya Bang, oia akhir-akhir ini Mila risau dia rin-"

"Eh pinky, yuk kita ke dapur ambil minuman dan cemilan" Aku buru-buru menarik tangan Pinky dan refleks menutup mulutnya. 

Ibu tersenyum dan geleng-geleng melihat tingkah kami, dari tadi sebenarnya Ibu sudah mengkode untuk bawa minuman dan makanan ke ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruang keluarga untuk acara syukuran.

"Pinky, kamu jangan bikin aku malu dong" Aku mendengus sesaat tiba di dapur.

"Ya,maaf deh,lagian kan aku cuman mau kasih tahu doang" 

Aku sebenarnya juga merasa bersalah, tidak seharusnya aku bersikap begitu pada Pinky.

"Pink, maaf ya"

"Ya sudah santai aja"

Kami berdua pun sudah sibuk di dapur menyiapkan segala jamuan hari itu. Kak Syahnaz sibuk dengan syarif membantu Ayah menutup warung, tadi ia sempat menggodaku bilang pangeran berkuda putihku sudah datang. 

"Jadi, ada kabar apa? Ibu dan Bapak khawatir nak Afkar tiba-tiba jarang terlihat" ibu sudah mulai percakapan yang tertunda tadi, suaranya masih terdengar hingga ke dapur, aku menyimak dengan hati-hati. Pinky terus tersenyum menyindir.

"Saya mohon maaf tidak sempat pamit Bu, karena saya pulang kampung, mendadak  berangkatnya harus saat itu juga dan paman juga datang menjemput. Mama sakit keras, beliau meminta saya datang menemuinya,"

"Innalillah, lalu bagaimana keadaan Mama,nak?"

"Alhamdulillah, beliau sekarang sudah mendingan, dan saya harus balik lagi, cuman singgah sebentar mau mengambil keperluan yang masih tertinggal di rumah karena malam ini harus berangkat lagi"

"Sebentar sekali, tidak nginap dulu?" Ayah sudah ikut nimbrung dan duduk bersama. Syarif dan Kak Syahnaz juga sudah ikut gabung.

Sementara aku dan Pinky masih sibuk di dapur, sebenarnya yang lebih banyak sibuk itu Pinky,  dari tadi aku fokus memperhatikan percakapan di ruang tamu.

"Saya sebenarnya juga ingin begitu,Pak, tapi tidak bisa harus segera pergi" mendengar kalimat itu hatiku merasa kecewa, baru saja bertemu kembali harus pergi lagi.

"Mudah-mudahan gak lama ya Mil" bisik Pinky. Dia rupanya mendengarkan juga. Aku tersenyum simpul dan kembali fokus ke percakapan.

"Sebenarnya ada hal lain lagi? tampaknya buru-buru?" Tanya Ayah.

"Iya Pak, soalnya, ahya saya belum kasih tahu ya, InsyaAllah 3 hari lagi," Bang Afkar terdiam sejenak senyumnya di wajahnya hilang sejenak "Saya akan menikah" Senyum kembali terpancar di sambut hujan deras.

"Menikah?" Ayah,Ibu,Syarif,Kak Syahnaz, Pinky dan, aku. semua terkejut.

"Iya, dengan teman masa kecil saya di desa, mohon doanya Pak, Ibu"

Ayah dan Ibu mengucapkan selamat, Syarif juga memeluk Bang Afkar terharu mendengarnya, Kak Syahnaz juga tersenyum mengucapkan selamat. 

Tapi, Aku tertegun. Dunia terasa berhenti. Menikah?. Dia akan menikah?. Tanganku bergetar. Nampan yang berisi cemilan bergetar, aku berusaha untuk tidak membuatnya jatuh. Tapi air mataku sudah jatuh membasahi pipi. 

"Saya akan menikah" kalimat itu terus terngiang di telingaku di sertai suara guruh, siang itu hujan semakin deras. 

Aku merasakan sesak di dada, jantungku berdegup tak beraturan aku merasa pusing, dan dunia tiba-tiba terasa gelap.

"Milaaaaaa" teriakan Pinky hampir memecah ruangan, suara tangisnya masih samar  terdengar, tapi sayang aku tidak kuat untuk bangkit, rasanya seluruh tubuhku tak bertulang.

Sayup-sayup aku masih mendengar derup kaki berlari di lantai kayu rumah kami, dan suara bersaut-sautan memanggil namaku.

*Bersambung

Ep10 (End)

Jumat, 24 Maret 2017

My Story About You : Episode 8 ( Mendung )



Aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa kekhawatiran yang tak bisa ku terjemahkan ini. Perasaan yang terus berlarut-larut tanpa berani menegaskan per kata. Ini sudah lama terjadi.
Ketidakhadirannya bukan saja di festival, namun berlanjut berhari-hari.Sudah beberapa hari ini aku tidak pernah melihanya belanja di warung nasi keluargaku, juga sosoknya yang siap-siap berangkat ke kampus.

Aku tiba-tiba merasakan kehilangan. Tak sebaiknya aku merasakan hal ini, namun aku tidak bisa membohonginya. Semakin aku berusaha menghilangkannya semakin rasa khawatir itu terus menghantuiku.

Tak bosan-bosannya aku memandang di balik jendela kamarku, memandang rumahnya yang tampak sepi. Hujan gerimis ini seakan ikut menangisi ketidakhadirannya. 

"Telpon saja kalau khawatir" Saran Kak Syahnaz.

"Tadi sudah, tapi gak diangkat" Jawabku datar sambil tetap memandang rumahnya.

"Telpon rumah?"

"iya" 

"Ya ampun dek, telpon ke nomor pribadinya dong, atau chat gitu"

"Enggak ah, lagian aku gak punya" wajahku terasa panas.

Kakak menepok jidatnya, ia sudah kehabisan kata memujukku untuk tenang.

Mungkin ia memang ada urusan penting sampai tidak ada kabar. Sebenarnya ada kabar yaitu tak ada kabar. 

***

Hujan seakan enggan beranjak dari langit menambah rasa dingin dihatiku, ini sudah hari ke, aku bahkan sudah lupa menghitungnya.

"Besok pengumuman kelulusan, habis dari situ kita jalan-jalan yuk, trus kita bikin acara di rumahmu, barbeque gimana?" Pinky terus berusaha menghiburku yang dari tadi terus diam sambil meneruskan pekerjaanku.

"Boleh"

"Besok hari penentu kita lulus apa gak lho mila, kamu gak antusias?"

Aku diam sejenak meletakkan alatku dan mengambil nafas panjang.

"InsyaAllah aku yakin besok adalah hasil yang terbaik" jawabku sambil tersenyum, senyuman pertamaku setelah beberapa hari ini terus murung. 

"Aamiin" Pinky ikut tersenyum lebar.

Besok paginya hujan sudah mulai reda, udara paginya begitu menusuk tulangku. Ibu lebih ekstra mengingatkanku untuk tidak terlalu capek, jika sudah selesai agar segera pulang. Aku mengangguk mematuhinya. 

Aku mulai melangkah pergi, merapatkan jaket dan memperbaiki syal di leherku. 

Acara di sekolah berjalan lancar, hasil pengumuman mengatakan kami semua lulus, begitu terpancar wajah bahagia di setiap insan yang ada disana. Teman-teman, Guru-guru yang sudah berjuang mengajar dan memberikan motivasi, dan tidak ketinggalan kepala sekolah bahkan tukang sapu di sekolah kami pun ikut terharu, akhirnya yang biasanya menggoyangkan pohon agar daun berserakan lulus juga, berkuranglah beban kerjanya.

"Alhamdulillah kita lulus, dan siap-siap jadi anak kuliahan, yeeaayy" Pinky begitu ceria menikmati perjalanan pulang. Hari ini kami akan mengadakan syukuran kecil-kecilan, pinky lebih memilih ke rumahku daripada pulang ke rumahnya, dia hanya ditemani pembantu karena kedua orang tuanya ke luar kota.

"Oia , kamu jadi mendaftar bea siswa ke Jepang mila?"

"Sudah, hasilnya nanti dikabarkan, mudah-mudahan positif"

"Aamiin"

Kami terus melangkah pulang meninggalkan hiruk pikuk kegembiraan siswa-siswi yang lulus, kami tidak ikut mencore-coret baju. Kasihan, itu hasil jerih payah orang tua membelikannya, dan dcoret begitu saja, lebih baik disumbangkan karena masih ada orang yang belum mempunyai seragam sehingga malu untuk pergi sekolah.

Sejenak kekhawatiranku beberapa hari yang lalu sirna, walau hari ini masih mendung namun bukan berarti hujan.

Beberapa langkah lagi kami sampai di pagar rumahku, aku melihat ibu yang sedang melayani pelanggan dan tiba-tiba tersenyum bahagia menyambut seseorang.

"Siapa tu mila? kayaknya-"

"Bang Afkar?" 

Ia menoleh padaku, aku tidak bisa menahan wajah kagetku.

"Syarmila" Bang Afkar tersenyum padaku, tapi kali ini senyumnya berbeda. Gurat wajahnya terlihat lelah.

Ibu menegurku yang tidak beri salam ketika pulang. Aku hampir lupa akan hal itu karena sosok yang ada dihadapanku saat ini.
Aku ingin sekali bertanya kemana saja ia selama ini, apa yang terjadi padanya? Wajahnya tak bersinar seperti biasanya.

Mendung kali ini sepertinya juga ingin tahu.

*Bersambung 
Ep9 

Rabu, 15 Maret 2017

My Story About You : Episode 7 (Sosok yang bersinar di Festival)


Malu tapi mau.
Diam-diam aku menatap sekeliling kamarku. Perlahan melangkah ke ujung pintu kamar. Celingak-celinguk memastikan  tidak ada orang. Astaghfirullah, apa yang kulakukan.

Aku menutup pintu kamar dan menguncinya rapat. Berjalan menuju meja belajar lalu menarik kursi dan mencari posisi duduk yang nyaman. Aku membuka laci dan mengambil selembar photo.

Ya, itu photo yang pernah geger seantero kamarku.
Aku menatapnya dengan senyuman yang malu, ada rasa bersalah dan rasa senang. kamu tentu tahu maksudku. Aku masih malu tapi mau untuk mengakui.

Aku bingkai photo itu dengan bingkai photo yang sudah kubuat sendiri. Semoga ini bukan hanya sekedar pigura biasa.

"Syarmila, kamu ngapain pakai kunci kamar segala? Pinky sudah datang cepat kebawah?" 

"Ya bu?" Astaghfiirullah benar juga, aku harus siap-siap. Untung baju sudah disiapkan dan aku tidak hobi dandan, tinggal bedakan aja trus kasih parfum selesai. Tapi memattutkan diri dikaca sangat lama, mencari senyum-senyum terbaik jika bertemu dengan, ah sudahlah.

"Kamu kok lama banget sih? keburu siang acaranya" keluh pinky yang sudah menunggu dengan bergaya stylish."Kamu yakin pakaianmu cuman gitu aja?" goda pinky melihat penampilanku yang sederhana.

"Kenapa? memangnya ada masalah?" 

"lho masalah dong, kamu tu harus tampil lebih manis dihad-"

"Stop, yuk kita berangkat, bukannya kamu bilang kita udah keburu siang" 

Aku cukup tampil apa adanya diriku, daripada harus membuat hal yang bukan menjadi ciri khasku. Gamis jins dengan gaya baju monyet serta jilbab segi empat warna biru, itulah diriku. sederhana dan tidak neko-neko. Begitulah diriku, masih malu tapi mau untuk mengatakan inilah aku.

***

"Wuaaaahh.. ramai ya?" Pinky sudah bersemangat ingin menjajaki setiap stand yang ada di festival itu. "Kartumu mana mila? sini kita beli kue cilok disana, kayaknya enak"

"Tunggu sebentar" Aku sibuk krusak krusuk mencari kartu di tas mungilku.

"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?" Sapa salah satu penjaga stand tempat kami ingin membeli cilok.

"Mau beli cilok kak, dua eh lima aja deh"

"Baik,sebentar ya-"

"Gratis kan kak?" Tanya pinky sambil menunjukkan kartu VIP. walau dia anak orang berada jika ada makan gratis alias cuma-cuma ia tidak mau melewatkannya.

"Wah mbak nya punya kartu VIP, benar gratis kalau ada kartu ini, ngomong-ngomong dapat dimana?" Penjaga stand itu sedikit memelankan suaranya.

"Ra-ha-sia" Bisikku memotong pinky yang sudah mau memberitahu siapa.

Pinky menatap heran diriku dan penjaga stand tampak sedikit kecewa.

Setelah mengantongi cilok, pinky masih belum puas berjalan, ia mau beli minuman untuk pelepas dahaganya.

"Mila, itu bukannya poster yang kamu buat itu? berarti itu stand nya bang Afkar, ayok kita kesana"
Pinky menarik tanganku dan mengajakku berjalan lebih cepat.

"Pelan-pelan pinky" Aku berusaha mengatur nafas dan jantungku yang berdetak tak beraturan.

"Assalamu'alaikum kak," Sapa pinky. ia tidak ada capeknya masih tetap ceria.

Sedang aku masih ngos-ngosan dan sibuk mengatur nafas, tubuhku memang tidak sekuat tekadku.

"Wa'alaikumsalam, ada yang bisa dibantu?"

"Mau nanya ini beneran standnya bang Afkar ya kak? mahasiswa yang tampan itu lho yang kalo senyum bikin teman saya yang ini klepek-klepek"

Aku kaget, kenapa pinky bilang begitu. Tidak butuh waktu lama, aku langsung punya tenaga untuk mencubit pipinya.

"Duh sakit"

"Bang Afkar itu ketua panita festival, tapi ini juga standnya beliau, kalo mau tahu dia dimana cari aja di-"

"Hari ini dia tidak datang" tiba-tiba muncul sosok tinggi dengan tubuh seperti atletis, aku mengatakan hal itu karena tubuhnya yang gegap tapi tidak lebay. Laki-laki dengan menggunakan kemeja biru muda dan kaos putih didalamnya."Aku menggantikannya sebagai ketua panita, jika ada keluhan jangan sungkan bilang padaku" ia baru sadar jika ada kami yang masih termenung melihat kehadiranya.

"Adik-adik manis ini dari mana?"

"Adik-adik ini yang cari Afkar, zah" jawab kakak penjaga stand. ia pun kembali sibuk melayani pelanggan yang baru datang.

"Kalian mencarinya? ada urusan apa? owh...kalian fansnya ya?"

"Bukan saya kak, tapi teman saya ini syarmila" 

Aku kaget untuk kedua kalinya, lagi-lagi pinky menjual namaku. Aku sikut dirinya.

"Owh,,ini yang namanya syarmila?" wajah laki-laki itu tampak bersinar "Terimakasih untuk posternya, gambarmu bagus, tapi...rasa-rasanya gambar itu punya ciri khas mirip dengan komik yang suka Abang baca, apa ka-"

"Dia ini memang seorang komikus, komiknya yang terbit tiap hari kamis itu lho majalah Remaja" Pinky dengan semangat menjelaskan, aku hanya bagian tinggal senyumnya saja.

"MasyaAllah, Abang gak sangka bisa ketemu dengan Authornya langsung, boleh minta ttd nya? Abang juga punya buku komiknya" ia pun sibuk dengan mengambil buku didalam tasnya.

"Aku gak nyangka mila, gagah-gagah begini suka baca komik anak remaja" bisik pinky. 

"Hush" aku menyikut pinky. "komikku itu bukan komik biasa tau, semua orang boleh baca-"

"termasuk usia senja begitu?" tawa pinky geli. Aku juga ikut tertawa,

"Ini, silahkan ttd disini" 

"Oke"

"Boleh bikin 'Untuk Hamzah, semoga segera menikah' kan? terimakasih"

Aku yang sudah akan menggores pena diatas buku yang mulai kusam itu, tiba-tiba tertawa lepas. Tidak biasanya aku begitu.

"Mila?" Pinky menatapku heran. "Kamu ketawa? hahaha"

"Hahaha, lucu aja pinky, Eh maaf ya bang" tiba-tiba aku merasa tidak enak sudah menertawakannya.

"Haha, Gak masalah kok" Wajah laki-laki itu bahkan jauh lebih bersinar dari sebelumnya.

Aku malu tapi mau untuk mengatakan bahwa Abang yang dihadapanku ini,sungguh lucu, aku seperti melihat sosok Kak syanas di dirinya. 

Tapi, dimana Bang Afkar kenapa tidak datang? Kemana dia?. Aku ingin mengetahuinya dan bertanya pada Bang Hamzah tapi aku urung dan lebih memilih tertawa untuk satu hal ini 'Untuk Hamzah, semoga segera menikah'.

*Bersambung
Ep8


 

Minggu, 12 Maret 2017

Siapa Bertamu?

  

"Siapa Bertamu?"

Perjalanan melelahkan di sore hari. Mengayuh sepeda sambil memikirkan makanan apa yang hendak dimasak hari ini. Tidak dapat bertanya pada anak ataupun sang belahan jiwa. Kenapa? karena ia masih sendiri.
 

Tinggal di sebuah kontrakan kecil namun asri.
 

Dihalaman berbaris rapi bunga-bunga yang selalu ia sirami dipagi hari.
 

Dan Astaghfirullah ia belum menyiram bunganya sore ini.
 

Ia pun segera mengayuh sepeda lebih cepat.
 

Lajunya sepeda mengalahkan mamang sate yang berjalan berkeliling menjajakan dagangannya serta, sang Kakek bersama sang Nenek yang tengah berjalan bergandengan tangan.
 

Ia sekilas terharu melihat moment itu. Apakah dia jika sudah tua akan seperti itu.
 

Meringis hatinya, saat ini saja masih belum tau siapa yang menjadi.
Ah sudahlah.


Sesampai di rumah. Ia membunyikan bel sepedanya. Kring-kring bunyinya nyaring.

Walau sebenarnya tidak ada satu orang pun dirumahnya. tetangganya juga sedang tidak dirumah, liburan bersama keluarganya.

"Kamu sudah sampai?"

Suara itu membuat Amira, si perempuan pembalab sepeda tercengang.

"Kamu?" Amira tidak menyangka ia datang.

"Saya sudah nungggu lama, kenapa baru sampai?"

"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Amira malu pada pemuda itu sambil menundukkan pandangan. Duh, Bapernya Amira.

"Iya, ada paket untuk kamu, untung saya belum pergi karena ini paket terakhir yang harus saya antar hari ini, silahkan diterima"

"Owwhh.. Abang antar paket toh, kirain siapa? hehe, maaf ya Bang"

Amira..amira..nasibmu nak.

Sekian.

*Ada yang mengalami hal sebaper Amira?, atau bahkan lebih?

**Share cerita-mu dengan Allah ya.

***Semoga Amira dan juga kamu segera bertemu dengan jodohnya.

****Eh, Maaf tulisannya sedikit banyak ngelantur.


Salam Manis,


Author (isyarayle)

Apaka Dia Dimas?


Saat dipertemukan kembali.

Apakah dia Dimas?

Di perpustakaan kota. Ditengah ketenangan para pengunjung yang sedang asyik membaca .
 
Gadis berjilbab ungu yang sudah dua jam menunggu temannya, yang ada janji mengerjakan tugas penting, merasa bosan dan mencoba keliling ruangan pustaka yang begitu luas.
 
Saat sedang asyik berkeliling, Haninda menyadari sosok yang diduga Dimas yang kini tumbuh menjadi lelaki tampan dan aura kecerdasan yang tercium dari berpuluh-puluh meter,hanin menatapnya ketika dimas sedang mengenggam sebuah judul buku ilmiah yang bahkan hanin tak tertarik meliriknya karena pelajaran yang sangat berat. 

Haninda hanya bisa berpikir keras apa benar itu dimas teman nya waktu sd,tidak,lebih tepat dikatakan pesaing ia waktu sd dulu. Habis waktu beberapa menit kemudian,ia dengan mantap akan menanyakan apakah benar ia dimas atau bukan. 

Saat akan mendekati dimas,gelagat dimas menunjukkan ia sudah puas membaca beberapa isi dari buku itu dan ia berbalik mencari tempat lain,Gadis berjilbab ungu yang sudah mantap akan menyapa, tiba-tiba nyalinya ciut,kening berkerut,mulut cemburut mata menyipit saat ia harus menyaksikan hal yang lebih luar biasa lagi,orang yang diduga dimas itu menggandeng seorang muslimah yang juga habis meletakkan buku yang ia baca, sekilas terlihat menyambut gandengan dari dimas dan mereka saling lempar senyum, ditengah ketenangan pustaka Haninda mendengar sayup-sayup pembicaraan mereka.
 
“Yuk kita pergi cari makanan” ucap orang yang diduga dimas itu kepada wanita muslimah itu.
 
“Ayukk....suamiku..kebetulan adek lapar..mungkin calon bayi kita juga lapar” ucap wanita itu sembari mengelus perutnya yang sedikit buncit.
 
Haninda mundur tertatur.
 
“Hikkssss...dia sudah ada yang punya...hiksss”

*Kamu pernah mengalami hal serupa seperti Haninda?

**Ini hanya fiktif belaka, kesamaan tempat,peristiwa dan nama hanya kebetulan. Tapi yang namanya hidup tidak ada yang kebetulan, semua sudah dituliskan. Kalau begitu, kesamaan tempat, peristiwa dan nama mungkin sudah takdir.

***Jangan Abaikan jika tidak suka.